Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Ma'ruf Amin memperkenalkan jajaran menteri Kabinet Indonesia maju di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

TIM ekonomi kabinet Jokowi II tampak kurang meyakinkan bisa mengatasi soalan ekonomi Indonesia. Tantangan jangka pendek dan jangka menengah yang dihadapi memang berat. Bahkan, sangat berat. Profil dan rekam jejak para menteri yang bertugaskan langsung menghadapinya terlihat tidak memadai.

Tantangan jangka pendek adalah mencegah resesi ekonomi. Resesi telah terjadi di beberapa negara, dan amat mungkin menular ke banyak negara lain. Indonesia merupakan salah satunya.

Resesi ekonomi di negara industri maju berupa pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi (tumbuh minus) dalam dua triwulan beturut-turut atau lebih. Untuk negara yang perekonomiannya masih banyak bergantung pada sektor nonidustri dan sektor jasa modern, perlu dipakai ukuran yang sedikit berbeda. Yaitu laju pertumbuhan yang turun signifikan, tidak harus minus.



Ukuran kedua itu lebih cocok untuk perekonomian Indonesia. Oleh karena kontribusi pertanian dan jasa nonmodern masih amat besar dan cenderung stabil, maka ada batas bawah “alamiah” dari pertumbuhan ekonomi. Terjadinya penurunan laju pertumbuhan ataupun kontraksi pada sektor industri tidak otomatis membuat pertumbuhan ekonomi menjadi negatif.

Kenyataannya, industri pengolahan telah tumbuh melambat selama empat triwulan terakhir. Perlambatan masih berlangsung perlahan, namun berpotensi makin melambat pada triwulan selanjutnya. Hal itu akan menekan laju pertumbuhan ekonomi keseluruhan, sehingga dapat dikategorikan terjadinya resesi.

Secara teknis, pencegahan agar tak terjadi resesi ekonomi adalah dengan mengatasi tiga tantangan utama. Yaitu: defisit transaksi berjalan, defisit APBN, dan defisit transaksi portofolio.

Defisit bersamaan dari transaksi berjalan dan APBN dikenal sebagai defisit kembar (twin deficit), telah terjadi sejak tahun 2011. Besaran defisitnya, secara nominal maupun persentase dari PDB, cenderung meningkat belakangan ini.

Transaksi portofolio hampir selalu mengalami surplus, atau arus modal masuk secara neto. Besarannya cenderung meningkat selama era reformasi. Perekonomian Indonesia yang terbiasa mengalami surplus membuatnya akan langsung terganggu, jika terjadi defisit. Jika berlangsung dalam waktu singkat dengan nilai yang signifikan, maka disebut pembalikan mendadak (sudden reversal).

Untuk mencegah resesi, tidak berarti harus membuat ketiganya menjadi surplus. Melainkan menjaga agar tidak memburuk dalam waktu singkat. Khusus untuk transaksi portofolio memang perlu dijaga agar tetap surplus. Jika ketiganya defisit secara bersamaan atau triple deficit, maka resesi telah terjadi.

Tantangan dalam jangka menengah (lima tahun ke depan) adalah penguatan fundamental ekonomi dan peningkatan daya saing. Fundamental ekonomi yang masih lemah tercermin dari daya tahannya atas goncangan eksternal. Atau bisa memburuk dalam waktu singkat. Daya saing yang belum tinggi antara lain diindikasikan oleh kinerja ekspor yang belum baik.

Pengertian fundamental ekonomi dalam wacana otoritas ekonomi belakangan ini telah menyempit menjadi fundamental makroekonomi. Bahkan hanya mengedepankan soal pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Padahal, pengertian yang seharusnya adalah “kemampuan memproduksi barang dan jasa secara berkelanjutan”.

Kemampuan produksi mencakup aspek “kapasitas produksi” dan “produksi aktual”. Kapasitas tak selalu terpakai penuh. Produksi aktual kadang dipaksa melebihi kapasitas, yang memang dapat meningkatkan produksi pada suatu waktu, namun rentan merosot. Memperkuat fundamental ekonomi berarti meningkatkan kapasitas produksi di satu sisi, dan mengaktualkannya di sisi lain. ditambahkan dengan secara “berkelanjutan” yang menimbang kepentingan lintas generasi dan daya dukung lingkungan.

Pengertian daya saing terkait dengan posisi dalam transaksi internasional. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa tidak cukup hanya tumbuh dan membaik, namun juga dengan kecepatan yang lebih baik dari rata-rata dunia.

Dengan tantangan jangka pendek dan menengah dari perekonomian Indonesia tadi, maka profil dan rekam jejak Menteri yang terkait langsung tampak kurang meyakinkan untuk mengatasinya.

Dua nama lama tercatat tidak berhasil mengatasi masalah defisit APBN, deindustrialisasi premature, dan rendahnya daya saing. Memang masih bisa membuat arus masuk modal portofolio, namun antara lain dengan memberi imbal hasil yang tinggi pada surat utang negara. Jika langkah mereka masih serupa dengan sebelumnya, maka pencegahan resesi tak dapat berjalan optimal.

Nama-nama baru lebih kental dengan latar belakang partai politik dibanding kompetensi atau profesionalitasnya. Sulit diharapkan adanya grand strategy beserta kebijakan yang kuat dan konsisten untuk memperkuat fundamental ekonomi dan meningkatkan daya saing.

Saat ini, penulis memberi nilai empat (skala 0-10) untuk tim ekonomi dalam kaitannya dengan tantangan jangka pendek dan menengah. Tentu saja dengan extra effort dan koordinasi yang sangat kuat, maka nilainya berpeluang naik menjadi enam atau tujuh. Namun, kita dapat kehabisan waktu untuk soalan jangka pendek, yaitu resesi ekonomi.

[Oleh: Awalil Rizky. Penulis adalah Pemerhati Sospol]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com