SEJAK Mei 2019, Banjir impor tekstil dari Cina semakin besar, hal ini di karenakan perang dagang AS dan ina yang menyebabkan CIna mencari pasar baru untuk produk tekstilnya. Pasar yang besar, dan ramah terhadap produk-produk Cina serta kurang efisien itu namanya Indonesia. Sejak AS mengenakan pajak 25 persen ke Cina, menyebabkan produk Cina kalah bersaing di AS. Indonesia yang seharusnya bisa memanfaatkan situasi ini, Malah justru dimanfaatkan Cina untuk melempar produk produknya yang Kalah bersaing di AS. Sehingga tidak aneh jika pada kenyataan-nya ekspor kita hanya tumbuh 5,5 persen, sedangkan impor kita tumbuh 14,8 persen. Sehingga surplus perdagangan tekstil dalam 10 tahun terakhir ini, tergerus terus. Akibatnya neraca perdagangan tekstil kita jika dihitung dari 2009, mengalami penurunan sebesar -23,3 persen yakni dari 6,1 Milyar US dollar menjadi 4,7 Milyar US dollar.

Jika kita melihat pertumbuhan impor tekstil kita, dalam 10 tahun terakhir mengalami kenaikan hingga 107 persen, tidak sebanding dengan pertumbuman ekspor kita yang hanya tumbuh 29,6 persen saja. Parahal Industri tekstil kita menyumbang tenaga kerja sebesar 1,5 Juta, ditambah garmen yang mencapai 500.000, menurut catatan pemerintah. Sehingga bisa membahayakan kondisi ekonomi Indonesia, jika tidak mampu melindungi industri strategis yang banyak menyerap tenaga kerja ini. Oleh karena itu harus ada solusi kebijakan yang bisa melindungi industri tekstil dalam negeri. Kalau tidak maka industri tesktil, yang saat ini dikatakan sedang sunset, bisa benar benar terbenam.

Pertanyaanya masih adakah peluang bagi Industri tekstil Indonesia ?

Kalau kita melihat dari pendapatan 15 Emitens tekstil yang sudah go public, yang ada di BEJ, terlihat adanya kenaikan pendapatan, pada industri tekstil yang berorientasi ekport. Paling tidak ada tiga emiten yang menikmati kenaikan laba bersih dari perang dagang AS dengan Cina, yaitu Indo Rama, Sritex dan Pan Brother, yang tertinggi kenaikan laba bersih adalah indorama, dari 1,5 juta US Dollar pada tahun 2017 menjadi 63 Juta US Dollar, kenaikan hampir 4200 %, kedua adalah Pan Brother yang mengalami kenaikkan hampir 100 %, dari 9,2 Juta US dollar menjadi 18 Juta US dollar. Sedangkan sritex hanya naik hampir 20 persen saja, tapi dari 2017 Sritex sudah memiiliki laba bersih yang tinggi yaitu 66 juta US dollar, di 2018 menjadi 73 Juta US Dollar.

Berbanding terbalik dengan Emiten tekstil yang berorientasi ke pasar lokal, justru mengalami peningkatan kerugian akibat impor tekstil dari Cina, padahal potensi pasar lokal masih tinggi dan bagus. Seperti Panasia Indo Resources yang mengalami rugi bersih menjadi Rp 220 milyar dan Nusantara Inti Corpora, yang mengalami penurunan lama bersih dari Rp 60 juta rupiah ke 40 juta rupiah saja. Hal ini menunjukka gempuran tekstil Cina ke dalam negeri cukup kuat. Untuk itu harus ada solusinya agar ekport terus meningkat dan impor menjadi terbatas.

Saatnay Indonesia kelauar dari MEA yang sngat merugikan, karena dengan MEA indonesia tidak bisa melindungi Industri dalam negerinya yang belum efisien. Untuk itu perlu ada keberanian pemerintah Indonesia mengenakan cukai impor, seperti yang dlakukan oleh Philipina terhadap impor keramik dari indonésia. Jika philipina berani melindungi industri dalam negerinya, mengapa kita tidak?

[Oleh: Helmi Adam. Penulis Direktur Syafaat Foudation Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com