KAWASAN Timur Tengah yang membentang dari kawasan Teluk/Hijaz hingga negara-negara di kawasan magribi (Afika Utara) dipercaya merupakan kawasan munculnya peradaban awal manusia, khususnya pada saat penyebaran ajaran-ajaran samawi (agama yang disampaikan oleh para Nabi dan mempunyai kitab suci serta mengajarkan pesan-pesan ketauhidan/monotheisme) yang kemudian menjadikannya kawasan ini menjadi kawasan yang ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai penjuru dunia.

Pertemuan dan interaksi yang terjadi di antara para kaum dan bangsa-bangsa di belahan dunia ini semakin berkembang menjadi suatu hubungan dan kerja sama bahkan menjadi suatu upaya/cara untuk menaklukan satu sama lain di dalam memperebutkan suatu kawasan yang mendatangkan keuntungan bagi suatu kaum/bangsa.

Kawasan ini tumbuh menjadi kawasan yang istimewa dimana ajaran-ajaran samawi yang diturunkan oleh para Nabi di kawasan ini berisikan berbagai panduan hidup dan informasi penting mengenai kejadian alam semesta dan hikmahnya bagi manusia dan alam lingkungan) yang kemudian menyebar melalui para pengikutnya ke berbagai belahan dunia. Sehingga kawasan ini, khususnya kawasan Semenanjung Arab menjadi Kiblat bagi para pengikut ajaran agama-agama Samawi untuk berbagai kegiatan peribadatan dan keilmuwan.

Dalam perkembangannya, informasi yang diperoleh dari ajaran-ajaran samawi tersebut diolah sebagai dasar tentang ajaran-ajaran teknik yang membuat suatu kaum/bangsa dapat memahami dan mengerti berbagai hal mengenai penciptaan alam semesta melalui kegiatan riset di berbagai bidang.

Hasil dari kegiatan riset tersebut membawa kepada tingkat pemahaman ke dalam suatu bentuk pemikiran keagamaan yang mendalam dan juga bentuk-bentuk amalan-amalan teknik berupa penemuan-penemuan alat teknik/teknologi dan sumber daya alam termasuk sumber energi fosil yang menjadi energi utama bagi operasionalisasi peralatan di dalam memproduksi berbagai produk-produk pangan, sandang dan pangan serta bahan industri di dunia.

Adanya fakta pemanfaatan atas hasil kajian dari ajaran-ajaran samawi tersebut, baik yang bersifat pemikiran keagamaan maupun teknik, mendorong suatu pola interaksi manusia yang satu ke manusia yang lain dengan corak budayanya masing-masing. Hal ini lah yang kemudian mendorong perkembagan budaya dan menyumbangkan suatu peradaban manusia dari zaman ke zaman.

Konskwensi logis dari kemampuan suatu kaum/bangsa di dalam menyerap pesan keilmuwan dari suatu ajaran agama samawi yang mulia telah memunculkan gap/kesenjangan atas tingkat keilmuwan suatu bangsa. Sehingga kondisi ini secara kodrati memberikan derajat yang lebih tinggi kepada suatu bangsa di atas bangsa yang tidak menguasai ilmu.

Kegiatan keilmuwan yang seharusnya dapat lebih bersinar dari negeri ini namun seakan-akan hal ini tidak terlihat bahkan mereka harus menghadapi suatu ketergantungan dari bangsa lain.

Bagi Indonesia, sebagai negara yang bersahabat dengan Negara-negara di kawasan ini, kecuali dengan Israel, senantiasa tidak melupakan bantuan Negara dari kawasan ini ketika di masa perjuangan kemerdekaan. Indonesia senantiasa terpanggil untuk terus berbuat dan mensuarakan perdamaian serta meningkatkan hubungan dan kerja sama di berbagai bidang di berbagai fora baik bilateral, regional maupun multilateral.

Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Islam dan tergolong Negara yang mempunyai teknologi di bidang-bidang teknis serta menjadi anggota G-20 patut memdorong penguatan kerja sama di bidang politik, sosial budaya, ekonomi perdagangan, pariwisata, pendidikan keagamaan termasuk haji dan ilmu pengetahuan maupun teknik sebagai jembatan penghubung persaudaraan dan penguatan nilai-nilai rahmatan lil alamin.

Dalam konteks ini, Indonesia perlu menginisiasi, memfasilitasi dan mendorong keikutsertaan berbagai pihak terkait baik dari kalangan K/L teknik, pihak swasta maupun tokoh-tokoh dan individu guna memperkuat hubungan dan kerja sama di berbagai bidang dengan pihak terkait di negara-negara ini sekaligus juga melakukan perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia yang sudah menjalin hubungan dan kerja sama dengan pemangku kepentingan di negara-negara kawasan ini.

Apa yang terpenting bagi dunia dari perkembangan di atas saat ini dan ke depan adalah adanya fakta bahwa suatu bangsa yang gagal memahami pesan-pesan ajaran samawi yang intinya merupakan ajaran ketauhidan dan rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) akan mudah terbawa untuk melanggengkan hegemony kekuasaan yang bersifat sementara (keduniaan). Oleh karena, sebagai Negara kesatuan yang berfalsafahkan Keimanan dan Ketuhanan Yang Maha Esa, hal ini pun bisa terjadi kepada siapapun dalam segala kapasitas apabila ia lalai memahami dan mengamalkan ajaran dan pesan rahmatan lil alamin tersebut.

Semoga upaya reflektif ini semakin dapat memperkuat kerja sama Indonesia dengan Negara-negara di kawasan ini guna bersama-sama mewujudkan ketertiban dan perdamaian serta meningkatkan kesejahteraan bangsa dan masyarakatnya dan masyarakat dunia.

[Oleh: Moehammad Amar Ma’ruf. Penulis adalah Fungsional Diplomat Ahli Madya-Kementerian Luar Negeri dan Alumni Angkatan II-PS-KTTI-Universitas Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com