TENGAH malam, hari Rabu di awal tanggal 17 April ini, saya buka Fb untuk mengecek akun yang selama 3 bulan belakangan telah disuspen tiga kali 30 hari berturut-turut. Semuanya karena tulisan yang telah saya unggah sekitar 2 hingga 3 tahun lalu, dinilai tidak memenuhi standar komunitas Fb. Aneh memang, mereka mempermasalahkan status yg telah mendigital selama bertahun. Tapi itulah kenyataannya.

Dan malam ini, ketika membuka akun tersebut langsung saya dapati ada notif dari Fb bertuliskan ‘Your account has been DISABLED’. Artinya akun Agi Betha sudah dihanguskan, bukan lagi disuspen. Telah dialmarhumkan.

Saya terpana. Betapa ngeri pemerintahan ini! Memang Fb yang menghanguskan. Tapi tanpa perlu penelaahan yang pandai, tentu saya paham bahwa ada campur tangan otoritas kebijakan pemerintahan di keputusan tersebut. Mereka nabok nyilih tangan. Menusuk dengan pisau orang lain. Menjadi vampir tanpa perlu mulutnya meneteskan darah.

Ini bukti bahwa Rezim dijalankan oleh Pemimpin yg phobia literasi. Mereka jalankan negara ini berdasarkan sistem politik Anti Kritik. Buktinya mereka jawab tulisan saya dengan pembunuhan.

Mereka yg memuja dunia digital itu, ternyata sesungguhnya hidup di jaman sangat kuno. Pra analog. Pura-pura berjualan Mobile Legend agar dapat simpati dari pemilih millenials, sambil mereka matikan kemampuan literasi rakyat yang harusnya jadi contoh bahasa intelektual kaum muda harapan bangsa.

Dikiranya perang dialog antar negara di panggung lembaga-lembaga dunia, dapat dimenangkan oleh millenial operator Mobile Legend. Mereka tidak tau bahwa kemampuan literasi, menulis kalimat-kalimat argumentatif di atas papers, dan keahlian orang muda dalam mengolah diksi, adalah syarat intellectualism yang sebenarnya.

Rezim lebih memilih membunuh ketimbang berdiskusi. Mereka langsung mematikan karya, bukan lagi menahan tulisan atau menjawab dengan elegan.

Jelas mereka tahu bahwa wafatnya jiwa seorang penulis, adalah tatkala ia kehilangan media tempatnya berekspresi.

Akun Fb, Twitter, atau Wa milik Muhammad Said Didu, Nanik S. Deyang, Wawat Kurniawan, Ferdinand Hutahaean, Tara Palasara, Iramawati Oemar, Dian Anggraeni Umar, Budi Setiawan, Rahmat Agus Koto, dan ratusan akun penulis aktif lainnya juga tiba-tiba lenyap. Diambil alih dan diacak-acak. Dipakai sebagai sarana adu domba, yang bertujuan menyebarkan kegelisahan.

Tulisan-tulisan mereka yang biasanya jernih, lugas, cerdas, berdasarkan data, memiliki kemampuan menampol tanpa bayangan, menyikat tanpa kekerasan, sehingga dimaknai para pembacanya sebagai komunitas penulis berkemampuan High Level Literacies itu, diganti para hacker perusak dengan konten-konten sampah. Ditebari tulisan rubbish, gambar kotor, diksi asusila, amoral, auto fitnah, yang menandakan itu dilakukan oleh kelompok auto dungu.

Media sosial yang bertahun-tahun telah para penulis besarkan dan hidupi, dijadikan sebagai wahana ekspresi tanpa kekerasan, kini dilibas dan dilumat oleh Rezim dengan keji. Mereka meminjam tangan operator media sosial sebagai eksekutor. Tanpa disediakan ruang adu argumentasi, seolah dunia ini kembali ke jaman manusia langsung dikebiri.

Apakah intimidasi itu mematahkan perjuangan para penulis pegiat media sosial..? Sama sekali tidak. Mereka malah kian kompak. Dari saling tidak kenal, kemudian malah saling mencari. Menguatkan. Merasa senasib sependeritaan. Di bawah tekanan, otak mereka justru kian mengembang, tangannya kian rajin, penanya makin tajam, keberaniannya tambah menggelora, produktivitasnya terus memuncak.

Dan kini apa yang terjadi? Dalam kebersamaan mereka terus menyanyikan mars yang membuat Petahana merasa jerih: “2019 Prabowo Presiden..!”

Kenapa harus Presiden Baru? Supaya tidak ada lagi Pemimpin yang minim literasi. Tiada diperlukan Rezim yang takut kepada tulisan. Betul, takut kepada tulisan, karena tidak berteman dengan bacaan. Alergi kritikan. Akibatnya minus kewarasan.

Mengapa pembantaian kepada akun-akun media sosial ini terjadi? Karena kekosongan jiwa sang Pemimpin yang seharusnya diisi oleh berbagai methaphora indah, disesaki oleh argumentasi nan berisi, serta dipenuhi oleh kemampuan diplomasi tingkat tinggi, akhirnya hanya menjadi ruang sarat kebencian.

Sebagai akibat otak yang tidak tersentuh budaya literasi, maka ia penuhi ruang pikiran itu dengan berbagai kerja laknat yang menurutnya nikmat. Yang berseberangan kontan disikat. Tanpa ia sadari bahwa itu telah menjadikan jiwa raganya sekarat. Membuat ia segera dapat kehilangan mandat.

Pemimpin yang jiwanya telah berkarat tak akan mengerti bahwa apapun ideologi sang penulis, pengekangan justru membuat mereka meronta. Sejarah menunjukkan, para penulis tersohor melahirkan maha karya saat tangannya diikat dan jiwanya dipenjara.

Sedangkan keputusan rezim mematikan akun media sosial, malah menjadikan penulis sebagai hantu bagi pembunuhnya. Mereka dibunuh karena ditakuti. Ditakuti karena benar.

Maka para penulis itu justru akan bergerilya, menjadikan apapun sebagai media tulisannya. Dan masyarakatpun akan mencari karya-karyanya. Pengaruhnya bisa makin liar tak terkontrol. Suaranya akan lebih didengar daripada menteri, lebih dipercaya ketimbang pemimpin negri. Mereka akan tak sengaja menciptakan underground writers society.

Ingat bagaimana Buya Hamka melahirkan Tafsir Al Azhar ketika ia berada dalam penjara. Pramoedya Ananta Toer menelurkan Tetralogi Pulau Buru saat dalam pembuangan. Soekarno menuliskan surat cinta nan menggelora di ranjang pengasingan, juga naskah sandiwara tonil yang mengajari para pemuda cara-cara pemberontakan.

Orang-orang besar itu adalah guru bagi tiap penulis agar berani hidup, tak kenal mati. Mereka adalah juga inspirator agar di Hari Rabu nan bersejarah ini jangan lagi memilih Presiden yang dahinya berkerut, padahal yang dibaca hanya Komik, bukan Buku Makro Ekonomi.

Pilihlah Pemimpin yang memikirkan bagaimana rakyatnya dapat makan nasi dan menurunkan tarif listrik yang terlanjur naik tinggi. Bukan yang tetap selfi meski istri terjengkang, kembali selfi ketika ulama tengah bershalawat, dan lagi-lagi teruskan selfi hingga lupa mencium Hajar Aswad.

[Oleh : Agi Betha. Penulis adalah Sosial Politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com