BILA kita lihat beberapa waktu yang lalu pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Joko Widodo, kemudian ditindak lanjuti pertemuan Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarno Putri, bukanlah pertemuan biasa, namun pertemuan tersebut adalah hasil operasi intelijen politik dengan sandi “Politik Sate House Senayan” ala MRT dan “Politik Nasi Goreng” ala Teuku Umar, yang dimainkan oleh “dalang politik” yang sama.

Menu utama dari politik sate house senayan dan Politik nasi goreng adalah “demi bangsa dan negara”, dan ketika Prabowo Subianto disuguhi menu utama tersebut tanpa pikir panjang langsung melahapnya dikarenakan kecintaan dan kesukaan Prabowo adalah menu “demi bangsa dan negara”.

Itulah sisi kekuatan sekaligus kelemahan dari Prabowo Subianto yang sering dipergunakan “kawan” maupun “lawan” politiknya untuk menusuk Prabowo dari depan dan belakang.

Pertemuan Politik Sate House Senayan dan Politik Nasi Goreng bukanlah hal yang sederhana, namun telah di rancang sedemikian rupa oleh “Koki Inteligen” bekerja sama dengan “Koki Politik” untuk menyuguhkan “jebakan” hidangan politik “transaksional” guna mematahkan langkah politik Prabowo Subianto dengan para pendukungnya bersama partai Gerindra nya.

Pertanyaannya apa hubungannya ? Jawabannya adalah hubungan sebab akibat , dimana Prabowo Subianto awalnya oleh para pendukungnya dianggap sebagai “tokoh pembaharuan 2019” di republik ini, sedangkan Partai Gerindra pada Pemilu 2019 ini menjadi kekuatan Partai besar ke-3 yang menjadi perhitungan nasional, regional dan internasional, yang dapat menentukan “geo politik” dan “geo strategi” perjalanan bangsa dan negara ini kedepan.

Berdasarkan bangunan asumsi tersebut maka “operasi Intelijen Politik” oleh “koki inteligen politik” bekerja sama dengan “koki politik” yang ada didalam partai gerindra dimainkan, dengan cara meramu hidangan menu utama yaitu “demi bangsa dan negara” disuguhkan kepada Prabowo Subianto dalam pertemuan “Politik Sate House Senayan” ala MRT dan “Politik Nasi Goreng” ala Teuku Umar.

Jebakan inteligen politik Tersebut akhirnya berhasil untuk menjauhkan Prabowo dari “pendukung militan” nya dan untuk “menggembosi” perjalanan politik Partai Gerindra kedepan khususnya dalam menghadapi pilkada-pilkada serta pemilu 2024 yang akan datang.

“Koki-koki Politik” di internal Partai Gerindra yang telah dibina serta bekerja sama dengan “koki inteligen” politik, mulai memerankan peranannya, bahkan tidak tanggung-tanggung berani menyatakan bahwa “Tidak kuatir elektabilitas Partai Gerindra menurun”, ya para koki tersebut dapat berkata demikian karena mereka tidak punya kepedulian terhadap membangun kekuatan Partai yang solid dan besar, yang ada didalam pikiran mereka hanya bagaimana hari ini dapat jabatan dan kekuasaan serta mendapat keuntungan dari kerja sesaat dan sesat mereka tersebut, dan disitulah Prabowo Subianto terjebak dalam “permainan politik” dengan “hidangan politik” yang harus dihadapinya kedepan bersama Partai Gerindra yang telah ia bangun dengan susah payah sejak 2008, dan kepercayaan masyarakat serta pendukungnya yang telah susah payah ia dapatkan selama ini.

Alhasil lawan-lawan politik Prabowo Subianto akan tertawa sambil berkata “Prabowo…selamat menikmati hidangan politik sate house senayan ala MRT dan nasi goreng ala Teuku Umar, selamat datang dalam jebakan koalisi agar kamu ikut bertanggung jawab atas kerusakan negeri ini”.

[Oleh: Nicholay Aprilindo. Penulis adalah Aktivis Polhukham, dan Alumni Lemhannas RI-2011]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com