URUSAN ibadah, termasuk umroh, apalagi mendapat kehormatan dan anugerah bisa masuk ka’bah, sebenarnya urusan privat. Urusan mahluk dengan sang Khalik. Namun karena peristiwa itu dibuat heboh seheboh-hebohnya oleh pendukung Jokowi, apa boleh buat kita harus komentari.

Sangat jelas peristiwa itu dihubung-hubungkan oleh para pendukungnya sebagai komiditas kampanye politik. Apalagi melihat kebiasaan Jokowi yang sering “memamerkan” kemampuannya menjadi imam salat, sulit untuk mengabaikan dugaan, spekulasi, peristiwa ini merupakan umroh politik.

Sebuah media bahkan mendramatisir momen tersebut sebagai peristiwa penuh mistis. “Petir menggelegar ketika Presiden Jokowi masuk Ka’bah,” begitu judul sebuah media.

Yusuf Mansur salah satu pendukung Jokowi langsung memposting foto-foto Jokowi bersama keluarga ketika akan .masuk ka’bah. “”Bismillaah. Kita, keluarga kita, anak keturunan kita, ada yg bs masuk ke dalam Ka’bah dan ke area dalam Makam Nabi. Bismillaah walhamdulillaah,’ cuit akun@yusufmansurnew.

Yusuf juga minta agar netizen tidak iri hati, apalagi dengki. “Daripada pada julid, hehehe. Mending doa. Jarang-jarang liat pemandangan kayak gini. Bersiin ati. Ga rugi berdoa. Dan ga rugi mendoakan yang lain,” tambahnya.

Memang tidak pada tempatnya kita iri apalagi lagi dengki. Namun karena umroh ini dilakukan pada hari tenang, hanya dua hari menjelang pencoblosan, apalagi dibuat viral, wajar kalau kemudian banyak netizen yang mengomentari.

Kalau melihat rangkaian kegiatan selama di Arab Saudi, salah satunya bertemu Raja Abdul Salman, maka ini merupakan kegiatan kenegaraan. Dibiayai oleh negara.

Ketika kegiatan kenegaraan dipakai untuk kampanye, diberi narasi yang berlebih-lebihan, dihubung-hubungkan dengan kesalehan Jokowi, jelas tidak pas.

Kita sendiri sebenarnya tidak pada tempatnya menyinyiri. Soal ibadah adalah urusan Jokowi dengan Allah SWT. Soal niatnya apa. Apakah ada niat pamer, ria, atau motif politik lainnya, biarkan itu menjadi urusan dia dan Allah SWT.

Kita cuma bisa mengingatkan : hati-hati bermain-main dengan agama. Hati-hati bermain-main dengan rumah suci Allah.

Jokowi bisa saja membohongi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh dunia. Tapi tidak bisa dia membohongi Allah SWT.

Berhasil masuk ka’bah apabila niatnya tidak lurus, malah bisa jadi musibah. Contohnya tidak jauh-jauh. Mantan PM Malaysia M Nadjib Razak pada bulan Februari 2018 juga melakukan umroh. Karena statusnya seorang kepala pemerintahan dia mendapat fasilitas masuk ke ka’bah.

Dua bulan kemudian pemilu Malaysia berlangsung. Semua lembaga survei mengunggulkannya. Namun Nadjib terjungkal dari kekuasaannya. Dikalahkan politisi yang pernah menjadi mentornya Mahathir Mohammad. Pada bulan Mei Nadjib masuk penjara karena kasus korupsi 1MDB.

Setting peristiwanya persis seperti Jokowi yang sedang berjuang mempertahankan kekuasaannya.

Kita tentu tidak mendoakan sesuatu yang buruk untuk Jokowi. Hanya saja sekali lagi kita mengingatkan agar hati-hati bermain-main dengan ibadah. Apalagi bermain-main dengan ka’bah, rumah Allah SWT.

[ Oleh : Nasruddin Djoha, adalah Wartawan Senior Indonesia ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com