RAKYAT Hongkong, Taiwan, dan Vietnam yang notabene memiliki ras yang nyaris sama, yaitu Cina, melawan ‘invasi’ RRT. Mereka meradang, bergolak menentang dan melawan dominasi leluhurnya. Hongkong dan Taiwan masih terus membara, sementara Vietnam telah sukses mengusir Cina.

Jutaan orang turun ke jalan di Hongkong, nyaris sama membludaknya seperti saat mereka memprotes penumpasan demo di Tiananmen 1989, kebetulan kala itu saya ada di Hongkong bersama dengan tim nasional PSSI.

Hal yang sama juga dilakukan rakyat Taiwan. Mereka malah bersiap mengikuti langkah Vietnam yang sukses mengusir para pendatang Cina dari negerinya.

Kita? Tidakkah kita khawatir? Tidakkah kita rasakan adanya ancaman itu? Atau, akankah kita biarkan semuanya terjadi tanpa apa pun yang dapat kita lakukan?

Tulisan ini bukan untuk membangkitkan gerakan rasisme anti Cina. Tapi sekadar mengingatkan akan ancaman nyata itu. Kita tahu bahwa mayoritas bisnis besar, menengah, dan kecil dikuasai oleh Cina, utamanya pendatang dari Cina daratan.

Sekali lagi, saya pastikan, saya tidak rasis. Sahabat saya yang keturunan Tionghoa, banyak. Dua di antaranya: alm. Benny Moelyono, mantan manajer tim nasional sepakbola yang membawa Indonesia nyaris lolos ke Piala Dunia 1986 di Meksiko, dan wartawan serta fotographer Tempo-Berita Buana, Robin Ong yang akrab kami sapa Acong.

Ke-Indonesiaan keduanya, tidak pernah diragukan. Dalam banyak kasus, keduanya malah sering terkesan terlalu militan dalam membela Indonesia. Bahkan ketika terjadi penumpasan para pendemo di lapangan Tiananmen, Beijing 1989, keduanya memaki-maki pemerintah Cina sebegitu rupa.

Tapi, jika sekarang saya meradang dengan Cina, itu bukan berarti saya anti dengan Tionghoa. Saya mengutip kata-kata ayah saya, Sersan Mayor TKR, Zaenal Abidin. “Cina atau Tiongkok itu yang ada di sana (di Cina daratan), sedangkan yang ada di sini (khususnya yang berkewarganegaraan Indonesia) adalah Tionghoa!” Definisi ini sangat mungkin bisa tidak tepat, tapi saya menghormati pandangan ayah saya itu.

Meski pemerintah mati-matian membantah, tapi info yang berseliweran di medsos, para pendatang Cina diindikasikan sudah ada di sini. Bahkan konon jumlahnya juga sudah sangat fantastis. Ada yang menyebut angkanya jauh lebih banyak dari keberadaan para TKI dan TKW di Malaysia (memang masih perlu dibuktikan). Bedanya TKI dan TKW ini pasti tidak akan jadi ancaman bagi pemerintahan dan warga negara tetangga itu. Pemerintah Indonesia sejak Bung Karno, Pak Harto, SBY, hingga Jokowi, pasti tidak punya keinginan untuk invasi, mungkin juga karena tidak memiliki kemampuan, hingga ancaman itu bisa disebut nol besar.

Sementara tidak demikian untuk para pendatang dari Cina. Pemerintah Cina menampakkan sikapnya, khususnya di bawah Xi Jinping yang menganut One China. Ia menganggap semua orang Cina dan keturunan Cina di mana pun berada adalah warga negaranya. Mereka patut dilindungi. Selain itu, garis atau hasrat Cina untuk melakukan invasi, sangat jelas. Artinya, dapat dimaknai jika terjadi sesuatu dengan para pendatang Cina di sini, Xi Jinping pasti tak sungkan membelanya.

Dari info yang berseliweran, para pendatang Cina di sini kabarnya banyak yang berbasis tentara. Mereka masuk sebagai pekerja, bersama proyek infrastruktur yang 80 persen memang dikuasai Cina. Kita tentu juga masih ingat dengan kasus tiang pancang beton dari Cina yang berisi sabu kristal berkilo-kilo gram, pada Juni 2016. Jadi, bukan tidak mungkin senjata-senjata juga bisa diselundupkan dengan cara yang senada.

Sejarah Cina mencaplok Nepal dan Angola, juga diawali dengan hal yang sama. Tidakkah kita mau berpikir dan tersentuh dengan fenomena itu? Secara teori, Cina bisa membangkrutkan pemerintah Indonesia jika kita mengalami kesulitan dalam mencicil hutang.

Angka hutang RI ke Cina, seperti yang beredar di medsos, dikatakan sebesar Rp 5000 triliun. Kiranya ini adalah ancaman paling konkret. Masihkah kita ingin tenang-tenang saja menyaksikan semua itu? Tidakkah ada kegelisahan yang menyesakkan dada?

Jika rakyat Hongkong, Taiwan, dan Vietnam berani bergerak melawan invasi Cina maka di mana posisi kita sebagai rakyat Indonesia? Andalah yang bisa menjawabnya!

[Oleh : M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com