PERTEMUAN Joko Widodo dengan Prabowo Subianto seusai Pemilihan Presiden yang sempat naik ke persidangan Mahkamah Konstitusi karena dianggap ada masalah yang harus dinilai oleh hakim konstitusi itu jelas karena ada ketegangan yang harus diselesaikan melalui pengadilan.

Suasana tegang selama proses Pilpres yang ada pada masing-masing calon ketika itu karena yang ada cuma dua pasang calon kandidat yaitu Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang berhadapan langsung dengan pasangan Prabowo-Sandi terkesan memang sangat seru. Karena untuk para pendukung pun jika tidak berada di kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin, seakan pasti menjadi pendukung fanatis Prabowo-Sandi. Dan isu serta serta rencana rekonsiliasi sejak MK memalu penolakan gugatan pasangan Prabowo-Sandi, sehingga pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mempetoleh keabsahan sebagai pemenang Pilpres, seakan semua ketegangan selama proses Pilpres semua langsung menjadi kendor, sejak Prabowo -Joko Widodo berjumpa di atas Kereta pada hari Sabtu, 13 Juli 2019 di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Padahal, akibat pertemuan itu ada ketegangan baru yang muncul, khususnya di kubu pendukung fanatik Prabowo-Sandi yang merasa kecewa akibat dari jesrdiaan Prabowo Subianto untuk meberima ajakan pertemuan dari Joko Widodo. Karena para pendukung Prabowo – Sandi umumnya tidak menghendaki berlangsungnya pertemuan itu. Bagi sebagian besar pendukung tidak perlu adanya rekonsiliasi itu, karena kebanyakan diantaranya akan lebih baik mimilih sikap yang mantap untuk oposisi saja. Kecuali itu, toh Sandiaga Uno sendiri tidak ikut dan juga telah menyatakan pilihan sikapknya sebagai oposisi.

Yang pasti dari kekecewaan para pendudukung fanatik pasangan Capres Prabowo-Sandi utamanya batisan emak-emak sudah menyatakan ekspresi sikap mereka diantaranya ada yang unjuk rasa dan ada pula yang menyatakan mengundurkan diri dengan mengatakan kejecewaan berat.

Dalam kalkulasi politik memang benar pasangan Prabowo-Sandi akan lebih strategis memilih oposisi, apalagi untuk untuk menjaga investasi politik yang sudah digapai pada tahun 2019 untuk posisi politik pada tahun 2024. Kevenaran dari pilihan sikap itu secara jitu telah dipilih Sandiaga Uno dengan menyatakan sikap secara terbuka untuk oposisi. Dan pilihan bersikap oposisi merupakan pilihan terbaik, kecuali untuk mengimbangin mereka yang sudah banyak berpihak pada pemerintah, sungguh baik dan tepat Sandiaga Uno memilih oposisi. Sebab tidak juga bisa dibayangkan, bagaimana mungkin semua orang harus mengamini apa saja yang dilakukan pemerintah, sementara itu tidak satu pun yang ada yang melakukan kontrol atau memberkan kritikan yang kritis. Tentu saja secara pribadi pun pilihan jenial Sabdiaga Uno menentukan pilihannya untuk oposisi sungguh sangat tepat, terlepas dari kesan pertemuan antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto, sepertinya keberadaan dirinya sendiri seakan diabaikan.

Agaknya, pilihan sikap Sandiaga Uno untuk menempuh jalan oposisi akan mendapat sambutan positif semua pendukung pasangannya tahun 2019 hingga nanti pada tahun 2024. Karena memang jika pun pertemuan antara Joko Wirodo dengan Prabowo Subianto bisa diklaim sebagai rekonsiliasi atau pun islah toh bagi Sandiaga Uno sendiri semakin jelas tidak relevan untuk membangun suasana politik bagi masa depan yang lebih baik dan lebih sehat.

[Oleh: Jacob Ereste. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com