NEGARA Indonesia adalah negara yang besar. Dihuni oleh Bangsa yang besar pula. Sejarah menuliskan cerita tentang kepahlawanan yang menggetarkan sanubari. Dan semangat kepahlawanan itu menyuntikkan rasa nasionalisme yang tinggi. Sehingga kita akhirnya teringat bahwa kemerdekaan dan kejayaan itu diraih tidak dengan uang, tidak dengan senyuman atau dengan uluran tangan. Namun dengan DARAH, KERINGAT DAN AIR MATA. di situlah pahlawan lahir dan terus dibicarakan turun temurun sampai ke lintas generasi.

Bagaimana kita mengingat Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Agung, Teuku Cik Ditiro, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, Bung Tomo sampai ke pahlawan revolusi Ahmad Yani, Tendean ke pahlawan reformasi seperti Elang Lesmana atau Yun Hap. Tidak ada cerita yang nyaman dalam narasi mereka dan mereka semua meninggalkan kita meski belum sempat merasakan perjuangan mereka. Itu yang dinamakan berkorban untuk bangsa. Berkorban untuk generasi selanjutnya. Berkorban untuk orang lain yang bahkan tidak dikenalnya. Itulah esensi dari menjadi pahlawan.

Saya teringat waktu itu ikut rapat dengan BPN pada bulan Agustus 2018. Ketika dalam rapat itu ada satu teman saya yang sibuk sendiri. Rupanya dia menerima telepon dari Erick Thohir, Ketua Panitia INASGOC 2018. Setelah telp itu terputus, teman saya langsung sibuk menelepon penghubung pak Sandi. Misinya pada saat itu adalah, Erick Thohir panik, karena perolehan emas Indonesia sudah mulai menipis. Indonesia berharap banyak dari pencak silat.

Di situ lah peluang untuk memanen medali emas kembali. Erick tidak ingin malu dihadapan Jokowi. Gemuruh gempita pembukaan Asian Games 2018 tidak sebanding dengan kemenangan Indonesia di pentas pencak silat. Oleh karena itu Erick Thohir mencoba menghubungi Pak Prabowo sebagai Ketua Umum IPSI melalui Sandi. Dan Sandi berhasil menyampaikan kegelisahan Erick Thohir sobat nya ke Pak Prabowo. Saya tidak tau persis jawaban pak Prabowo saat itu, yang pasti teman saya yang menjadi penghubung Eddy Prabowo, Ketua Harian IPSI dan manajer kontingen pencak silat Indonesia seolah-olah mendapatkan amanah tambahan.

Tim nya jadi makin sibuk dan semangat, namun tetap fokus. Hasilnya seperti yang kita ketahui bersama Indonesia meraih 14 medali emas menjadikan Juara umum pencak silat di Asian Games 2018. Dan kita masih teringat momen pelukan Prabowo, Jokowi dan Hanifan yang menyejukan tensi politik pada saat itu.

Pada saat ini, kita seperti tim pencak silat Asian Games 2018. Pak Prabowo sudah memberi arahan yang jelas, yaitu jaga dan kawal C1 kita semua. Bukan untuk mengamankan suara capres 02. Namun untuk mengamankan demokrasi. Surat suara adalah wujud dari kedaulatan rakyat. Kalah menang itu hal biasa bagi Prabowo yang berlatar belakang olahraga. Namun ketika dicurangi itu hal yang berbeda. Berulang kali Prabowo memiliki pilihan untuk berbuat langkah yang inkonstitusional. Namun langkah itu tidak pernah diambilnya. Karena Prabowo mengerti betul esensi nilai kejayaan diraih dengan pengorbanan, bukan dengan jalan pintas.

Pihak lawan berusaha untuk melunturkan usaha dan semangat kita. Melalui media yang dimiliki, uang yang masif, hacker yang meneror dan oknum-oknum yang memecah belah kita semua. Berusaha menebar hoax yang mengatakan kita semua sedang bermimpi. Itu adalah cobaan bagi kita semua.

Sekarang saatnya kita semua menjadi Prabowo-Prabowo kecil yang mengerahkan seluruh kemampuan dan kapasitas demi bangsa ini. Menjaga suara pemilu di tiap lapisan proses nya. Mencari C1 yang hilang. Mengumpulkan semua bukti-bukti kecurangan. Kita kerahkan semua niat, tekad dan itikad kita semua demi bangsa ini. Demi generasi setelah kita. Demi anak cucu kita. Dan sejarah akan mencatat bahwa kita semua telah berhasil menegakkan kedaulatan rakyat. Seperti pidato Bung Tomo yang membakar semangat arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945.

“Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.”

“Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.”

“Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga.”

“Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!”

[ Oleh : Frank Wawolangi, adalah wartawan senior indonesia ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com