SAYANG banget di forum sepenting G-20 presiden RI cuma pidato satu menit. Padahal KTT G20 kali ini penuh dinamika. Jepang dan Cina mulai nyadar sebagai sesama Asia kudu kompak.

Siapa tahu Amerika dan Uni Eropa bakal ngadalin mereka. Makanya di Beijing sebelum KTT G20 di Osaka, Shinzō Abe (PM Jepang) dan Xi Jinping (Presiden RRC) sepakat mereka berdua kudu kompak pelopori perdamaiam dan kesejahteraan. Ya itu bahasa retorikanya sih.

Tapi ini juga bisa runyam buat dunia kalau Cina dan AS terus kompakan karena Jepang yang sekutu AS sekarang baikan ama Cina.

Buat ketiga negara memang sama sama happy. Buat Indonesia bisa hancur mina. Belum lagi India yang semakin solid satu barisan sama Jepang pelopori Indo Pasifik.

Sehingga dihitung baik Amerika maupun Cina. Karena India bareng Rusia dan Cina gabung di persekutuan blok ekonomi BRICS. Saingan kubu AS dan Eropa.

Uni Eropa, Prancis dan Jerman sekarang motor utama setelah Inggris keluar. Rusia dam Uni Eropa makin akrab.

Terus Indonesia gimana? Masak pidato aja semenit. Dalam perang diplomasi pidato di rapat pleno bisa mewarnai hasil KTT lho.

Sebagai pengkaji hubungan internasional, bukan prihatin, tapi sedih. Bukan sedih sama Presiden atau Menlunya. Tapi sedih kok Indonesia cuma penonton pasif di tengah berlangsungnya pergeseran geopilitik dunia.

Sebagai pendukung 02 jangan dikira saya senang ngeliat performance presiden petahana yang pesaing 02. Sama sekali nggak. Justru merasa sedih dan gemes.

[Oleh: Hendrajit. Penulis adalah Pengkaji Geopolitik, Direktur Eksekutif Global Future Institute]

Opini ini sudah dipublikasikan Portal-islam.id.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com