SABTU (20/4/2019) malam, jam 21.35. Saya bersama Ustadz Sambo, di kediaman Pak Amien Rais, membahas ramainya dunia maya, terkait rencana Prabowo bertemu Luhut Binsar Panjaitan, Minggu (21/4/2019). Isu wacana pertemuan itu sendiri sudah mencuat sejak Jumat (19/4/2019).

Mayoritas relawan 02, menolak keras pertemuan itu. Alasannya macam-macam. Mulai dari yang aneh-aneh terkait dunia mistik sampai ke persoalan pribadi. “Prabowo itu gampang tersentuh, mudah memaafkan,” begitu kata para sahabatnya.

Ada juga relawan yang agak keras menanggapi rencana pertemuan itu. “Gua gak rela Pak Prabowo ketemu LBP. Kita kan sudah berjuang, dan kita sudah menang. Jadi, ngapain ada pertemuan itu?”

Penolakan juga dilakukan oleh MS Kaban, Majelis syuro partai PBB. Lewat telpon pada ustadz Sambo: “Jangan sampai terjadi pertemuan itu. Pak Prabowo kan Presiden terpilih oleh mayoritas rakyat, jadi gak pas lah beliau ketemu LBP. Sampaikan ya!”

Coba tengok, sebelum ada pertemuan itu saja, gorengannya sudah sedemikian dahsyat. Puncak gorengannya adalah seolah Prabowo mengakui kemenangan Jokowi. Lalu, dimunculkanlah foto tahun 2014, Prabowo sedang bersalaman dengan Jokowi untuk memperkuat gorengan itu. Bagaimana lagi jika pertemuan itu terjadi?

Jadi, disadari atau tidak, pertemuan itu memang punya dampak yang kurang baik bagi para pendukung. Moral pendukung bisa runtuh. Prabowo adalah simbol perlawanan untuk perubahan. Rakyat sendiri memilih Prabowo untuk merebut perubahan. Jika Prabowo akhirnya memilih bertemu juga dengan LBP, maka semangat rakyat yang sedang menyala, bisa langsung padam.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana emak-emak yang sudah mengorbankan segalanya untuk perjuangan ini. Saya tak sanggup membayangkan wajah Rizal, seorang montir dari Padang dan Rizal-Rizal lainnya. Para purnawirawan, guru-guru honorer yang berharap perubahan tiba-tiba kehilangan segalanya. Jadi, sekali lagi, sebaiknya Pak Prabowo membatalkan pertemuan itu demi menghormati 63 persen rakyat yang telah mendukungnya.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah…

Kami menyerahkan diri dalam segala urusan kepada Allah Ta’ala. Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu selain kehendak Allah.

[ Oleh : M.Nigara, adalah wartawan senior Indonesia ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com