Menteri Pemuda dan Olahraga periode 2019-2024, Zainuddin Amali.

SAYA tak bosan terus-menerus mencuplik ucapan Bung Karno ini. Presiden pertama Indonesia ini punya impian yang dahsyat tentang dunia olahraga nasional. BK percaya, negara akan maju jika dunia olahraganya maju.

Lalu, Presiden Indonesia ke-2, Pak Harto memperkokohnya dengan mengajak semua pihak untuk berpartisipasi langsung. “Memasyakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat!” katanya saat pidato pembukaan Haornas (Hari Olahraga Nasional), 9 September 1984 di Stadion Sriwedari, Solo.

Dan sejak 1948 hingga 2018, atau selama sekitar 70 tahun, dunia olahraga nasional selalu digunakan sebagai garda terdepan untuk kepentingan bangsa. Olahraga dijadikan public relations di tingkat dunia. Dari pagelaran PON pertama 1948, hingga pesta Asian Games ke-20 di 2018 lalu, jelas olahraga dijadikan alat untuk kepentingan bangsa.



Tidak Punya Rumah

Tapi pedihnya, olahraga belum sekali pun menikmati hasilnya. Bahkan hal yang paling standar saja, olahraga Indonesia belum memperolehnya. Contohnya, dunia olahraga belum punya rumah sendiri. Para pelakunya masih hidup di bawah rata-rata, dan para penggilanya (pembinanya) lebih banyak menderita dari pada bahagia. Sudah keluar uang banyak, mereka justru lebih sering dicaci, dituduh dan difitnah jika gagal. Namun jika sukses, orang lain yang ambil manfaatnya.

Terkait rumah, contoh yang paling konkret nyatanya KONI, KOI, dan cabang-cabang olahraga, bahkan Kemenpora sendiri, kantornya masih menumpang. Atau malah harus membayar sewa. Padahal seluruh pekerjaan mereka untuk kepentingan negara. Ada memang yang melakukan hal-hal negatif, seperti yang tersangkut KPK, tapi jumlahnya kalah banyak dengan yang masih murni bergerak untuk bangsa dan negara.

PPK-GBK, pengelola lahan 279,1 hektar yang di atasnya berdiri komplek dan sarana olahraga, sama sekali tidak salah ketika menerapkan kebijakannya. Sebagai mantan direksi GBK, saya paham betul adanya ketidaksingkronan antara kebijakan dengan pelayanan. Pengelola GBK justru selalu menjadi korban. Di satu sisi wajib bekerja di atas regulasi, tapi, di sisi lain mereka tahu bahwa dunia olahraga termasuk Kemenpora wajib dilayani.

Saatnya

Adalah Zainuddin Amali, meski tidak banyak yang tahu kiprahnya di dunia olahraga, sekali ini saya apresiasi dengan ditunjuknya politisi Golkar itu di kursi Menpora. ZA, begitu sapaannya, memang tidak sekaliber R. Maladi, Menteri Olagraga (1960an). Tapi inilah Menpora kedua yang memiliki basis olahraga.

Selama ini, paling tidak sejak Abdul Gafur, 1984 hingga Imam Nahrawi 2014, para Menpora itu basisnya kepemudaan. Jadi, saya tidak heran jika para menteri itu menomerlimakan dunia olahraga. Kita tahu, sebagai menteri dengan basis organisasi pemuda, maka kepemudaan yang ditaruh terdepan. Dengan begitu, maka politik praktislah yang paling kental.

Jadi, tidak keliru jika saat ini kita berharap banyak pada ZA untuk memajukan dunia olahraga. Kita memiliki sumber daya yang luar biasa. Bahkan saya tak ragu menyebut negeri kita adalah ladang yang subur untuk dunia olahraga. Hanya saja selama ini belum digali dengan baik dan benar.

KONI, KOI, Cabor, atlet dan pelatih, adalah kumpulan ladang subur itu. Jika dirawat dengan benar, maka panen yang akan dipetik sedemikian dahsyatnya. Namun selama ini cenderung dibiarkan begitu saja.

Para pendahulu, maaf nih, bukan hanya membiarkan, tapi juga seperti menikmati terjadinya ‘perseteruan’ di antara mereka. Yang paling menonjol perseteruan KONI dan KOI yang mengakibatkan terjadinya dualisme dan tarik-menarik berkepanjangan. Tidak hanya KONI dan KOI, di beberapa cabor juga terjadi perseteruan. Yang paling fantastis adalah PSSI. Tahun 2010, kekisruhan juga melanda PSSI. Kekusutan disitu jadi panjang, lebih dari setahun. Juga akibat kementerian terkesan membiarkan. Bahkan, maaf, sepertinya justru berada di belakang pihak tertentu.

Nah, kedepan, hal ini tidak boleh terjadi lagi. Kita kawal Menpora yang baru, yang memiliki basis olahraga dengan baik ini untuk selalu berada di atas kebenaran. Kita kawal Menpora untuk terus menjaga marwah olahraga nasional. Kita jaga Menpora yang baru ini untuk tidak tergoda dengan hal-hal yang pragmatis. Kita jaga Menpora yang baru ini untuk bisa menyatukan kembali KONI dan KOI atau – paling tidak – agar tidak terjadi dualisme.

Kita kawal Menpora yang baru ini dari para penumpang yang tidak jelas dan selalu mencari keuntungan sektoral. Ya, kita kawal dunia olahraga kita agar mampu menyinari NKRI dengan prestasi yang gemilang.

Selamat datang Pak Menpora, selamat menjalankan tugas mulia ini. Bismillah…

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Olahraga Senior]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com