“GURU kencing berdiri, murid kencing berlari” adalah pepatah Melayu yang menggambarkan keteladanan yang buruk dari orang tua kepada anak-anak. Dari pejabat kepada rakyat, dsb. Peringatan keras dari pepatah ini adalah bahwa bila Anda memberikan contoh buruk, maka kaum kerabat Anda akan melakukan perbuatan yang lebih parah.

Pepatah ini sekaligus berfungsi sebagai kritik terhadap orang-orang yang mencontohkan tindak-tanduk yang tercela.

Sejak dua tahun ini, atau malah lebih jauh ke belakang, kita saksikan banyak sekali ‘guru bangsa’ yang kencing berdiri. Di mana-mana. Hampir di setiap pojok Istana, kantor kementerian, kantor DPP parpol, di kantor-kantor media massa besar, di stasiun-stasiun televisi, di markas polisi, kantor-kantor gubernur dan bupati, di lembaga-lembaga survey, dlsb.

Bau pesing di mana-mana, khususnya di ruang yang sedang di huni oleh para ‘murid bangsa’. Di ruang yang amat pesing itu, para murid bangsa sedang tekun mendengarkan pelajaran tentang Pancasila dan demokrasi. Sambil tutup hidung sebisanya, para murid bangsa berusaha memahami uraian tentang prinsip-prinsip pokok yang diperlukan dalam upaya membangun sebuah bangsa yang manusia-manusianya kuat, berintegritas, berkahlak mulia, jujur, dan adil.

Megap sekali. Para murid bangsa kelujutan untuk memahami pesan-pesan mulia yang diuraikan oleh seorang guru kelas (bukan guru bangsa). Alhamdulillah, dia masih belum ikut kencing berdiri.

Para murid bertanya kepada guru kelas, mengapa Pancasila dan demokrasi sangat tidak enak aromanya, hari-hari ini? Pak guru kelas menjawab bahwa Pancasila dan demokrasi sebetulnya wangi. Tetapi, gara-gara banyak guru bangsa yang kencing berdiri di mana-mana dan berserakan, walhasil kedua sumber ilmu berbangsa dan bernegara itu pun ikut pesing juga.

Para murid bangsa lanjut bertanya. “Pak Guru, hari ini siapa-siapa sajakah para guru bangsa itu?”

Pak Guru menjawab, “Banyak sekali, nak.”

“Apakah semua mereka sedang kencing berdiri, Pak?”

“Tidak semua. Sebagian besar,” kata Pak Guru. “Terutama guru-guru bangsa yang sedang menguasai negara ini. Rata-rata mereka sedang kencing berdiri.”

Pak Guru kelas benar sekali. Para guru bangsa yang memiliki kekuasaan untuk mendiktekan kehendak mereka, hampir semua kencing berdiri. Di musim pemilu ini, teladan kencing berdiri semakin menjadi-jadi.

Akibatnya, seluruh Indonesia sedang pesing. Sebab, ada 820 ribu TPS yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Semua mereka kencing berdiri di situ. Para guru bangsa membawa ‘urine’ di dalam amplop putih. Di bagi-bagikan kepada orang-orang yang akan menunaikan hak demokratisnya di TPS. Sebagian pemilih santun, yang tak biasa kencing berdiri, akhirnya terikut perilaku para politisi yang menyerakkan urine amplop mereka.

Murid-murid bangsa saat ini sedang menyaksikan para guru bangsa yang berkeras tak mau kalah pilpres. Para guru bangsa ini tetap ingin berkuasa terus. Tapi dengan cara-cara yang curang. Demokrasi mereka kencingi sambil berdiri. Begitu juga butir-butir Pancasila yang selama ini mereka gembar-gemborkan.

Penghitungan suara pilpres menjadi pesing sampai ke langit. Para politsi yang sedang berkuasa, menunjukkan kepada murid bangsa tentang bagaimana cara mengencingi demokrasi dan Pancasila sambil berdiri. Bagaimana cara mencurangi penghitungan suara.

Para politisi itu kemudian memaksa atau membujuk orang-orang di KPU agar kencing berdiri juga. Agar memberikan contoh kepada murid bangsa yang sedang duduk di bangku sekolah tentang cara membantu para kontestan pemilu agar bisa menang curang. Alias menang dengan cara kencing berdiri.

Begitulah adegan murid bangsa yang sedang menyaksikan guru-guru bangsa yang mengencingi TPS. Menyaksikan mereka mengutak-atik suara pemilih.

Untunglah masih ada beberapa guru bangsa yang mengikuti kontestasi pemilu 2019 ini dengan tidak mencontohkan kencing berdiri. Khususnya guru bangsa yang bertarung di pilpres dengan reputasi, integritas, kejujuran, dan nilai-nilai luhur lainnya. Seandainya tidak ada beliau yang mencontohkan ‘kencing tak berdiri’, pastilah para murid yang ada di kelas hari ini akan kencing berlari semua.

Tetapi, ‘kencing tak berdiri’ di tengah semua penguasa yang ‘kencing berdiri’, memang berisiko. Berisiko dicurangi. Bahkan dimusuhi.

Sebab, para pemiliki kekuasaan yang kencing berdiri itu sebagian besar sudah tidak paham lagi etika berdemokrasi. Mereka mengganti integritas dengan prinsip ‘semua halal’. Merampok kemenangan lawan tanding adalah hal yang biasa bagi mereka.

Semoga guru-guru bangsa yang berkepribadian bersih dan lurus, akan tetap menjadi refrensi murid kelas yang sedang belajar hari ini. Agar mereka menahan diri untuk tidak ‘kencing berlari’ meskipun 24 jam dipertontonkan para ‘guru yang kencing berdiri’ itu.

[ Oleh : Asyari Usman, adalah Penulis wartawan senior ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com