ANGGOTA Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Agum Gumelar, mengatakan yang paling dia khawatirkan adalah ideologi khilafah. Bukan marxisme-komunisme. Dia berpendapat, marxisme-komunisme tak mungkin hidup lagi karena ada Tap MPR yang melarangnya.

Agum Gumelar mungkin merasa bahwa dia sedang ikut dalam upaya bersama untuk membunuh gagasan khilafah. Tetapi, dia lupa bahwa komentar seperti itu justru akan memperkuat semangat para pendukung sistem kenegaraan itu.

Mengapa? Karena para pendukung khilafah akan menafsirkan komentat Agum itu sebagai pertanda bahwa dia paham betul tentang khilafah. Dia tahu betul seluk-beluk khilafah. Bagi para pendukung khilafah, orang-orang seperti Pak Agum inilah yang akhirnya nanti akan menjadi pejuang khilafah.



Mengapa bisa begitu? Karena, tidak banyak yang harus dilakukan untuk mengubah Pak Agum menjadi pendukung khilafah. Dengan dua-tiga langkah saja, beliau boleh jadi akan mengubah praduga buruknya tentang khilafah menjadi persepsi positif.

Pertama, mereka akan mengajak Pak Agum terus berdiskusi tentang khilafah. Semakin banyak berdiskusi dengan orang seperti beliau, akan semakin besar kesempatan bagi para pendukung khilafah untuk menjelaskan kemaslahatan sistem itu.

Kedua, sekiranya Pak Agum menolak berdiskusi dan akan terus menjelek-jelekkan khilafah, maka akan semakin penasaranlah orang awam untuk mengetahui apa itu khilafah. Ini akan menyebabkan kata “khilafah” merajai berbagai search engine (mesin pencari) online dan juga offline (literatur kepustakaan). Akan banyak orang yang mencari bacaan tentang khilafah.

Ketiga, baik Pak Agum di posisi pertama atau posisi kedua, mereka (para pendukung khilafah) akan terus berdoa agar beliau ikut memperjuangkan khilafah. Bagi para pendukung khilafah, aspek ini yang malah lebih dahsyat.

Tapi, apakah ada kemungkinan kebencian Agum pada khilafah akan berbalik 180 derajat?

Kalau pikiran manusia yang menjadi ukuran, memanglah tak mungkin beliau menjadi senang pada khilafah. Tetapi, para pejuang khilafah tak semata mengandalkan usaha zahiriyah mereka saja. Mereka sangat percaya bahwa perjuangan khilafah yang mereka lakukan itu adalah usaha yang sakral. Mereka yakin akan ada pertolongan gaib. Pertolongan Allah SWT. Termasuk pertolongan untuk membalikkan kebencian Pak Agum menjadi simpati kepada khilafah.

Para pendukung khilafah juga mengerti bahwa perjuangan mereka tidak mudah. Pasti banyak hambatan. Sarat cobaan. Itulah sebabnya mereka tetap tenang dan selalu tersenyum ketika para penguasa membubarkan wadah terbesar yang memperjuangkan khilafah, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sisi spiritual inilah yang diremehkan oleh banyak orang. Padahal, tidak sedikit orang yang semula membenci sesuatu akhirnya menyukai benda itu. Apalagi orang yang seusia dan selevel Pak Agum, biasanya semakin sensitif terhadap hal-ihwal kesyariatan.

Jadi, perdebatan tentang khilafah yang kini diramaikan oleh Pak Agum, kelihatannya akan memberikan dampak positif terhadap sosialisasi sistem kenegaraan yang banyak dimusuhi itu. Dengan kata lain, keikutsertaan Agum Gumelar menyudutkan khilafah akan membuat ia makin bersemarak.

Dengan demikian, mendiamkan khilafah mungkin lebih baik ketimbang meributkannya. Tetapi, bisa juga dilematis. Dalam arti, didiamkan salah, diributkan salah juga. Mendiamkan khilafah membuat ia berjalan mulus. Meributkannya malah membuat dia semakin populer.

[Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com