GERINDRA-P itu apa? Kenapa Anda buat judul tulisan seperti ini? Jelaskan dulu, Bung, apa itu Gerindra-P.

Saya tanya balik orang itu. Kalau Anda, maunya apa?

Dia jawab, “Biasanya, Gerindra-Perjuangan.”

Begitulah dialog singkat antara saya dan seorang pendiri Gerindra. Dialog di dalam mimpi. Mimpi di siang bolong.

Gerindra-Perjuangan adalah mimpi yang tak bagus. Mimpi buruk. Nitghmare!

Tapi, mimpi buruk itu bisa menjadi kenyataan kalau Pak Prabowo Subianto (PS) masih belum menemukan titik pandang yang akurat tentang masa depan partai yang beliau dirikan itu. Apalagi kalau faksi ‘bajing loncat’ (Balon) di sana sedang kesurupan meneriakkan ‘kursi, kursi, kursi’. Akan semakin kaburlah jarak pandang Pak PS di tengah awan mendung yang sedang melanda demokrasi Indonesia saat ini.

Faksi Balon di Gerindra memang sedang ‘desperados’ (kebelet). Mereka memerlukan kursi karena sudah merasa capek berdiri terus. Kadang-kadang Pak PS merasa kasihan melihat mereka. Kabarnya, ketika kasihan itu sedang muncul, beliau melunak. Seolah bergabung ke kubu perampok adalah jalan yang terbaik bagi Gerindra.

Tapi, Pak Prabowo paham betul bahwa bersekutu dengan gerombolan penyamun pasti akan menghasilkan Gerindra-P. Karena sebagian besar kader partai Garuda Gagah itu akan selalu gagah. Tidak mudah hijau-mata dengan iming-iming recehan. Tidak mudah tergoda oleh kursi-kursi kotor hasil rampokan.

Orang waras masih yakin Pak PS tidak akan menurunkan harga dirinya lebih rendah lagi.

Apa kata Anda? Anda bilang turun lebih rendah? Memangnya Pak PS pernah menurunkan harga dirinya?

Secara terang-terangan memang tidak. Tidak pernah. Tapi, dalam situasi yang samar-samar, memang iya. Sebagai contoh saja. Masih ingat ‘kan Surat Wasiat yang diteken Pak PS sebelum pilpres?

Nah, surat itu yang tampaknya ‘hilang’ sekarang ini. Entah siapa yang mencurinya. Padahal, surat wasiat itu adalah harga diri Pak Prabowo. Karena surat wasiat itu ‘hilang’, pastilah harga diri yang berwasiat menjadi tergerus. Menjadi turun.

Itulah yang dimaksud menurunkan harga diri secara samar-samar. Tapi, bagi saya, harga diri beliau tidak berkurang meskipun surat wasiat itu raib.

Cuma, kalau Gerindra dibawa ke sarang penyamun untuk ikut bergerombol menyamun Indonesia, maka harga diri Pak PS bukan hanya turun. Melainkan sirna. Lenyap tak berbekas.

Catatan sejarah beliau pun tak bisa digoreskan dengan tinta emas. Paling-paling tinta perunggu. Itu pun kalau tinta perunggunya tersedia dan bersedia. Kalau tidak, terpaksalah pakai spidol yang tidak permanen.

Jadi, kawan-kawan di Gerindra yang masih ‘sound mind’ (berakal sehat) harus tegas mengatakan kepada Pak PS bahwa Gerindra tidak layak diembeli huruf ‘P’ Perjuangan. Artinya, tidak layak terpecah-pecah atau dipecah-pecah. Kalau ada individu-individu yang ‘desperados’, silakan tanggalkan atribut Gerindra. Putus hubungan. Jangan coba-coba menampilkan diri sebagai wakil Gerindra. Berkhianatlah kalian atas nama pribadi Anda. Jangan bawa-bawa Gerindra.

Gerindra harus Gerindra-Patriot, Gerindra-Perkasa, Gerindra-Putih. Harus menjadi Gerindra-Pantang. Pantang mundur, Pantang menyerah, Pantang korupsi, Pantang menindas, Patang merampok pilpres, dst.

[Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com