APABILA ingin mengetahui bagaimana investigasi dua jurnalis berhasil membongkar sebuah hoax yang sengaja dibuat demi membenarkan kebijakan penguasa, maka silakan menonton film “Shock and Awe” garapan Rob Reiner tahun 2017.

Sukma film “Shock And Awe” serupa tapi tak sama dengan “All The President’s Men” tentang investigasi dua jurnalis Washington Post yang berhasil membongkar kebusukan skandal Watergate yang akhirnya melengserkan Presiden Richard Nixon.

Hanya beda bahwa yang terobrak-abrik oleh hoax di dalam film “Shock And Awe” bukan dalam negeri tetapi luar negeri Amerika Serikat. Di dalam film garapan Rob Reiner itu dikisahkan bahwa kepemerintahan masa presiden George Bush Jr. sengaja membuat hoax demi membenarkan kebijakan agresi penyerbuan Tentara Nasional Amerika Serikat ke Irak mulai tahun 2003.

Meski dampak kemanusiaan hoax terhadap Irak sebenarnya jauh lebih parah, namun Bush Junior tidak dilengserkan seperti Nixon.

Hoax

Intisari film ”Shock And Awe” berlandaskan tulisan komentar Prof. John Walcott, editor Reuters untuk kebijakan luar-negeri dan sekuriti nasional sebagai berikut :

“Most of the administration’s case for that war made absolutely no sense, specifically the notion that Saddam Hussein was allied with Osama bin Laden. That one from the get-go rang all the bells — a secular Arab dictator allied with a radical Islamist whose goal was to overthrow secular dictators and reestablish his Caliphate? The more we examined it, the more it stank. The second thing was rather than relying entirely on people of high rank with household names as sources, we had sources who were not political appointees. One of the things that has gone very wrong in Washington journalism is ‘source addiction,’ and the idea that in order to maintain access to people in the White House or vice president’s office or high up in a department, you have to dance to their tune. That’s not what journalism is about. We had better sources than she (Judith Miller) did and we knew who her sources were. They were political appointees who were making a political case. I first met him (Ahmed Chalabi) in ’95 or ’96. I wouldn’t get dressed in the morning based on what he told me the weather was, let alone go to war “.

Penghargaan

Pada tanggal 5 Februari 2004 dua jurnalis Knight Ridder Newspaper Washington D.C, Warren Strobel and Jonathan Landay yang ditokohkan sebagai dua pemeran utama film “Shock And Awe”, menerima anugrah penghargaan Raymond Clapper Memorial dari Senate Press Gallery untuk mahakarya investigasi jurnalistik membongkar hoax mahakarya laskar inteligens Amerika Serikat tentang ancaman senjata nuklir Irak.

Memang hoax nuklir Irak sengaja kreatif diciptakan demi mempengaruhi bahkan membentuk opini publik AS agar menyetujui agresi militer AS terhadap Irak. Semua itu direkayasa demi menguntungkan industri senjata Amerika Serikat.

Permohonan Maaf

Bisa saja kisah film “Shock And Awe” ternyata juga hoax. Namun apabila kisah pembongkaran hoax yang ditampilkan film “Shock and Awe” ternyata bukan hoax, maka Insha Allah pada suatu hari akan ada presiden Amerika Serikat berkenan memohon maaf kepada rakyat Irak atas hoax persenjataan nuklir Irak bikinan presiden pendahulu yang telah terbukti berhasil memporak-porandakan Irak secara melanggar sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta Hak Asasi Manusia.

Namun memang sulit diketahui seberapa jauh kekesatriaan budi pekerti pemerintah Amerika Serikat cukup luhur dan jujur demi mengalahkan harga diri serta arogansi sehingga mau dan mampu mengakui kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu.

[Oleh: Jaya Suprana. Penulis adalah Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com