ANDA mencari rezeki dengan keringat sendiri. Kerja keras siang-malam. Suatu ketika, uang Anda terkumpul dan cukup untuk membeli mobil baru. Anda pun mendatangi toko (dealer) mobil terdekat. Dibayar tunai.

Mobil baru itu Anda bawa keluar toko. Di satu persimpangan jalan, Anda dicegat oleh sejumlah orang yang berperawakan sangar. Hampir semua mereka bertato. Hanya satu-dua yang tampak rapi. Sebagian besar mereka yang mencegat itu, Anda kenal. Walaupun tidak kenal baik. Anda tahu mereka sudah sering keluar-masuk penjara.

Mereka memaksa Anda turun dari mobil yang baru Anda beli dengan uang yang seratus persen halal. Mereka katakan, “Ayo, serahkan mobil ini. Ini kami punya.”

Nah, bagaimana kira-kira Anda mendeskripsikan peristiwa ini?

Saya menyebutnya ‘perampokan oleh residivis’. Sebagian besar perampoknya bukan ‘first time criminal’. Bukan penjahat baru. Mereka adalah orang-orang yang sudah terkenal bermental perampok. Memang ada satu-dua yang baru mencoba-coba ikut merampok.

Mobil baru Anda itu sekarang dibawa gerombolan perampok residivis itu. Anda mencoba tenang. Akhirnya jumpa kantor polisi. Anda ceritakan peristiwa itu kepada Pak Polisi. Pengaduan Anda diterima. Cuma, prosesnya tak tampak berjalan.

Seorang wartawan yang bertugas di kantor polisi bertanya kepada Anda tentang perampokan itu. Anda menjawab, “Saya akan menunggu proses hukum yang ditangani oleh polisi.”

Anda memang orang yang sangat baik. And tidak menyuruh puluhan anak-buah asuhan Anda yang bertubuh kekar-berotot, dan semuanya sudah mencapai Dan-8, untuk mengejar para ‘perampok residivis’ itu. Anda bersabar menunggu proses hukum.

Astaghfirullah! Tiba-tiba saya tersentak. Rupanya tadi saya terlalu banyak membayangkan hasil ‘quick count’ pilpres 2019 yang diumumkan oleh sejumlah televisi. Yang saya tidak habis pikir, mengapa saya sampai menerawangkan pikiran ke kisah ‘perampokan oleh residivis’?

Apakah pikiran saya sekarang tercengkeram oleh para residivis itu? Atau, mungkinkah ini disebabkan oleh susana yang terlanjur telah didominasi oleh para perampok residivis?

Entahlah. Yang saya tahu, memang banyak perampok yang pintar bergaul dengan masyarakat sehingga mereka tercitra sebagai orang baik. Dan hasil rampokannya pun diterima sebagai rezeki yang halal oleh warga yang mengagumi para perampok residivis itu.

[ Oleh : Asyari Usman, adalah Penulis wartawan senior ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com