by

ADA APA DI BALIK PAPUA, UAS, DAN ALI MARKUS?

-M. NIGARA-29 views

TIGA persoalan tiba-tiba mencuat sedemikian heboh. Rusuh di Papua, isu ceramah Ustadz Abdul Somad, dan M. Ali Markus. Ketiganya seperti meletus saling bersambungan. Ada apakah semua ini?

Rusuh Papua diawali dengan pernyataan rasis petugas yang mendatangi asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Diawali dengan bendera Merah-Putih yang ditemukan terjatuh ke got.

Secara teori, katakanlah bendera itu sengaja dijatuhkan. Namun nyatanya sejauh ini belum ada fakta kuat bahwa ada pihak yang sengaja menjatuhkan. Apalagi bagi para mahasiswa Papua, mereka belum terbukti dengan sengaja menjatuhkannya. Maka pertanyaan yang mendasar : Apakah asrama mahasiswa itu harus diserbu? Pertanyaan kedua, tidakkah lagi ada jalan persuasif yang bisa dikedepankan? Atau, mendatangi tidak dengan cara bergerombol, tetapi dengan pendekatan personal ? Pertanyaan ketiga, apakah harus dengan makian? Catatan: Beredar video di medsos yang tentu saja sepihak atau satu sisi, para petugas langsung memaki, menembakkan gas air mata. Tidak terlihat ada pihak yang berdialog.

Ditambah lagi reaksi berlebihan yang dikeluarkan Wakil Walikota Malang. Kalimat bernada usiran itu, sama sekali tak patut dikeluarkan seorang pejabat publik.

Buahnya, Manokwari, Sorong, Fak Fak, dan beberapa tempat lainnya di tanah Papua bergolak. Pembakaran dan gerakan pengusiran balasan dilakukan. Sedih. Memprihatinkan.

Tak jauh dari itu Ustadz Abdul Somad dipolisikan. Ceramahnya terbatas di mesjid dan menjawab pertanyaan umat. UAS menjawab berdasarkan Al Quran. Berbeda dengan kasus Ahok yang menghina Al Maidah ayat 51 di depan publik, di acara pemerintah daerah. Selain itu, video itu resmi diluncurkan oleh Pemda DKI sendiri. Dan kasusnya ada diranah publik tidak berselang lama dari saat kejadian.

Anehnya, dikisah UAS yang diviralkan oleh orang lain – bukan dari UAS – adalah barang lama. Waktunya pun nyaris bersamaan dengan kasus Papua.

Panas…

Bagi saudara kita yang beragama Kristen khususnya Katolik, pasti marah. Di sisi lain, kita yang umat Islam, pasti tidak akan tinggal diam. Tambahan lagi munculnya para tukang kipas bayaran, suasana panas bisa tak terhindarkan.

Akibatnya? Jika tidak segera diatasi, bisa kita prediksi bahwa kekerasan antar agama bisa saja terjadi.

Lalu, khotbah M. Ali Markus yang oleh agama Islam dikenal sebagai sosok murtadin (Ali awalnya Islam, kemudian keluar jadi Kristen. Tak lama masuk lagi ke Islam dan kembali murtad). Ia melakukan pelecehan tentang ibadah haji. Khutbah itu sendiri di gereja dan di hadapan jamaahnya sendiri. Artinya khutbah terbatas. Persoalan muncul karena ada yang mempostingnya di youtube serta medsos. Ini pun barang lama.

Umat Islam pasti marah. Dan, umat Kristen khususnya Katolik juga tidak akan tinggal diam. Inti masalahnya sama seperti kasus UAS. Maka sesama anak bangsa dan sesama umat beragama akan saling berhadapan. Akibatnya, kerusuhan massal potensial akan meletus melebihi era reformasi.

Apalagi cara penanganan aparat jelas berbeda. Untuk kasus 212, meski di dalamnya umat Islam tidak pernah menyatakan kemerdekaan, dan keluar dari NKRI, tapi kerasnya petugas dalam menanganinya tampak begitu rupa. Para ulama dan umat Islam seperti sudah menjadi musuh negara.

Tapi untuk kasus Papua, meski jelas-jelas sudah menyatakan ingin referendum dan ujungnya Papua ingin merdeka, keluar dari NKRI, toh penangannya begitu manis. “Papua ini bukan anak tiri, tapi saya pastikan sebagai anak emas!” kara Wiranto, Menko Polhukam, Kamis (22/8/2019) di Papua.

Begitu juga dengan UAS yang dipolisikan sedangkan Ali Markus tenang- tenang saja.

Melihat semua itu, kita boleh bertanya: Ada apakah di balik semua ini? Sungguh tak mudah menjawabnya meski tak terlalu sulit diraba maknanya.

Apakah tiga kasus itu ada kaitannya dengan pengalihan opini atau entah apa pun? Yang pasti, saat ini sedang ramai dibicarakan rencana pemindahan ibukota dari Jakarta ke Kalimantan. Ada juga kisah penjualan 11 ruas jalan tol seperti diturunkan sebagai head line oleh Radar Bogor (21/8/2019).

Masih banyak hal-hal yang menimbulkan tanya dan sangat sulit memperoleh jawabannya. Kita tidak akan tahu secara rinci apakah kasus-kasus itu saling bertalian atau tidak. Yang pasti, saat ini semua perhatian kita ramai-ramai dialihkan pada tiga kasus itu.

Yang pasti juga, perhatian kita atas bertambahnya hutang negara, jadi ikut teralihkan.

Negeri kita saat ini, sesungguhnya sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Banyak persoalan yang saat ini terpendam dan bisa meledak setiap saat.

Saatnya kita berharap pemerintah untuk tidak lagi berpura-pura. Pura-pura baik itu jauh lebih berbahaya ketimbang berpura-pura susah. Kita juga berharap agar rakyat tidak mau lagi berpura-pura cukup, sementara menutup defisit bulanannya saja sudah setengah mati.

Ayolah, kita hadapi semua dengan kejujuran. Ya, tidak perlu 100 persen jujur sih…karena pasti sulit melaksanakannya. Namun, sudahilah kebohongan demi kebohongan. Segeralah kita taubatan nasuha secara bersama-sama. Jangan biarkan kita dibawa dan terjerumus dalam azab Allah. Nauzubillah…

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]

News Feed