TULISAN ini khusus ditujukan untuk adik-adik saya, adik-adik kita : Irma dan Hendi. Mungkin juga bagi yang lainnya. Jangan pernah bersedih. Jangan pernah marah. Dan, jangan sakit hati. Semua pasti sudah ada dalam buku kalian. Sudah tertulis dan sudah dalam rencana Allah Subhanahu Wa’taala.

Saya tidak hendak ikut campur dalam urusan TNI Angkatan Darat. Tidak dan tidak akan pernah. Saya paham TNI punya regulasi ketat dan tanpa kompromi.

Namun, jika akhirnya saya menuliskan dampak cuitan itu, saya hanya ingin berempati pada Irma dan Hendi. Dasar utamanya adalah perasaan sebagai sesama keluarga besar. Ayah saya dulu Heiho (tentara rakyat bentukkan Jepang, selepas Belanda dipukul mundur). Ayah melanjutkan menjadi TKR, cikal-bakal ABRI, lalu yang kini menjadi TNI. Tugas terakhirnya di Purwakarta dengan pangkat Sersan Mayor. Bertugas di Kavaleri.



Saat Bandung Lautan Api, ayah saya mengomandoi pembakaran rumah-rumah agar tidak digunakan Belanda dan kaki-tangannya, di daerah: Sitimunigar (ada kaitannya dengan nama saya Nigara), Kebonmanggu, dan Tegalega, Bandung Selatan, daerah operasinya dalam perang kemerdekaan. Jadi, tak ubahnya dengan Irma yang ayah dan keluarganya telah mengabdi pada negara. Rasa itulah yang mendorong saya menuliskan simpati dan empati ini.

Irma dan Hendi, percayalah

setiap langkah dan peristiwa yang terjadi di bumi selalu atas izin Allah. Bisa merupakan amanah. Bisa juga ujian. Dan bisa merupakan hukuman. Saat kita menjalankan semua iradat ini, tak tahu di mana posisi kita. Jadi, jangan sesali. Namun, kita wajib mencermatinya. Kemudian selalu berpasrah diri pada Sang Kuasa.

Boleh jadi, tak ada keinginan bagi Irma untuk melecehkan siapa pun. Tapi, ada sesuatu yang menuntunnya, menorehkan kata dalam akunnya. Demi Tuhan, jika kita membacanya tanpa pretensi apa pun, kalimatnya kesankan hal biasa saja. Tak ada tudingan pada orang tertentu. Apalagi merendahkan. Bahkan, jika kita bersikap lebih tenang, justru tampak ada unsur pendorong semangat.

Seperti seorang anak yang menyemangati orang tuanya saat tersandung atau terkena sesuatu yang membuat luka: “Jangan menyerah Mak atau Bapak. Lukanya kecil kok,”

Seiring dengan itu, kepala saya pun dipenuhi peristiwa yang menimpa para prajurit. Kisah tragis Wamena muncul begitu saja. Seorang prajurit luka di kepala serta kisah memilukan lainnya. Tak terbayang deritanya sebelum nyawa keluar dari raga. Tak terbayang pula pedih keluarga yang ditinggalkan.

Masih dari Wamena, terbayang bocah kecil yang harus pergi untuk selamanya dengan cara yang durjana. Dan seorang dokter Soeko Marsetiyo meregang nyawa dengan bara api menyala-nyala (sudah dibantah oleh dr. Silvanus Sumule. Tapi diakui tewas dengan trauma benda taham dan tumpul di kepala). Jadi, torehan Irma tampaknya justru ingin memberi semangat. Ayo bangkit pak dan hadapi semua dengan gagah perkasa.

Sekali lagi, saya tidak ingin ikut campur, tidak dan tidak akan pernah. Manakala cuitan itu dinilai bermasalah. Irma dan Hendi harus menanggungnya. Saya, hanya bersedih, kok demikian kerasnya? Padahal …

Tawaqal

Adik-adikku Irma dan Hendi, jangan bersedih, jangan marah, apalagi frustasi. Justru berbanggalah kalian karena telah dipilih sebagai contoh. Di satu sisi dianggap contoh ketegasan, tapi di sisi lain dianggap sebagai korban. Ya, terserah saja pada kita semua untuk menilainya.

Tawaqal adalah jalan terbaik. Berpasrahlah pada-Nya, karena segala sesuatu berasal dan selalu kembali pada-Nya. Apa saja yang ada di dunia ini, bukanlah segalanya. Semua ada masanya. Semua ada batasnya.

Sejarah selalu berulang memperlihatkan akan fenomena jatuh dan bangun. Meski tak jarang sejarah ditulis berdasar pada kepentingan penguasa, tapi tetap saja ada sejarah berdasarkan fakta. Sungguh, tak ada kedzaliman yang terus-menerus menang. Tak ada kesewenangan yang bisa terus tak berujung. Tak ada kekuasaan yang abadi.

Irma dan Hendi. Kian seringlah kalian bersujud. Tumpahkan segalanya hanya pada Sang Khalik. Mengadulah pada-Nya. Menangislah pada-Nya. Pada zat yang maha mulia, zat yang tak pernah tidur dan tak bisa ditipu oleh muslihat sedurjana apa pun.

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah Subhanahu Wa’taala. Dan bergembiralah, karena kiranya makom kalian insyaa Allah akan dinaikkan. Jalani semua dengan ikhlas dan dalam koridor konstitusi bangsa dan negara.

Tapi, diam-diam, jauh di dalam hati saya, ada yang berbisik: “Stttt… telah lahir calon pemimpin kita…” Insyaa Allah.

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com