SAYA tidak bisa pahami, bagaimana sosok Prabowo dan partai besar seperti Gerindra ibarat kerumunan bebek tidak berdaya diarahkan hanya oleh logika khayal buzzer yang berada dalam asuhan kekuatan penista kepentingan rakyat, bisa menyusup kemudian mengambilalih tokoh dan melepaskannya dari pendukung serta cita cita ideologisnya.

Tentu saja dalam konteks Prabowo, seperti ada yang sengaja lepaskan beliau dari pijakan perjuangan ideologisnya. Dipisahkan dari pendukung tulusnya, kemudian dalam keadaan linglung tanpa alas, Prabowo dibuat sebagai seorang yang berkhianat pada pendukungnya itu, dan setelahnya kini diberi gambaran angin surga untuk bertempur dari dalam di Istana.

Logika khayal macam apa ini, dan Prabowo bisa begitu mudah terpedaya dengan gambaran yang orang tidak sekolah pun pasti tahu bahwa itu bukan hanya jebakan, tetapi lebih dari itu sebuah tipuan yang berkelas sangat rendah dan recehan.



Bayangkan, orang yang baru saja kalah, dalam keadaan sendu karena hanya bisa mengulangi Sami’na wa Atho’na tanpa tahu maksud tanggung jawab kalimat itu, di tengah para korban yang berjatuhan, kemudian dia diberi harapan dengan cerita agama bahwa dia seakan seperti tokoh Nubuwat dalam perjanjian Hudaibiah?

Sayangnya, begitu vulgarnya usaha menyeret kondisi saat ini dengan cerita tentang Hudaibiyah itu. Padahal menempatkan posisi saat ini sama seperti Hudaibiyah adalah penghinaan terhadap Islam yang suci.

Hudaibiyah itu sendiri adalah perjanjian berdasarkan Wahyu, dilakukan oleh Nabi suci dengan bimbingan wahyu, dibuat tertulis secara rinci, mengatur soal ibadah suci dan nasib para pengikut Nabi SAW, tertulis secara transparan sehingga menjadi monumen dan dokumen sejarah yang bisa diverifikasi dan berfungsi sebagai salah satu tuntunan bagi umat Islam. Kemudian dilakukan dalam keadaan Nabi SAW menang perang dan berjaya di mana posisinya sebagai Nabi pembawa risalah yang tidak bisa dibandingkan dengan manusia siapa pun dan kapan pun dalam fungsinya membuat sebuah perjanjian suci yang monumental.

Dengan menempatkan kondisi saat ini sama dengan Hudaibiyah, ini justru menempatkan posisi Prabowo dalam keadaan sulit.

Akan muncul pertanyaan yang berbau gugatan. Apakah Hudaibiyah pantas untuk seorang tokoh yang lari meninggalkan pengikutnya? Membuat negosiasi diam-diam? Dan dinilai telah melanggar semua janjinya tentang timbul tenggelam bersama rakyat, dengan lebih memilih mati dalam kemuliaan dari pada hidup dalam kehinaan, dan akan berjuang sampai titik darah penghabisan bersama rakyat sambil mengulangi kalimat kalimat Sami’na wa Atho’na itu?

Sandaran Sami’na wa Atho’na, Hudaibiyah pasca MRT, pada akhirnya wajar menuai gugatan. Bagaimana tidak? Bagaimana seorang Prabowo terlihat seperti seseorang yang kalah.

Beliau seperti tidak miliki lagi kepercayaan diri di depan lawan tandingnya dalam pilpres. Padahal, sebelumnya tidak kurang garang perjuangan beliau atas kecurangan demokrasi sebagai bentuk pelanggaran hak suara rakyat.

Dari sini, pastinya tidak terelakkan timbul pertanyaan, kalau akhirnya memberikan pengakuan dan pengesahan terhadap kecurangan secara TSM, serta dianggap telah mengorbankan rakyat dan kepentingan demokrasi jurdil, dan oleh sebab itu membuat rakyat tersingkir dari kehormatan dan kedaulatannya, lantas di mana Hudaibiyahnya?

Lebih pedih lagi, penyusun skema seperti tidak puas dengan arahan pertama menjungkalkan Prabowo di stasiun MRT Lebak Bulus. Kini muncul arahan babak kedua dari buzzer el Mapeng, bahwa pasca MRT Sabtu Kelabu itu, Prabowo diminta untuk masuk “wilayah pertempuran baru” dengan cerita mimpi baru, yaitu hanya Prabowo yang mampu menengahi faksi-faksi di sekitar Jokowi yang dinilainya akan menjadi liar.

Menurutnya Indonesia bisa tenggelam karena tarikan faksi kuat dan telah penuh sesak itu di sekitar Jokowi. Karena itu menjadi tugas berat dan tanggung jawab Prabowo selanjutnya adalah menengahi faksi-faksi di sekitar Jokowi. Prabowo lebih dipercaya (oleh Jokowi atau elite kuat lainnya?) untuk bisa selesaikan benturan faksi-faksi itu yang telah siap berbaris merebut jatah.

Selanjutnya cerita berulang, ada ajakan tipuan baru: sami’na wa atho’na sebagai pendukung tegak lurus dengan skenario tipuan baru itu. Hanya saja kali ini, yang mengucapkan kalimat tidak bertanggung jawab itu bukan lagi Prabowo, tetapi hanya sekelas buzzer yang merasa berhasil menggiring di skenario awal.

Saya sendiri bukan anggota partai. Apalagi menjadi anggota partai Gerindra. Cuma memang saya dukung Prabowo karena ada harapan rakyat untuk perubahan nasib mereka tentang kemerdekaan dari penjajahan dan negara terbebas dari eksploitasi yang pada kenyataannya justru melahirkan buzzer-buzzer pengarah itu.

Tentu kita prihatin, dan tidak tega betapa politik mereka kini diarahkan seolah Prabowo seperti bebek yang mudah digiring oleh narasi-narasi khayal itu.

Saya tidak tahu apakah “loyalis tegak lurus” itu tega melihat Prabowo tersungkur kedua kalinya? Padahal dalam tiap ketersungkuran itu, bukan hanya Prabowo sendiri di sana, tetapi juga nasib rakyat yang juga turut menjadi korban karena memberikan suara mereka pada Prabowo dalam sebuah perjuangan yang tak ternilai.

Kalau sampai terjadi lagi setelah MRT, maka bukan saja Prabowo dan Gerindra menjadi korban, tetapi seluruh rakyat Indonesia akan menderita karena masalah yang dihadapi bangsa ini tidak selesai, kecuali sibuk dalam soal tipu menipu/pat-gulipat di antara elit untuk mengamankan jatah dan proyek ekonomi saja.

Tentu, apapun keputusan politik Prabowo tidak lagi penting setelah pertemuan MRT itu. Cuma satu hal yang menjadi catatan penting saya adalah betapa mudahnya seorang Prabowo diplot oleh narasi khayal untuk masuk dalam gerbong Istana yang telah penuh sesak yang digambarkan sebagai seolah wilayah pertempuran baru.

Pertanyaan sederhana yang pasti tidak bisa mereka jawab adalah dari mana Prabowo punya kekuatan lagi untuk melanjutkan pertarungan di medan baru itu, sementara pendukungnya telah meninggalkannya? Kemudian setelah dalam keadaan sendirian dan sempoyongan, lantas pertempuran baru apa yang bisa dilakukan Prabowo di Istana yang semuanya ada akuntabilitas publik dan sistem secara transparan?

Dan amat disayangkan, kalau Prabowo menerima skenario rendahan ini dengan mengorbankan rakyat hanya dengan kata-kata Sami’na wa Atho’na dan Hudaibiyah mengajak pendukungnya singsingkan lengan baju menerima penghambaan kekuasaan.

Sebagian orang memilih tidak menyalahkan para buzzer itu, karena mereka tahu bahwa pikiran pikiran naif itu hasil dari kebiasaan mereka main game online. Mereka bayangkan sosok jagoan yang telah kalah bertempur di satu tempat, atas panggilan sucinya dia diperintah untuk menyelamatkan keributan di antara petarung-petarung Istana, padahal para petarung itu sebelumnya telah mengalahkannya.

Yo wes. Seng waras ngalah.

[Oleh: A Uwais Alatas. Penulis adalah aktivis Silabna]

Opini ini sudah dipublikasikan oleh Kontenislam.com.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com