MASYARAKAT Eropa selalu mencari cara untuk melakukan blacklist, terhadap kelapa Sawit Indonseia , mulai dari masalah kerusak-kan hutan hingga masalah Subsidi. Hal ini terlihat dengan pemberian bea masuk impor CPO Indonesia, dari 8 % menjadi 18 Persen. Hal ini tentu akan memukul eksport kita sehingga tidak bisa bersaing dengan minyak bunga matahari, yang dipakai di eropa. Kenapa Eropa selalu mencari alasan, karena Eropa tidak bisa membudidayakan kelapa sawit, jika bisa mungkin tidak akan ada masalah dengan sawit kita. Karena CPO dari kelapa sawit lebih efisien dari pada bunga matahari. Sehingga wajar sampai kapanpun Eropa akan mencari alas an untuk biosel Indonesia maupun unuk CPO, agar dapat melindungi industri dalam negerinya yang belum efektif.

Oleh karena itu orang Eropa mensubsidi mobil listrik, untuk menghemat pengeluaran dari mobil berbahan bakar minyak, maupun biogas ataupun biodiesel. Di Indonesia sendiri, jika bahan bakar menggunakan biosel, dengan Tingkat 20 persen ataupun disebut B20, maka bisa menghemat devisa Negara hingga 42 trilyun per hari. Artinya, jika kita ingin menguatkan bahan bakar kita, untuk mengurangi deficit neraca perdagangan, maka buat apa kita mengemis ke Eropa untuk melakukan ekspor, karena kita bisa meningkatkan produksi biosel Indonesia , dari 20 menjadi 50 atau B50, sehingga bisa menghemat devisa lebih besar lagi.

Brazil mampu meningkat produksi bioselnya untuk bahan bakar kendaraan-nya, sehingga Brazil mampu mneghemat uang belanjanya. Sudah seharusnya Indonesia mengikuti cara brazil, ditengah ditengah deficit perdagangan yang terus membengkak. Paling tidak ada dua keuntungan dengan meningkatkan produksi bio sel kita, pertama menaikan harga kelapa sawit di pasar dunia. Karena minyak sawit sangat efisien sebagai pengganti bahan bakar dan juga untuk minyak goreng. yang otomatis meningkatkan kebutuhan akan CPO, Akhirnya hukum pasar berlaku, Kebutuhan meningkat maka harga menjadi naik.

Kedua, kenaikan harga CPO akan menjadikan, kesejahtraan petani dan pekerja di industry CPO meningkat pula. Hal ini tentu saja akan meningkatkan daya beli yang unjungnya bisa membantu dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu peningkatan produksi biosel dari kelapa sawit harus menjadi prioritas bagi Indonsia sebagai penghasil terbesar CPO. Karena energi minyak Nabati akan menjadi ramai kedepan, selain ramah lingkungan juga memiliki sumber yang tidak ada habisnya, berbeda dengan bahan bakar minyak dari fosil yang memang akan habis.

Untuk itu saatnya CPO Indonesia bangkit, ditengah kebutuhan CPO yang meningkat di dunia. Sehingga CPO dapat menghasilkan devisa Negara dam sekaligus membuat neraca perdagangan kita poistif.

[Oleh: Helmi Adam. Penulis Direktur Syafaat Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com