DALAM sebuah pertandingan olahraga (misalnya sepakbola), selalu ada tim yang diunggulkan. Biasanya itu adalah juara bertahan. Sementara tim lain sebagai penantang yang dianggap potensial menghadapi atau mengalahkan juara bertahan, disebut kuda hitam. Metafora ini bisa dipakai menggambarkan skenario kompetisi perebutan posisi ketua umum Golkar di Munas akhir tahun 2019. Sang juara bertahan yang diunggulkan adalah Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto (AH) sebagai petahana. Sedangkan ‘potential competitor’ (kuda hitam) nya adalah Ketua DPR, Bambang Soesatyo (BS).

Jika di ibaratkan tim AH dan tim BS beradu laga di lapangan bola, maka bisa dikatakan pertandingannya disebut el classico atau tepatnya adalah el clasiTO (diambil dari nama belakang HartarTO dan SusaTYO). Dalam pertemuan derby memang selalu gemuruh dan menarik untuk ditonton, karena adanya unsur ketegangan dan drama yang di tunggu. Komentator pun ramai berpartisipasi memberikan pernyataan dan ulasannya. Para pendukung juga semakin panas dan membara dalam membela tim kesebelasan favoritnya. Saling klaim sebagai tim atau klub besar saling dilontarkan jelang laga puncak. Riuh gemuruh para pendukung kedua tim menambah semarak pertandingan sejak pluit pertama dibunyikan.

Politics is a game, kata Henry Kissinger.



Dalam kompetisi yang sehat, semua tim punya hak, peluang dan kesempatan yang sama. Wasit sebagai penguasa lapangan tidak boleh berpihak kepada salah satu tim, apalagi sampai mengatur (intervensi) jalannya pertandingan. Penjaga garis pun harus profesional menjalankan tugasnya. Ini esensi dari demokratisasi di lapangan (fair play). Dalam liga sepakbola dunia, tim yang kuat tentu punya logistik yang kuat dari segi finansial, terutama saat jeda di jendela tranfer demi memperkuat tim yang bersangkutan meraih tropi kejuaraan. Yang menarik dari sepakbola adalah spirit sportivitas. Saling serang, tapi baku peluk diakhir – antara yang menang dan yang kalah. Jika ada kegaduhan saat pertandingan berlangsung itu biasanya karena ulah pendukung tim masing-masing.

Dalam pertandingan coach manager tim AH lebih ‘low profile’ lewat instruksi penerapan strategi defensif parkir bus (catenaccio), sementara coach manager kuda hitam tim BS mengaplikasikan skema ‘high performance’ dengan permainan ofensif menyerang (total football). Ada adagium dalam sepak bola bahwa mempertahankan gelar juara jauh lebih sulit daripada merebutnya. Banyak juara bertahan tumbang dalam sebuah pertandingan adalah fakta yang sering terjadi di lapangan. Itu sebab pandangan bahwa pertahanan terbaik adalah dengan menyerang masih di adopsi sampai sekarang.

Sebaliknya, beberapa data juga menunjukkan bahwa prediksi bisa menumbangkan dengan mudah juara bertahan itu cuma asumsi sempit diatas kertas, bukan di atas lapangan. Sering terjadi skor seri di babak pertama atau bahkan sudah menang, tapi kalah di masa ‘injury time’ (babak kedua). Racikan komposisi pilihan taktik dan pemain yang tepat di lapangan bisa menentukan hasil dan jalannya pertandingan el clasiTO. Maksimalkan momentum corner kick dan tendangan bebas terarah. Hindari jebakan offside. Berikan umpang lambung yang manis, bukan janji manis. Dan gooaaaal..kar !!

[Oleh: Igor Dirgantara. Penulis adalah pengamat politik, Director SPIN (Survey & Polling Indonesia)]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com