BANYAK kawan yang mengkritik saya. Mereka tidak bisa menerima kesimpulan saya bahwa Prabowo melakukan pengkhianatan terhadap 90 juta pemilihnya di pilpres 2019 ini. Saya bisa memahami perasaan itu. Dan bisa menerima kritik itu.

Kawan-kawan yang mengkritik saya mengatakan, Prabowo bertemu dengan Jokowi di stasiun MRT Lebak Bulus sebagai strategi untuk mencapai sesuatu yang besar. Bagi mereka, Prabowo tidak berkhianat. Saya hargai pendapat mereka.

Pada kesempatan ini saya perlu mengatakan bahwa saya tetap hormat kepada Prabowo. Saya sepakat Prabowo tidak punya sifat berkhianat. Hanya saja dia telah melakukan langkah yang mengkhianati 90 juta pemilih 02. Lho, kok bisa? Ini apa maksudnya?

Begini analoginya. Ada orang pertama. Seorang petinju profesional kelas berat. Dia juara dunia World Boxing Federation (WBF). Sekaligus juara IBF, WBC, WBO, dll. Tidak ada tandingannya. Petinju hebat. Bakat yang tak tertandingi. Sehingga, tidak heran kalau dia menang bertiju di mana-mana. Membuat lawannya selalu KO di semua ring tinju.

Kemudian ada orang kedua. Bukan petinju profesional. Orang biasa. Tidak punya bakat bertinju. Tak punya sifat-sifat petinju profesional. Dan tak pernah juga berkelahi. Tetapi, suatu kali dia memukul seseorang sampai KO juga. Terkapar pingsan. Sama seperti petinju profesional memukul lawannya sampai tak berkutik.

Orang yang kedua inilah Prabowo Subiantoi (PS). Dia bukan petinju profesional. Tidak pernah membuat orang KO selama ini. Tetapi, pada suatu hari beliau, entah bagaimana, memukul seseorang sampai babak belur. Tak berkutik juga.

Prabowo bukan pengkhianat profesional. Tidak punya sifat-sifat atau bakat pengkhianat. Tak pernah diketahui berkhianat. Tapi, suatu hari dia melakukan tindakan khianat (analoginya: meninju seseorang sampai KO). Prabowo bukan petinju yang turun-naik ring di mana-mana. Analoginya: bukan tukang khianat di mana-mana. Tidak pernah. Namun, di Lebak Bulus beliau melakukan tindakan yang 100 persen dapat disebut pengkhianatan. Analoginya: meninju seseorang sampai terkapar atau KO.

Nah, tindakan Prabowo memukul orang sampai KO itu tetap disebut “meninju”. Tetapi, beliau itu bukan “petinju”. Prabowo telah “berkhianat” tetapi dia bukan “pengkhianat” dalam makna petinju profesional tadi.

Semoga pengumpamaan yang saya uraikan ini bisa menjelaskan perbedaan antara seseorang yang kerjanya berkhianat di mana-mana dengan seseorang yang hanya sekali berkhianat seumur hidupnya. Yang hanya sekali saja seumur hidupnya meninju orang sampai KO sedangkan dia bukan petinju.

Sekali lagi, saya ingin menekankan bahwa saya tetap hormat kepada Prabowo. Tetapi, saya tidak bisa menerima tindakan beliau “memukul orang sampai KO di Lebak Bulus”.

Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggunakan stasiun Lebak Bulus selama-lamanya. Kecuali berganti nama menjadi Stasiun Legitimasi. Apa alasan saya memilih nama ini?

Karena, bila saya menggunakan Stasiun Legitimasi, saya hanya teringat wajah Prabowo saja. Tidak akan terbayang wajah-wajah lain yang waktu itu memenuhi Stasiun Lebak Bulus.

[Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com