by

PRABOWO SUBIANTO NEGARAWAN YANG MELETAKKAN KEPENTINGAN RAKYAT DIATAS KEPENTINGAN PRIBADINYA

PERTEMUAN beruntun Prabowo Subianto dengan Jokowi, Megawati, diikuti dengan safari pertemuan dengan para ketum parpol sebenarnya menunjukkan kebesaran hati dan jiwa mantan Danjen Kopassus itu atas komitmennya terhadap bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya.

Prabowo Subianto adalah seorang patriot sejati yang memahami arti sesungguhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Bagi Prabowo pertarungan politik sudah selesai, sekarang kepentingan bangsa dan negara harus menjadi prioritas utama. Siap menang dan siap kalah bukan sekedar jargon kosong bagi mantan jendral yang paling berpengaruh dan punya banyak pengikut itu. Pasca Pilpres 2019, kerukunan demi membangun dan mempersatukan kembali Indonesia aktif diupayakan oleh Prabowo. Benturan aksi dan aspirasi politik begitu kerasnya di dunia nyata dan dunia maya di akhiri oleh keikhlasan dan kesejukan yang diberikan oleh Prabowo Subianto.

Prabowo : Tokoh Nasional Paling Berpengaruh

Tidak ada seorang mantan jenderal yang punya kharisma dan pengikut setia sebanyak Prabowo Subianto. Faktanya hanya mantan Danjen Kopassus ini yang bisa mendirikan partai politik (Gerindra) yang dari pemilu ke pemilu sejak didirikan perolehan suaranya meningkat terus, bahkan tembus sebagai sebagai runner up di Pileg 2019 kemarin, mengalahkan suara partai demokrat yang di bentuk mantan jenderal (SBY) yang pernah berkuasa sebagai presiden selama 10 tahun (2004-2014). Mantan jenderal lainnya (Wiranto) yang juga mendirikan dan menguasai partai politik (Hanura) malah terpental dari 4 persen ambang batas parlemen pemilu legislatif 2019. Tidak bisa dipungkiri suara Gerindra terus naik karena ketokohan Prabowo Subianto yang konsisten memegang nilai-nilai Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Indonesia yang utuh dari Sabang sampai Merauke, Bhinneka Tunggal Ika yang berdasarkan UUD 1945, serta berdiri tegak memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Manuver dan silaturahmi politik yang dilakukan Prabowo pasca Pilpres 2019 semakin menunjukkan kapasitas nya sebagai negarawan. Hanya Prabowo seorang, bukan Megawati, Surya Paloh, Muhaimin Iskandar bahkan Jokowi sekalipun yang melakukan silaturahmi politik untuk merajut titian rapuh yang terkoyak akibat kontestasi pemilu selama dua periode terakhir ini. Secara etika politik, pemenang pemilu yang wajib melakukannya, bukan yang dikalahkan. Bahkan Prabowo rela dihujat pendukungnya sendiri sampai dianggap penghianat. Bisa diprediksi bahwa jika Prabowo menolak rekonsiliasi, maka ke depan kondisi bangsa Indonesia masih tetap terpecah belah antara cebong di kolam dan kampret di darat. Prabowo sadar akan jiwa militansi supporternya yang loyal mengikutinya jika tetap keras terhadap penguasa. Disinilah letak kebesaran hati dan jiwa Prabowo Subianto.

Istana Butuh Prabowo

Kenyataan politik sesungguhnya melihat bahwa istana lebih butuh Prabowo, atau minimal sama-sama saling membutuhkan. Kalau nyinyir dengan Prabowo Subianto sekarang itu bukan barang mewah lagi, tetapi barang bekas yang sudah tidak ada harganya. Ujaran kebencian terhadap mantan Danjen Kopassus pun itu itu aja. Seperti kue bolu yang dikukus berulang-ulang, padahal sudah basi. Kalo nggak pendukung khilafah, ya mengibaratkan Prabowo Subianto itu layaknya binatang buas pelanggar HAM yang haus kekuasaan. Padahal Prabowo setia kepada jalan demokrasi. Jangankan siap menang, siap kalah pun senantiasa dilakoninya dengan legowo. Faktanya yang dilakukan oleh Prabowo semata selalu demi tegaknya NKRI dan merah putih, bukan soal pragmatisme karena jabatan politik.

Kalkulasi politik Pasca Pemilu 2019 lebih mencemaskan dari pada pemilu sebelumnya yang tidak mengenal segregasi tajam dengan istilah cebong- kampret. Di periode terakhir kepemimpinan Jokowi, pihak istana yang lebih membutuhkan support Prabowo. Ada lima alasan. Pertama, di Pemilu 2019, ada 45% lebih penduduk Indonesia yang memilih Prabowo (atau tidak memilih Jokowi). Saat ini, pemerintah Jokowi-Amin sudah menguasai: MPR, DPR, dan DPD. Bisa jadi yang diinginkan atau dibutuhkan Jokowi itu adalah penyeimbang di dalam kabinet keduanya, bukan di luar pemerintahan. Kedua, problem ekonomi Indonesia karena dampak buruk perekonomian global. Prabowo punya program dan konsep terbaik soal dorongan baru untuk pertumbuhan ekonomi double digit yang dengan penuh keyakinan diucapkannya saat bertemu Jokowi di istana negara. Konsep Prabowonomics fokus pada investasi di bidang infrastruktur ekonomi, khususnya di daerah pedesaan yang miskin, energi, keamanan dan ketahanan pangan. Konsep ini bisa dijalankan jika ikut berpartisipasi dalam pemerintahan untuk merealisasikan janji Prabowo saat kampanye pemilu 2019. Melakukan check and balance sudah dilakukan Prabowo selama sepuluh tahun sejak partai Gerindra lahir dan mulai ikut pemilu tahun 2009. Reposisi bukan sesuatu yang haram dalam politik. Bagi Prabowo, di dalam atau di luar pemerintahan sama halalnya jika itu untuk kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. Jika seandainya pemenang pemilu kemarin adalah Prabowo, maka dipastikan kubu lawannya juga akan diajak bergabung masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Hal ini sudah diutarakan oleh Prabowo dalam Pidato kebangsaan “Indonesia Menang” saat kampanye pilpres 2019.

Ketiga, “politik taktis” dimana ke depan bukanlah lagi soal pro atau anti Jokowi, tetapi bagaimana pada masa lima tahun terakhir Jokowi sampai 2024 bisa diisi dengan progres pembangunan politik dan ekonomi bagi rakyat Indonesia. Persatuan diantara elit politik adalah kata kuncinya. Dan itulah yang diupayakan oelh Prabowo belakangan ini. Keempat, “politik strategis” terkait keberlanjutannya nanti pasca Jokowi lengser di 2024. Bagi PDIP sebagai pemenang Pileg 2014 dan 2019, konstelasi politik bisa sangat berubah drastis pada tahun keempat masa akhir kepemimpinan Jokowi. Semua parpol akan berlomba lari untuk pemilu 2024. Stabilitas dan kontinyuitas proses politik dan pembangunan menjadi penting mengapa amandemen Undang-Undang Dasar dan GBHN di dorong untuk dihidupkan kembali, walaupun mungkin nanti secara terbatas. Di 2024, posisi ketum parpol akan sangat strategis, namun bandul politik diperkirakan masih ada di tangan Megawati dan Prabowo Subianto. Prediksi bersatunya kembali PDIP dan Gerindra juga bukan sesuatu yang mustahil. Kelima, jika fokus pembangunan infrastruktur di periode pertama memang akan dirubah konsentrasinya ke pembangunan SDM di periode kedua, maka ibarat sepak bola: “perubahan strategi permainan menuntut perubahan komposisi line up pemainnya juga”. Di sini peran, posisi dan kontribusi Prabowo sangat dibutuhkan.

Persepsi Publik Positif Terhadap Prabowo

Persepsi terkait karisma Prabowo tergambar dari Hasil riset kualitatif SPIN (Survey & Polling Indonesia) terhadap mereka yang mendukung Prabowo di Pemilu 2014 dan 2019 yang lalu. Memang masih ada pendukung utama Prabowo Subianto di yang kecewa terkait opsi langkah politik Prabowo soal merapatnya Gerindra ke pemerintahan. Tetapi itu minoritas, bukan mayoritas. Sejatinya ada dua golongan besar pendukung Prabowo. Pertama, yang minoritas bahwa mereka pro-Prabowo karena pada dasarnya memang anti-Jokowi apapun alasannya. Ini kelompok yang sudah ‘taken for granted’. Kedua, yang mayoritas menyatakan bahwa mereka tidak dukung Jokowi karena percaya bahwa Prabowo memiliki program dan kebijakan ekonomi yang dianggap lebih baik. Yang mayoritas mencerminkan keseluruhan pandangan dari yang bukan dan yang mendukung Prabowo, yaitu mereka bersimpati kepada Prabowo atas sikap dan tindakannya pasca pilpres.

Dengan berjalannya waktu, kelompok mayoritas akan bisa memahami bahwa dalam sistem presidensialisme di Indonesia, parpol sengit bersaing hanya saat pilpres. Setelah pemilu usai, masyarakat pendukung selayaknya bersatu kembali. Dengan kata lain, sentimen positif kepada Prabowo tetap lebih banyak dari negatifnya, baik itu dari pendukung Prabowo sendiri, maupun yang bukan. Prabowo justru menuai pujian karena dianggap memahami kapan waktunya bertarung, dan kapan saatnya selesai, lalu kembali bersatu. Jadi, saat ini tingkat kesukaan (likeability) terhadap Prabowo meningkat di mata publik, bukan sebaliknya. Gerindra akan stabil secara elektoral meskipun Prabowo merapat ke pemerintah.

Prabowo Subianto sudah dianggap sebagai negarawan yang mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadinya sendiri. Jika anda tidak percaya, itu sama halnya juga seperti anda tidak percaya bahwa Prabowo bersedia bertemu rivalnya di MRT beberapa waktu lalu atau Sandiaga Uno kembali ke Gerindra. Semua itu bisa terjadi karena kharisma Prabowo Subianto sebagai pemimpin dan patriot bangsa yang sangat mencintai negara Indonesia. Jelas bahwa sikap Prabowo yang tegas mengatakan rekonsiliasi dibutuhkan demi Indonesia raya.
A true soldier fight not because he hates what is in front of him, but because he loves what is behind him. That’s Prabowo Subianto.

[Oleh: Igor Dirgantara. Penulis adalah Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Director Survey & Polling Indonesia (SPIN)]

News Feed