by

Polemik Rektor Asing di Indonesia

WACANA Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi saat ini ramai diperbincangkan mengenai akan didatangkannya rektor asing dan dosen asing. Lalu benarkan rektor dan dosen asing dapat mengurai persoaln di Indonesia? Bukankah malah ada kesan bila Pemerintahan seolah tidak percaya lagi akan kemampuan terhadap guru besar yang jelas jelas anak bangsa, dan tidak sedikit guru guru besar kita lulusan luar negeri yang sudah sepantasnya memimpin kampus di Indonesia. Karena perlu diingat pula bila dosen berkonsentrasi kepada transfer ilmu sedangkan rektor lebih kepada manajerial kepemimpinan.

Perlu kita ketahui sikap atau pandangan mendunia tidak notebene harus datang dari negara yang telah maju. Bahkan ada beberapa konteks justru hadir dari kearifan lokal dan juga harus dirubah paradigma. Indonesia memang harus lebih maju, akan tetapi bila berpikir rektor asing lebih hebat tentu tidak selalu benar.

Di Indonesia ada tersebar ribuan perguruan tinggi dan diantarnya 122 perguruan negeri dan selebihnya swasta. Belum lagi perguruan tinggi agama dan kedinasan.lalu wacana pemerintah saat ini adalah ingin menjadikan Indonesia masuk dalam kampus ternama Dunia dan bukan lagi di 500 besar akan tetapi di 100 besar peringkat dunia. Sebuah wacana yang luar biasa hebatnya dan patut untuk diapresiasi, akan tetapi bukan pula dengan wacana yang luar biasa hebat itu harus mendatangkan rektor asing. Tentu ini bukan solusi. Karena Seperti yang kita ketahui ada beberapa barometer sebuah kampus yang dapat masuk dalam jajaran dunia. Yang pertama adalah kualitas, risetnya, Seperti inovasi, kebermanfaatan serta sistem pengajaran dikampus. Dan yang tak kalah pentingnya adalah sistem pengajaran dikampus, sistem pengajaran jarak jauh, serta spesialis serta kemampuan kerja para lulusan, jadi wajar saja bila wacana mendatangkan rektor asing ini menuai polemik dan kontroversi dan apalagi yang menjadi alasan Menristek – Dikti terkesan hanya untuk sebuah reputasi. tentu ini bukan suatu alasan karena pantaskah hanya karena reputasi rendahnya pendidikan menjadi alasan utama dalam merengkrut rektor asing ? Lalu sebenarnya seberapa pentingkah nilain peringkat internasional naik bila kita harus mendatangkan rektor asing dan mengorbankan anak bangsa yang seharusnya menduduki posisi rektor ini. Ini tentu tidak salah bila kita sebut pelecehan terhadap anak bangsa yang diragukan kemampuannya, dan yang harus dipahami bila urusan ngajar mengajar itu tidak harus selalu transfer ilmu pengetahuan akan tetapi banyak hal yang terkait didalamnya seperti ilmu kebangsaan, kebudayaan, dan moralitas, jadi yang namanya pendidikan tidak melulu urusan akademik akan tetapi perlu juga menanamkan ilmu dasar Pancasila sebagai dasar dalam bernegara dan bermasyarakat.

Ide Menristek ini seolah memperlihatkan gagasan yang bukan mengurai solusi dan merumuskan masalah untuk mencari jalan keluar tentang masalah yang menghambat peningkatan kualitas perguruan tinggi kita. Seharusnya seorang menteri mampu memberikan solusi dan menyampaikan gagasan yang visioner dalam memecah persoalan dan memberikan solusi dalam memajukan peringkatnya agar bisa naik. Karena sudah kewajiban seorang Menteri lah yang harus mengetahui persoalan dibidangnya yang dipimpinnya mengapa tidak maju dan sebagainya, akan tetapi bukan pula mengambil solusi dan kebijakan yang mendatangkan rektor asing, itu sih bukan solusi tapi persoalan baru yang menambah daftar panjang permasalahan yang ada dibidang pendidikan kita. Anak bangsa tentu jauh lebih baik dalam memimpin sebuah perguruan tinggi kita. Karena bila rektor asing tentu mempunyai kultur yang berbeda dengan negaran kita. Lalu mampukah seorang rektor asing menghadapi polemik persoalan realitas perguruan tinggi kita yang kompleks? Dan cukup mampukah Rektor asing ini beradaptasi dengan kultur Indonesia yang tentu berbeda dengan Negaranya.

Diharapkan Pemerintah dapat mengkaji kembali secara matang tentang polemik ini. Agar pemerintah tidak salah langkah dan salah dalam mengambil keputusan dan kebijakan yang sekiranya akan menimbulkan persoalan baru di tanah air kita.

[Oleh: Ryanti Suryawan. Penulis adalah Wakil Ketua DPC Gerindra Kota Bgr Ketua DPD Gardu Prabowo Jabar]

News Feed