KONDISI pasca pilpres 2019 terasa sangat panas beberapa minggu ini, inilah keadaan dimana mapping atau perencanaan politik saling beradu nyata setelah lama dibahas dan dipersiapkan oleh pakar strategi masing-masing kandidat.

Kita semua tahu politik itu adalah kondisi dimana seseorang harus bertindak di waktu yang tepat dengan issu yang benar dan cara yang terencana, semua peluang terjadi telah dipersiapkan secara matang.

Saya tidak akan membahas kesalahan jokowi atau prabowo di tulisan ini karena bagi saya kedua duanya bukanlah kandidat sempurna yang bisa membuat saya aman di dunia apalagi di akhirat.

Tidak ada manusia yang sempurna di mata manusia, orang yang secara sengaja “mewakafkan” dirinya kepada public, harus siap dengan penilaian ketidakpuasan public, karena dia telah menerima konsekuensi dirinya digaji oleh public.

Tapi bukan itu bahasan kita, pertanyaannya.. cukup bertanggung jawabkah kita dengan kendali media social kita hari ini. Ikut memviralkan kesalahan salah satu kandidat di media social, atau sekedar memforward berita atau meme orang lain yang pro kesalah satu kandidat akhir-akhir ini menjadi trend yang memenuhi hampir seluruh media social kita di tanah air.

Saya tidak akan mengkonotasikan benar itu menjadi salah karena banyaknya pendukung, atau menyalahkan yang benar itu karena itu dikasuskan oleh penguasa, itu bukan ranah kita berbicara ikut-ikutan dan secara teknis itu tidak akan berguna untuk membuat kendali birokrasi ini berubah cepat.

Kenapa kita tidak mulai berfikir untuk lebih arif melihat bahwa presiden itu presiden kita, membuka aibnya seperti membuka aib kita, memojokkannya hanya akan membawa kerusakan yang lebih besar karena kita melawan system pertahanan Negara yang dirancang untuk memproteksi orang paling berkuasa di Negara kita.

Sikap kita yang terlalu berlebihan akan membawa mudharot kepada kita lebih besar daripada manfaat tujuan kita. Usaha kita dalam berjuang kelak tetap akan dimanfaatkan oleh partisan lain yang lebih dekat dengan penguasa untuk mendapatkan kepentingan mereka.

Politik akan selalu melupakan kepahitan perjuangan setelah tujuannya tercapai, yang akan melahirkan komunitas sakit hati karena beban waktu, usaha dan energinya sudah habis dimasa sebelumnya.

Orang-orang baru dengan energi, dan penawaran yang jauh lebih besar akan menjadi competitormu mendekati sang pemenang, tapi aroma semerbakmu tak lagi sama seperti dulu, dirimu akan hilang tergerus kekuatan kepentingan orang-orang yang paling berhutang dimasa berjuang.

Politik tetap akan menyandera siapa saja yang masuk tanpa melihat kau politisi agamis atau idealis, pergerakan yang kau lihat adalah sesuatu yang sudah terencana dan bukan tiba-tiba tidakkah kita sadar mereka adalah pergumulan pakar yang tiap hari membahas dan melewati kondisi paling pahit dalam sebuah pilihan politik, semuanya itu terencana saudaraku…

Perubahan besar itu kalau kau sudah mampu menjaga dirimu dan keluargamu dari keburukan dunia dan akhirat dengan kerangka yang lebih luas.

Apakah itu urusan agamanya, lahiriahnya, pendidikannya, pergaulannya, ahklaknya, atau cara dia memahami prinsip beragama dan berlaku social.

Di hari ini bukan hal yang sulit menemukan orang yang memakai jubah agama tapi sangat buruk dalam berahklak, namun bukan menjadi alasan menjadikannya parameter kita untuk tidak memperbaiki urusan agama kita masing-masing, bodohlah kita jika dalam urusan akhirat senantiasa memposisikan standar terendah dalam beribadah toh itulah sebenar-benar tujuan.

Sebagai kesimpulan saya hanya hanya ingin menyampaikan berhenti untuk mengolok olok siapapun presiden kita, karena semuanya akan menjadi beban kita setelah mati, kalau dia curang bukankah dia akan mendapati kemurkaan Allah di dunia sebelum diakhirat karena kecurangannya, kenapa kita menjadi peragu.

Kalau dia suka membuat hoax diapun akan menerima kemurkaan Allah atas kebohongannya di dunia sebelum diakhirat.

Kita hanya kurang bersabar, dan terlalu cepat dalam mengharapkan balasan doa, doakan saja kebaikan kepada pemimpin kita, berharaplah siapun yang menang adalah yang terbaik dan jauhkan dirimu dari melawan secara frontal, saya adalah pimpinan media HistoryIndonesia(titik)id kalau kau mencoba menshare dari web media diatas ke facebook, itu tidak akan bisa karena media saya menjadi salah satu media yang di blok dari pihak facebook karena regulasi aturan pemerintah terhadap medsos, namun apakah membuat saya harus geram, marah dan memaki-maki pemimpin negeri ini mungkin ini membuat saya lebih bijak dalam memberikan konten yang lebih bermanfaat kedepan.

[Oleh: Aksam S. Tunggeng. Penulis adalah Aktivis Jurnalis, dan Pimpinan Media HistoryIndonesia.ID]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com