by

CLBK Antara Prabowo dengan Ibu Pertiwi

Opiniindonesia.com – Menuju penghujung tahun 2019 ini, banyak pihak yang merasakan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Dimulai dari membaiknya hubungan Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Soebianto, Kembalinya Sandiaga Uno ke Partai Gerindra, dan ditunjuknya Prabowo menjadi Menteri Pertahanan RI. Loh! Mengapa penunjukan Prabowo menjadi Menteri Pertahanan dianggap CLBK? Benarkah bahwa selama ini Prabowo dengan insan pertahanan dan keamanan Indonesia memang sengaja dipisahkan oleh keadaan?

Masih jelas teringat, debat Calon Presiden tahun 2014 antara Prabowo dengan Jokowi terkait dengan Pertahanan Negara. Saat itu Jokowi dan Prabowo berdebat persoalan Main Battle Tank yang tidak cocok digunakan di tanah air. Begitu juga dengan perdebatan Prabowo dan Jokowi mengenai ancaman Negara pada debat capres tahun 2019. Prabowo berulang kali mengingatkan pentingnya meningkatkan pertahanan nasional yang selama ini dinilai melemah. Prabowo menyoroti budaya ABS (asal Bapak Senang) di lingkungan Presiden Jokowi, yang kerap kali memberikan informasi yang keliru kepada Panglima Tertinggi. Berangkat dari dua kali perdebatan itu, Jokowi memberikan kesempatan untuk Prabowo membenahi industri pertahanan Indonesia dengan menjadikannya sebagai Menteri Pertahanan RI.

Melalui kedua perdebatan Jokowi-Prabowo di atas, sangat jelas bahwa Prabowo sangat menguasai pertahanan dan keamanan. Prestasi-prestasi Prabowo ketika masih dinas di militer, diakui oleh dunia. Dimulai dari Operasi Nanggala di Timor Timur, Operasi Mapenduma, mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Everest dan sukses memimpin Kopassus menjadi tentara elit yang disegani di dunia. Namun sederet prestasi Prabowo tersebut berujung pada diberhentikannya dari kedinasan TNI dengan hormat. Peristiwa tersebut dilanjutkan dengan berbagai cerita miring tentang Prabowo yang dianggap bagian dari Trah Cendana ketika era reformasi. Namun perjalanan hidup Prabowo dengan ibu pertiwi tidak sampai disitu. Prabowo masih terus saja bersumbangsih dan mencintai ibu pertiwi walau dari luar pemerintahan.

Oleh karena itu momen serah terima jabatan Menteri Pertahanan dari Ryamizard Ryacudu ke Prabowo Soebianto pada tanggal 24 Oktober 2019 di Kementerian Pertahanan kemarin memiliki makna yang dalam. Kedatangan Prabowo kemarin disambut dengan haru dan kebanggaan yang sangat tinggi dari seluruh staf kementerian Pertahanan. Bagaikan anak yang hilang, Prabowo disambut meriah dengan nyanyian “Selamat Datang Pahlawan Muda”, karangan Ismail Marzuki. Apabila kita membaca lirik lengkapnya, terdapat kalimat “Selamat datang pahlawan muda// Lama nian kami rindukan dikau// Bertahun-tahun bercerai mata// Kini kita dapat berjumpa pula” terlihat jelas bahwa sosok Prabowo sangat dirindukan dan dinantikan oleh insan TNI selama ini. Hal ini juga dipahami oleh Presiden Jokowi, mengingat beliau kalah telak di TPS Kompleks Paspampres pada Piplres 2019 yang lalu.

Penunjukan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan RI dapat mewujudkan mimpi dari seluruh rakyat Indonesia yaitu untuk membawa Negara Indonesia kembali menjadi “Macan Asia”. Kepemimpinan Prabowo diharapkan dapat memperkuat TNI kembali seperti sedia kala dengan anggaran lebih dari Rp127 T. Meski dianggap masih kurang dari ideal, namun dengan kecakapan Prabowo diharapkan beberapa pekerjaan rumah pertahanan Indonesia dapat diselesaikan seperti membawa TNI pada level Minimum Essential Force (MEF) atau kekuatan pokok minimum sebagai bagian dari proses modernisasi alusista Indonesia sehingga memiliki efek detterent atau efek pencegahan, peningkatan SDM dan kesejahteraan personel TNI, serta membangun dan memantapkan industri pertahanan nasional. Bukankah hal itu yang selama ini diperjuangkan oleh Prabowo Soebianto apabila melihat debat-debat capres selama ini.

Oleh: Frank Wawolangi. Penulis adalah Pemerhati Ekonomi & Bisnis.

News Feed