MENULIS ilmiah harusnya dimulai dari masalah, bukan dari judul. Bila masalahnya jelas, maka judul mudah dibuat. Tapi bila judul dibuat, belum tentu ada masalahnya.

Banyak orang memahami Menulis Ilmiah sebatas mata kuliah atau bahan pembelajaran. Padahal menulis adalah perbuatan. Karena “menulis” berarti perbuatan atau perilaku menuangkan ide atau gagasan secara tertulis. Sedangkan “ilmiah” berarti bersifat ilmiah; memenuhi kaidah ilmu pengetahuan. Maka, Menulis Ilmiah merupakan perilaku dalam menuangkan ide atau gagasan secara tertulis yang memenuhi kaidah ilmu pengetahuan. Antonim “menulis ilmiah” adalah “menulis nonilmiah”.

Oleh karena itu, Menulis Ilmiah harus berlandaskan kompetensi. Kompeten dalam menulis, kompeten dalam berpikir ilmiah. Banyak orang belajar Menulis Ilmiah tapi pada akhirnya tetap tidak bisa menulis ilmiah. Karena banyak guru atau dosen Menulis Ilmiah yang hanya mengajarkan materi tapi tidak memberi contoh nyata untuk menulis ilmiah. Menulis Ilmiah menjadi gagal ketika para pembelajar tidak mampu menulis ilmiah, ketika pengajar tidak mau dan tidak mampu menjadi contoh dalam menulis ilmiah. Menulis Ilmiah hanya sebatas dipelajari, tetapi tidak dilakukan. Sekali lagi, menulis ilmiah adalah kompetensi.



Adalah fakta, minat dan jumlah tulisan ilmiah di Indonesia masih sangat rendah. Data dari Scientific American Survey (1994) menunjukkan bahwa kontribusi tahunan Scientist dan Scholars Indonesia pada pengetahuan (knowledge), sains, dan teknologi hanya 0,012 persen. Jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Singapura 0,179 persen. Apalagi dibandingkan kontribusi ilmuwan di AS yang mencapai 20 persen. Data lain, di Indonesia hanya ada 0,8 artikel per satu juta penduduk, sedangkan di India mencapai 12 artikel per satu juta penduduk. Maka wajar, kemampuan menulis ilmiah di Indonesia berada di posisi terendah dibandingkan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, atau Thailand.

Maka solusi dalam belajar Menulis Ilmiah, tidak ada yang lain selain menjadikan menulis sebagai kompetensi. Berani dalam menulis ilmiah, gemar dalam menulis ilmaih. Menulis Ilmiah tidak hanya bahan ajar. Tapi harus menjadi perilaku atau kebiasaan dalam menulis ilmiah. Caranya sederhana, pembelajar maupun pengajar harus latihan menulis yang serius, terarah, dan sesuai kaidah penulisan ilmiah. Setelah itu, berani untuk mempublikasikannya sehingga bermanfaat bagi pembaca. Menulis Ilmiah harus dilandasi “keteladanan”, contoh dan perilaku yang baik dalam menulis ilmiah.

Untuk bisa menulis ilmiah dengan mudah, maka berikut tips yang bisa dicoba untuk mahasiswa atau pemula yaitu sebagai berikut:

1. Temukan masalah terhadap topik yang akan ditulis. Menulis ilmiah bukan dimulai dari judul tulisan.
2. Masalah berdasarkan pengamatan atau pengalaman yang terjadi di lapangan dan dapat dikaji secara ilmiah.
3. Fokus tulisan pada masalah dengan menyajikan dampak dan kondisi yang terjadi serta analisis yang mendalam.
4. Paparkan solusi atas masalah yang dibahas.
5. Simpulkan tulisan ilmiah secara objektif dan jelas.

Patut diketahui, menulis ilmiah merupakan bentuk penyampaian pikiran ilmiah secara tertulis dan harus memenuhi syarat keilmiahan, seperti 1) faktual, 2) logis, dan 3) sistematis. Menulis ilmiah bertumpu pada keterampilan menulis dan cara berpikir ilmiah yang dituangkan ke dalam tulisan. Maka tulisan ilmiah yang baik harus mampu “mendekatkan jarak” antara penulis dan pembaca. Karena itu, Menulis ilmiah mengharuskan terjadinya pemahaman dan penafsiran yang sama antara pembaca dengan isi bacaan.

Di tengah era informasi yang begitu terbuka, kemampuan menulis mahasiswa sangat penting. Agar kita dapat mencerna setiap informasi dan mampu diantisipasi melalui tulisan yang bersifat ilmiah. Apalagi informasi yang bersifat hoaks seperti sekarang, tentu hanya bisa dijawab secara ilmiah, berdasar logika dan objektivitas.

Secara proses, menulis ilmiah harus memuat karakteristik dalam karya ilmiah. Beberapa karakteristik penting yang harus ada dalam sebuah tulisan ilmiah adalah: 1) isi yang menyajikan ide yang faktual atau gagasan yang logis secara objektif dan sistematik, 2) Sistematis yang memenuhi kaidah penulisan yang baik dan diatur dalam konvensi ilmiah, dan 3) Bahasa yang memaparkan gagasan dengan kalimat yang lugas dengan diksi dan makna yang jelas serta memenuhi kaidah bahasa baku.

Maka sekali lagi, menulis ilmiah adalah kompetensi. Agar hasil pembelajaran Menulis Ilmiah mampu mencapai tujuannya. Menulis ilmiah tidak akan “jauh panggang dari apai” bila dilatih dan dibiasakan. Maka seharusnya Menulis Ilmiah dilakukan sekarang, bukan esok atau lusa.

Karena menulis ilmiah berarti mampu menguak makna bahwa “opini itu bebas, tetapi fakta adalah suci”. Jangan tunda lagi, menulislah sekarang.

[Oleh: Syarifudin Yunus. Penulis adalah Dosen Universitas Indraprasta PGRI]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com