Gonjang-ganjing dalam kepengurusan PSSI, baik jelang kongres maupun dalam kondisi biasa, juga bukan hal baru. Sejak lama, atau yang paling panas itu di era Bardosono (1977), Ali Sadikin (1977-81), Sjarnoebi Said (1982-83).

PSSI atau Sepakbola Nasional pasti bukan agama, betapa pun kita membutuhkan bahkan sering memuja. Tidak jarang di antara kita malah siap berkorban jiwa. Sekali lagi, PSSI atau sepakbola nasional bukan agama.

Daya tarik sepakbola memang luar biasa. Bukan hanya di dunia, tapi juga di tanah air. Apalagi dalam kondisi sulit, sepakbola selalu menjadi pusat pelampiasan apa saja. Di sepakbola, orang bebas bicara apa saja. Dan, di sepakbola juga semua orang dari berbagai latar belakang, bersatu. Di sepakbola semua seperti punya hak yang sama. Tapi, di sepakbola juga orang bisa saling melukai dan .. maaf.. berbunuhan.

Yang paling mengerikan tahun 1969, jelang Piala Dunia 1970 di Meksiko, Honduras dan El-Salvador perang 4 hari. Semua diawali dari lapangan sepakbola, ya saat penyisihan Piala Dunia.



Saya tak ragu untuk menyebut bahwa semua kegilaan itu saat ini ada di sini. Dan, jika kita salah menangani sepakbola akan merusak persaudaraan kita, nauzubillah.

Bukan hanya dari lapangan, dari ruang kepengurusan hal serupa juga terjadi. Malah, model semacam ini hanya terjadi di Indonesia. Tidak satu kali, tapi berkali-kali.

Gonjang-ganjing dalam kepengurusan PSSI, baik jelang kongres maupun dalam kondisi biasa, juga bukan hal baru. Sejak lama, atau yang paling panas itu di era Bardosono (1977), Ali Sadikin (1977-81), Sjarnoebi Said (1982-83).

Saat tiga tokoh ini berkuasa, terjadi kegaduhan yang berujung pada kudeta. Memang tidak terang-terangan kudeta, namun buntutnya para ketum itu tumbang. Memang belum ada statuta dan FIFA pun belum seperti sekarang, jadi pergantian selalu ditolerir.

Setelah itu, senyap. Kardono, Azwar Anas, dan Agum Gumelar memimpin PSSI, nyaris tak ada kegaduhan. Maklum saja, Kardono adalah Sekmil presiden, Azwar menteri, dan Agum salah satu direktur di Bais dan mantan Danjen Kopasus.

Kegaduhan kembali terjadi di era Nurdin Khalid (2011), Djohar Arifin (2015), La Nyalla (2014), dan Edy Rahmayadi (2017). Tiga dari empat ketum, bukan pejabat pemerintah, malah La Nyalla adalah pengusaha. Sementara ER, saat terpilih adalah Pangkostrad, sangat dekat kekuasaan. Tapi, setelah pensiun dini dan menjadi orang luar, maka reak itu muncul lagi.

Mengapa kok kegaduhan selalu terjadi ketika PSSI dipimpin bukan oleh pejabat? Jawabannya saya serahkan pada anda sekalian. Saya hanya bisa memberi kisi-kisi saja. Ya, intinya nyaris semua sama: Ssstttt… adanya tekanan dari luar organisasi. Dan ujungnya sikap para penekan selalu menang.

Kok bisa? Jawabnya juga saya serahkan ke anda. Saya hanya bisa memberi kisi-kisi lagi. Maaf ya, para voter, ada banyak oknum di antara anda sekalian yang jiwa dan imannya tidak teguh. Ada di antara mereka yang hanya diming-imingi, diomong-omongi, dan maaf lagi ya, katanya diamplop-amplopi, itu sudah jadi rahasia umum, mereka goyah. Maka terjadilah gonjang-ganjing itu. Duuuh.

Pintu masuk

Sekali lagi, maaf, agak pahit. Para voter itu, yang selalu ‘bermain’ api, selalu bersedia jadi pintu masuk. Akibatnya selalu saja berkompromi dan ‘maaf’ ada di antara mereka yang justru menikmati hal itu.

Ya, sebut saja oknum-oknum voter itu memanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Bagi oknum seperti itu, program bukan hal penting, tapi …, ‘itu-itu’ tuh yang utama. Bagi mereka kongres tiap bulan juga gak masalah.

Sama seperti dalam pemilu kita, rakyat kebanyakan justru menanti ‘diserang saat fajar’, ya lewat ‘serangan fajar’ itu mereka memilih. Mereka tak perduli apa yang akan mereka alami di depan, pokoknya ada amplop, ada suara. Akibatnya? Ya kita lihat sendirilah.

Sepanjang hal yang paling mendasar itu tidak bisa diubah, sepanjang itu pula kegaduhan tak terhindarkan. Sepanjang masih ada voter yang mudah goyah, sepanjang itu juga kegaduhan selalu datang.

Saya sependapat dengan pandangan orang yang mengatakan: “Proses yang kotor, hasilnya pasti kotor!”

Lalu? Bagi saya yang ada di tengah sepakbola nasional baik sebagai jurnalis 1979-1994, lalu sebagai bagian dari pengurus 1994-2016, dan baru bergabung lagi 2019, hanya ada satu jalan untuk PSSI bisa maju Taubatan Nasuha, bukan satu atau dua, tapi semua stakeholder sepakbola Indonesia wajib melakukannya.

Mengapa? Kita bukanlah para malaikat yang pasti tidak berdosa, dan mereka juga bukan para setan yang pasti hanya salah. Kita tetap manusia biasa yang pasti punya dosa dan pasti juga bisa berbuat baik.

Ya, tidak ada di antara kita yang putih bersih. Tidak ada di antara kita yang tidak pernah bersalah. Jadi, bertobatlah agar sepakbola kita bisa memulainya di atas lembaran kertas yang agak putih. Lho, kok agak putih? Jawabnya saya yakin tidak semua ikhlas bertaubat, tapi pasti lebih banyak yang mau dengan ikhlas bertaubat.

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Sepakbola Senior]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com