ANDA keliru ketika membenci khilafah, mengajak umat menjauhi khilafah, karena semakin Anda memfitnah khilafah, Anda banyak menyebut khilafah, justru umat akan tertarik pada khilafah dan mencari tahu khilafah yang sesungguhnya, bukan khilafah versi Anda.

Dalam tulisan ini contohnya, Anda ingin menghentikan membaca khilafah, tetapi tak sanggup berhenti membaca tulisan ini. Dan itu, membuat Anda terus menyebut khilafah, walau mungkin hati Anda membenci khilafah, tapi lisan dan fikiran Anda akan semakin terpaut pada khilafah.

Khilafah anda fitnah, itu tak akan membuat umat menjauhinya. Karena khilafah itu bukan dari umat, khilafah itu dari Rab pemilik umat. Maka dzat yang mengutus khilafah, tak akan mungkin kalah dengan makhluk yang membenci khilafah.

Anda tidak mungkin phobia pada khilafah, kecuali itu membuat Anda kembali menyebut khilafah. Meski agitasi Anda ingin menjauhkan umat dari khilafah, tapi Anda justru membuat umat fasih melafadzkan kata khilafah. Tidak percaya? Mari kita uji.

Biasanya, cara Anda menjauhkan khilafah dari umat, adalah dengan membuat ujaran fitnah pada khilafah. “Jangan mau dibohongi khilafah”, “khilafah sudah expired”, “itu khilafah ala HTI”, “khilafah penuh sejarah berdarah”, “khilafah radikal”, “khilafah negara bar-bar”, “khilafah sudah usang”, “khilafah cuma romantisme sejarah”, “khilafah cuma mimpi”, “khilafah hanya ilusi”, “khilafah memecah belah”, “khilafah ancaman nyata”, “khilafah meniadakan perbedaan”, dst. Sadar tidak? Kampanye sesat Anda pada khilafah, telah membuat umat ini fasih menyebut dan melafadzkan khilafah. Bukan Khofifah, bukan khilafiyah, bukan pula khulalah.

Anda membuat umat semakin dekat dengan Lafadz khilafah. Kedekatan itu, menimbulkan rasa penasaran pada khilafah, keinginan mengkaji khilafah, semakin memahami khilafah, makin rindu pada khilafah, turut memperjuangkan khilafah dan akhirhya sampai pada membaiat seorang Khalifah sebagai pertanda berdirinya Daulah khilafah. Hebat bukan? Itu salah satunya karena andil Anda.

Jadi, kebencian Anda pada khilafah tak menghalangi khilafah diperbincangkan umat, bahkan membuat khilafah semakin viral. Justru itu hanya akan membuat khilafah makin populer, makin dirindukan, makin diperjuangkan.

Menghalangi khilafah itu sama saja menghalangi matahari terbit. Ufuk khilafah telah nampak, sebentar lagi fajar akan menyingsing. Anda keliru, ini sudah menjelang pagi, bukan senja menuju gelapnya malam. Kami menunggu pagi, sementara Anda menjanjikan mimpi melalui gelapnya malam. Tidak mungkin bisa!

Ah, khilafah itu kata yang paling ajaib di era now. Paling viral, bahkan dalam tulisan ini kata khilafah paling banyak disebut. Kata khilafah mendominasi artikel ini.

Sejak awal hingga akhir, artikel ini memang dibuat dengan dominasi kata khilafah. Sesekali tidak menyebut khilafah, tapi pada konklusi atau penyebutan kalimat lain mengaitkan kata khilafah.

Saya coba menghitungkan untuk Anda, dalam artikel ringan ini telah disebut khilafah sebanyak 54 kali. Ini belum termasuk tiga kata khilafah dalam paragraf penutup ini. Sekali lagi, khilafah !

[Oleh: Nasrudin Joha. Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com