GARA-gara Anies saya dicolek beberapa teman, lagi soal bambu. Setelah tiang bendera, kali ini soal getah-getih. Karya ini ada yang memuji ada pula yang mengolok-olok. Saat Joko Avianto memamerkan instalasi bambu seorang diri di Frankfurt 2015 lalu, karyanya dipuja dunia, tak seorang pun yang mengkritik. Joko Avianto telah mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Indonesia makin kuat image-nya terkait perbambuan, tak kalah oleh Cina, Jepang, dan Colombia. Saya kena dampaknya. Bulan depan ada mahasiswa arsitektur dari Jerman akan datang ke workshop saya untuk belajar bambu.

Eh, begitu Joko Avianto bersanding dengan Anies membuat instalasi bambu yang mirip dengan karyanya di frankfurt itu–justru jadi bahan olok-olok anak bangsa sendiri. Padahal, konsep dan makna instalasi bambu di Bundaran HI ini sangat kuat. Kalau boleh membandingkan, lebih kuat dari yang di frankfurt yang jadi gerbang masuk ke sebuah toko buku. Seperti yang dikatakan Anies dalam getah-getih, bahwa karya ini melambangkan persatuan. Ribuan batang bambu bulat dililit dengan bambu yang sudah digeprek sehingga menjadi ikatan yang lentur dan kuat. Joko Avianto, seniman lulusan ITB ini, berhasil mewujudkan pesan itu dalam karya seni yang luar biasa. Ia konsisten menggunakan bambu sejak awal kariernya terkait gagasannya perihal eksploitasi alam. Di dalam keterbatasan pengerjaan yang hanya dalam hitungan minggu, karya ini patut mendapat acungan jempol.

Sayangnya mata hati dan pikiran publik sudah tertutup oleh kebencian pada Anies. Banyak yang gagal membaca dan menemukan makna di balik karya ini. Tak bisa dipungkiri, karya ini akan membuka banyak tafsir, misal tentang lilitan silang siur yang berarti keruwetan, kerumitan. Untuk makna karya ini, entah sesuai dengan maksud sang seniman atau tidak, Anies sudah berusaha “memandu” dengan memberikan narasi getah getih. Meski begitu, cemo’oh tak berhenti, setelah KOMPAS meberitakan tentang biaya 550 juta, mereka mengkaitkan dengan pemborosan dan mark up. Menurut saya wajar ratusan juta habis untuk karya seni seperti ini. Terlalu murah, malah! Bambu memang harus “mahal” agar dihargai. Kalo murah, bambu akan selamanya diinjak-injak. Saya sudah mengerjakan ratusan proyek bambu, termasuk di antaranya seni instalasi. Untuk instalasi seni yang besar macam begini tidak bisa dihitung hanya dengan melihat harga bahan. Butuh perhitungan struktur, riset, ujicoba, dan lain-lain (lebih lanjut bisa baca comment Syaifudin Ihsar di bawah). Tugu jam yang saya buat di Malaysia, misalnya, harganya sekitar 150 juta, padahal hanya menggunakan bambu petung 8 batang dan apus 6 batang. Harga ini di luar transport lho ya.

Bambu yang dahulu sangat dihargai dan banyak manfaat, kini mewakili pedesaan, mewakili kemiskinan– citra bahan orang miskin. Ia nongkrong di inti ibukota. Jelas tidak cocok. Jelas timpang. Untuk pembacaan ini, para pembenci Anies benar. Memang itu pesan yang hendak disampaikan Joko Avianto: KONTRAS, TAPI TAK BISU. Instalasi seni berbahan 1.600 batang bambu ini dibentuk sangat dinamis. Saya menangkap pesan “perlawanan”. Ribuan bambu yang diikat kuat itu berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit. Bahan untuk membangun gedung-gedung itu diambil dengan meruntuhkan bukit-bukit kapur dan melubangi bumi. Tak hanya itu, ketika beroperasi ia memboroskan energi yang luar biasa besar, antara lain listrik dan air–tabungan kita bersama.

Selain persatuan, karya Joko Avianto membawa pesan: “kami siap melawan kalian para raksasa!”

Dulu kita menghadapi penjajah dengan bambu runcing. Sejarah berulang, 73 tahun kemudian bambu dipakai untuk menyuarakan kemerdekaan dan persatuan. Sungguh pas dengan momen kemerdekaan hari ini. Kita tunggu beberapa hari ke depan, ketika bambu-bambu itu mengering, warna kuning awi surat akan membawa kesan berbeda–kuning bermakna sejahtera. Itu yang hendak dituju bangsa MERDEKA.

[Oleh: Jajang Agus Sonjaya. Penulis adalah Direktur Bambubos]

Opini ini sudah dipublikasikan oleh Portal-islam.id.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com