KEPALA Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa menegaskan: TNI AD memutuskan untuk mempertahankan Taruna Akademi Militer (Akmil) keturunan Indonesia-Prancis, Enzo Zenz Allie (antaranews.com). Pernyataan ini harusnya membuat malu pasukan clometan ( gank asal ngoceh ) yang menuding semaunya.

Sayang, alih-alih merasa malu, orang-orang itu justru berkelit dengan sejuta alasan. Hadeeeeh…

“Kami AD (Angkatan Darat) memutuskan untuk mempertahankan Enzo Zenz Allie dan semua taruna Akademi Militer yang kami terima,” kata KSAD saat jumpa pers di Mabesad, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).

Orang nomer satu di Angkatan Darat itu menegaskan pihaknya sudah melakukan pengukuran terkait indeks moderasi bernegara Enzo Zenz Allie. Hasilnya, Enzo memiliki indeks moderasi bernegara yang cukup baik.

Sampai sini, kita paham kan? Sampai di sini, Mahfud dan kaum clometan paham juga kan?

Atau terserah aja deh dengan pandangan Mahfud. Silahkan melahirkan jurus lain. Gunakan hak kalian untuk kembali asal ngoceh?. Biar ngetop?

Nah, ini logika atau nalar kita dalam kondisi sehat. Begini: Katakanlah Enzo itu benar terpapar, khususnya bagi Mahfud, hendaknya ia justru membuat jurus sakti untuk menyadarkan anak muda itu. Bukan jurus mabok, apalagi langsung menuding TNI telah kecolongan.

Tugas dia sebagai anggota Dewan pengarah BPIP (Badan Pembinaan Idiologi Pancasila), adalah meningkatkan kesadaran warga negara untuk berpegang teguh pada Pancasila. Nah, ini ada anak muda, cerdas lahir-batin (teruji dari tes yang dilakukan TNI), dituding oleh Mahfud dan kaum clometan terpapar paham anti Pancasila. Sadarkan dong, jaga dong, dampingin dong. Jangan dihajar dengan cara gak karuan.

Ingat kisah Abu Sofyan, Khalid bin Walid, atau Umar bin Khatab di zaman Rasulallah? Mereka jelas musuh Islam, tapi apa yang dilakulan Nabi Muhammad? Didekati dengan cara yang indah. Maka, ketiganya menjadi pejuang-pejuang Islam terkemuka. Itu baru kerja seorang pengarah dan pembina jempolan.

Ya, Mahfud dan kaum clometan pasti jauh jika disejajarkan dengan akhlak rasul. Tetapi, paling tidak, dia hendaknya ingat kisah itu.

Atau kita balik. Apakah Mahfud marah atau tidak, jika ada orang yang berpendapat: “Jangan-jangan Gus Dur lah yang dulu kecolongan ketika menunjuknya menjadi Menteri Pertahanan!”
Lho, kenapa?

Secara logika, Mahfud tidak memiliki latar belakang orang pertahanan. Bukan juga orang yang sering jadi nara sumber sekitar itu. Tiba-tiba, ditunjuk sebagai Menhan. Gawat gak pertahanan kita?

Atau, marah gak Mahfud kalau kita ingatkan soal baju putih yang sudah ia jahit untuk siap-siap jadi Cawapres? Sudah menunggu disatu tempat, eeee… yang diumumkan jadi Cawapres malah orang lain?

Anehnya, untuk kedua kasus ini dia tidak merasa kecolongan. Untuk kedua kasus ini, dia terkesan menikmati dan mudah-mudahan saya keliru. Atau juga, apa ada yang sedang diharapkan ? Entahlah…

Kembali ke Enzo. Saya sekadar mengingatkan, Enzo itu anak yatim. Saya tidak ingin berceramah, saya bukan ustadz. Siapa saja yang mendzalimi anak yatim, berat hukumannya.

Rasulullah SAW bersabda, barang siapa memuliakan anak yatim, maka Allah SWT akan limpahkan rahmat dan rezekinya untuk mereka yang menyayangi anak yatim. Lain halnya dengan menyakiti anak yatim. Menyakiti anak yatim tidak dianjurkan dalam Islam, bahkan mendapat kemurkaan dari Allah SWT. Karena anak yatim merupakan titipan yang diberikan Allah SWT, untuk dilindungi.

Sebagaimana dalam Quran Surat Dhuha ayat 9, dikatakan, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”

Nah, kembali ke penegasan Jendral Andika. Harusnya kasus Enzo sudah berhenti. Mahfud dan kaum clometan seharusnya juga sudah berhenti sambil menanggung malu. Tapi, ya terserah aja pada mereka deh. Yang pasti, insyaa Allah, ke depan TNI akan punya calon pemimpin yang sholeh, cerdas, dan ganteng banget.

Ayooo Enzo, maju terus nak!

[Oleh: M. Nigara. adalah Wartawan Senior Indonesia.]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com