APA yang bisa disimpulkan dari kejahatan pemilu yang sedang berlangung saat ini? Apa yang sedang terjadi? Mengapa KPU melakukan salah input (salah ketika) yang jumlahnya sampai puluhan ribu kali ketika memasukkan data C1 ke dalam tabulasi mereka? Mengapa KPU tidak lagi menghiraukan protes masyarakat?

Mengapa ada semacam konspirasi untuk memaksakan agar rakyat menerima bahwa Prabowo kalah dalam pilpres 2019 ini?

Jawabannya sangat singkat. Sangat mudah dipahami. Gamblang dan lugas. Yaitu, pada saat ini sedang berlansgung pertarungan antara ‘yang haqq’ lawan ‘yang bathil’. Pertarungan antara yang benar lawan yang salah; antara kekuatan putih versus kekuatan hitam.



Jadi, bukan lagi pertarungan antara dua capers. Pertarungan antara kedua capres hanya sebagai representasi saja. Yang sebenarnya terjadi adalah pergelutan antara kubu yang baik lawan kubu yang jahat. Ke sinilah kita tergiring untuk mengambil kesimpulan.

Kontestasi yang semula diharapkan sebagai ajang persaingan politik yang sehat, sekarang bergulir semakin jelas menjadi pertarungan antara ‘righteous force’ (kekuatan baik alias Yang Haqq) lawan ‘evil force’ (kekuatan jahat alias Yang Bathil). Inilah kesimpulan yang paling tepat.

Tidak ada gambaran lain yang lebih cocok kecuali pergelutan Yang Haqq lawan Yang Bathil. Itulah yang sedang berhadap-hadapan hari ini di pilpres 2019.

Lalu, siapakah Yang Haqq itu? Dan siapa pula Yang Bathil?

Ini pun sangat jelas. Yang Haqq adalah kubu umat Islam ‘garis lurus’. Yaitu, umat yang selalu damai dan tertib namun selalu ditindas. Umat yang hanya menuntut keadilan bagi semua, tetapi mereka dikhianati dan dipojokkan. Umat yang menghormati kebinekaan dan toleransi. Sedangkan Yang Bathil adalah para penguasa zalim, orang-orang munafik, para koruptor, konglomerat hitam, penjahat ekonomi-bisnis, bandit-bandit pertambangan, plus penganut aliran sesat. Inilah persekutuan Yang Bathil.

Tetapi, apakah kekuatan Yang Haqq akan selalu menang?

Dalam cacatan sejarah pertarungan antara Yang Haqq dan Yang Bathil, yang pasti menang adalah Yang Haqq. Kemenangan itu bisa dalam arti Yang Bathil tumbang dan hancur. Bisa pula menang dalam arti para pejuang Yang Haqq turun bertarung dengan landasan iman dan moral yang kuat, tetapi mereka kalah secara fisik. Mereka gugur di jalan Allah. Mereka menjadi syuhada. Ini juga kemenangan. Bahkan, dalam kajian hakikat, inilah kemenangan yang sesungguhnya.

Sebaliknya, Yang Bathil pun bisa menang secara fisik tetapi kemenangan mereka adalan kejayaan di jalan syaithon (setan) yang sifatnya sementara dan rapuh. Kebathilan tidak akan pernah bisa bertahan.

Wa qul jaa al-haqq, wa zahaqal baathil. Inna al-baathila kaana zahuqa. “Dan katakanlah, kebenaran itu telah datang dan kebathilan (kepalsuan) telah lenyap. Sesuggunya, yang bathil itu pasti akan sirna.”

Itulah jaminan dari Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Perkasa, Allah Subhanahu wa Ta’aala, al-Qawiyy al-‘Aziz.

[ Oleh : Asyari Usman, adalah Penulis wartawan senior ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com