PARTAI koalisi Jokowi, Nasdem, PDIP, PKB, seperti sedang koor, mereka kompak menolak: Gerindra, PAN, PKS, dan Demokrat untuk bergabung dalam koalisi mereka. Alasannya untuk menjaga demokrasi dan agar tidak ikut dalam bagi-bagi Menteri. Apalagi ditambahkan syarat kepulangan Habib Rizieq Shihab.

Suara penolakan mereka sangat tegas. Mereka juga seperti memberi warning pada Jokowi agar tidak terus-menerus menyuarakan rekonsiliasi. Masih belum paham jugakah pasukan yang ngebet mau nyebrang?

Nih, simak pernyataan Moeldoko, KSP yang merangkap Wakil Ketua TKN, seperti ditulis CNN: Pertemuan Jokowi dan Prabowo Bukan Lagi Agenda Prioritas. Bukan tanpa alasan Moeldoko menyampaikan itu. Menurutnya, di tingkat masyarakat saat ini telah terjalin komunikasi politik setelah KPU menetapkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai pemenang Pilpres. Sehingga, menurutĀ  Moeldoko, rekonsiliasi yang sebenarnya telah terjadi.

“Sehingga jangan justru kata-kata rekonsiliasi ini malah justru menghambat, malah menjadi seolah-olah bangsa ini terjadi sesuatu yang luar biasa,” tuturnya.

Meski demikian, pernyataan tentang telah terjadi rekonsiliasi di tingkat bawah selepas MK dan KPU menetapkan Jokowi-Amin menang, adalah pernyataan sepihak. Fakta di bawah masih ada dan masih kental garis demarkasi antar pendukung. Persaudaraan, persahabatan, dan perteman masih belum cair.

Jadi, masih mau ngotot nyebrang? Masih semangat mau loncat? Kalau para ketum partai, elit partai, tokoh partai –kecuali PKS yang sudah jelas akan bertahan meski sendirian masih nafsu, padahal sudah jelas ditolak baik secara halus maupun terang-terangan, saya tidak ragu menyebut kalian TIDAK PUNYA MALU.

Belum usai kegaduhan itu, ujug-ujug muncul lagi keinginan rekonsiliasi. Fatalnya yang paling baru terkait rekonsiliasi ini, tiba-tiba nama dan kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) dimasukkan sebagai syarat. Astaghfirullah, kok makin gak karuan?

Pertanyaan saya, siapakah yang tiba-tiba mengusulkan hal itu? Pertanyaan selanjutnya, apakah HRS, sudah diberi tahu? Lalu, apa komentarnya? Pertanyaan berikut, apakah Prabowo sudah menyetujuinya? Segerombolan tanya bisa bermunculan bahkan dengan berbagai nada.

Duhai pembuat gagasan rekonsiliasi yang mengusulkan HRS, tidakkah kalian tahu bahwa beliau adalah pejuang?

Wahai para penyumbang pikiran dangkal, tidakkah kalian paham bahwa Prabowo masih tetap istiqomah di luar pemerintahan? Heiii…kalian yang ingin memecah belah, tahukah kalian Emak-Emak dan para pendukung Prabowo tetap ingin berdiri bersama?

Siapa pun kalian, perbuatan kalianlah yang telah merusak tatanan perjuangan. Kalianlah yang telah meruntuhkan demokrasi. Sungguh kalian tidak memiliki nilai. Berhentilah merengek-rengek, berhentilah mengemis-ngemis. Atau kalian memang sekumpulan pecundang yang tak punya rasa malu?

Ya Allah, Engkau Maha Tahu. Engkau Maha Melihat. Engkau Maha Kuasa. Bukakanlah pintu hati orang-orang itu. Kuatkanlah kami yang bertekad ada di seberang. Jadikanlah negeri kami terbebas dari pemimpin yang dzalim, pemimpin yang munafik. Selamatkanlah bangsa kami. Aamiin.

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com