GERAKAN nasional belanja di warung tetangga perlu terus digalakkan. Begitu juga makan di Warung Tegal ( Warteg) dan Rumah Makan Padang serta Lapow. Minum kopi pun bisa diteruskan di kedai Syamsul, bukan di warkop bermerek asing.

Ragam macam makanan serta minuman khas daerah kita cukup banyak yang tidak kalah lezat dan sehat. Lalu mengapa kita tidak melestarikan produk dan racikan menu bangsa sendiri sebagai ungkapan dari sikap nasionalis kita yang paling sederhana serta gampang kita lakukan mulai sekarang ?

Doktor Sujoko pengajar Seni Rupa ITB semasa hidupnya terus memakai kemeja batik tak hanya dari Solo dan Jogyakarta saja, tapi ragam macam dan corak batik yang khas Banjar dan Jambi yang dihasilkan oleh anak bangsa Indonesia asli juga sungguh tidak kalah bergengsi , membanggakan untuk dipakai.

Sebagai bentuk dari gerakan perlawanan budaya untuk masuk dalam pertarungan pasar bebas yang sudah dilakukan bangsa-bangsa di dunia, dapat juga kita sikapi dengan cara dan praktek yang paling sederhana dan gampang itu. Karena perang dagang dan perang asimetris yang menggasak bangsa dan negara kita dilakukan mereka dengan berbagai cara dan model.

Jadi bukan membombandir pasar kita dengan ragam macam produk dan bahan pangan dari negeri mereka, tapi juga merusak anak bangsa kita dengan narkoba yang tetus dipasok setiap hari dengan cara dimasukkan dalam tiang pancang beton yang berdalih untuk reklamasi namun prakteknya menimbun Teluk Jakarta. Begitu juga yang dilakukan di sejumlah tempat dsn wilayah lain di bumi Indonesia ini.

Dari bilik kesenian, lihatlah semua tayangan hiburan di televisi kita penuh dan dominan suguhan asing. Seni drama dan film kita jelas sudah keok oleh film produk asing. Hingga drama film Korea pun sudah menjajah habis selera kita.

Lalu produk dari otomitif hingga kerajinan tangan sampai beragam macam mainan anak-anak pun seakan sungguh tidak bergengsi jika memakai produk sendiri dari kreasi buatan anak bangsa sendiri.

Yang tidak kalah tragis adalah hasil buah-buahan kita pun mulai diserbu dari hasil kebun negara tetangga. Jeruk Pontianak dan buah Jagung dari Lampung misalnya semakin jarang dan sulit bisa dikonsumsi sehari-hari seperti pada masa lalu.

Lantas mengapa jambu Bangkok, durian Bangkok hingga buah-buahan asal Bangkok bisa terkesan lebih populer seoerti ayam Bangkok ?

Agaknya yang jadi penyebab semua kekalahan kuta itu sudah dimulai dari tata kelola yang salah kaprah tidak diantisipasi dengan kebijakan program serta perencanaan pemerintah yang tidak berjalan. Karena inisiatif dan kreatifitas kita terlanjur anbruk jadi bermental pamong, seperti lenguhan Iwan Pals dengan sosok Si Umar Bakrie. Indikator dari semangat untuk menjadi pegawai begeri, tampaknya telah menjadi penyakit mental turunan yang harus mulai dapat juga kita atasi, jalau saja tidak bisa sepenuhnya dibasmi.

Atas dasar itu juga perhatian yang serius pada pegawai negeri sipil (PNS) kita perlu mendapat pergatian khusus. Utamanya bukan hanya kesadaran untuk melakukan pengabdiannya sebagai pijajannya menunaikan tugas dan kewajibannya yang dibagar oleh duit rakyat, tetapi idealnya bisa lebih memiliki iniduatif yang kreatif serta inovatif. Jangan lagi membiasakan diri menghitung hari; kapan gajian. Oleh karena untuk mengubah sikap buruk serupa itu perlu reorientasi yang sepenuhnya patut dilakukan oleh pemerintah, karena otoritas ada di dalamnya.

Penataan ulang kebijajan serupa itu hendaknya pun dapat segera dilakukan untuk TNI Angkatan Laut kita yang layak dan patut menjadi unggulan diantara angkatan yang lain. Karena Angkatan Laut kita harus mampu mengartikulasikan makna dari pengakuan kita bahwa nenek moyang kita adalah pelaut. Dan negeri kita — nusa antara — memang harus selalu berjaya di laut. Toh, makna dari julukan bagi negeri kita adalah kepulauan, harus dipahami dalam pengertian yang lebih nyata. Seperti angkutan dan transportasi antar pulau — bahkan antar daerah melalui angkutan sungai — patut dan layak menjadi salah satu keunggulan serta keunikan dari bangsa dan negara kita.

Agaknya, atas dasar itu pula gagasan untuk memindahkan Ibukota Negara Indonesia ke Pulau Kalimantan menjadi relevan dengan menata Ibukota Negara yang dipadu dengan potensi angkutan sungai yang kelak bisa sangat aduhai mengesankan. Bila tidak, ya lebih baik yang dekat saja lokasinya, bagus di Lampung saja.

Semua wacana ini, tentu tidak terlepas dari bagian strategi perlawanan terhadap pasar bebas dan perang asimetris yang tak lagi bisa kita elak, tapi harus tetap dihadapi. Sebab perang asimetris sedang terjadi dan berlangsung di negeri kita, untuk merebut semua yang kita miliki. Termasuk kepribadian serta harga diri kita, tanpa kecuali. Maka itu kita harus dan mutlak menghadapinya secara total, tanpa ada kompromi.

[Oleh: Jacob Ereste. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com