Tak ada kekuasaan di muka bumi yang mampu menundukkannya. Bukan karena kekuatan dan kesaktiannya. Melainkan keteguhannya membawa risalah tauhid dalam dadanya.

DIA lahir sebagai manusia biasa. Menjalani hidup hingga matinya, tetap sebagai manusia biasa.

Dari berjuta kelebihan dan kemuliaannya, ia tetap menegaskan: “Anaa basyarun mistlukum…”.

Seperti kita. Seperti kalian. Seperti mereka.



Dia yang akan terus dicinta. Diingat. Dikenang hingga akhir zaman. Tetap sebagai manusia biasa.

Tak ada satu sosok manusia yang begitu banyaknya disebut. Oleh dua milyar penduduk bumi. Dalam lima waktu. Dalam setiap waktu. Setiap detik.

Mereka bertanya:”Apakah engkau ini makhluk titisan Tuhan?”

“Aku hanyalah manusia biasa seperti kalian..”, demikian tuturmu dengan lembut.

Satu-satunya pembeda antara aku dengan kalian adalah:

“… aku diberikan wahyu kepadaku oleh Tuhanku. Bahwasannya Tuhan kalian adalah Tuhan yang satu”.

Ketinggian dia sebagai manusia yang melebihi manusia-manusia sebelumnya dan sesudahnya, adalah budi pekertinya. Ia adalah manusia yang mampu memberi contoh. Mengajarkan manusia bagaimana seharusnya memanusiakan manusia.

Tak ada kekuasaan di muka bumi yang mampu menundukkannya. Bukan karena kekuatan dan kesaktiannya. Melainkan keteguhannya membawa risalah tauhid dalam dadanya.

Ingatkah kalian? Ia juga pernah menangis. Pernah bersedih. Pernah merasa jatuh.

Ketika ia merasa sendirian nenghadapi begitu besarnya gelombang tantangan dan ancaman. Sebab, satu-persatu orang-orang yang menyokongnya telah pergi.

Sekali lagi, ia adalah juga manusia biasa. Yang bisa sedih dan galau.

Hingga datang suara kepadanya:”bangkitlah…”. Tuhan telah mengingatkannya.

Manakala datang kepadanya tekanan begitu kuatnya. Agar ia menghentikan risalahnya. Berkatalah ia dengan lantang dan indah…

“Andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku…. Sejengkalpun aku tak akan menghentikan risalah Tuhanku!”

Begitu besar cinta manusia kepadanya. Tak akan mampu mengimbangi samudera cinta dia kepada umatnya. Selaksa cinta yang dia tiupkan hingga detik-detik akhir hayatnya: “ummatii…ummatii…ummatii”.

Hari ini bergema berjuta shalawat di seantero jagat.

Seperti biasa. Seperti kemarin. Seperti tadi pagi.

Lantas apa yang sudah aku perbuat? Cukupkah hanya mengingat tanggal kelahirannya? Cukupkah dengan pernyataan cinta melalui berjuta-juta shalawat kepadanya?

Sementara aku telah lalai. Terlena lupa bagaimana meneladaninya untuk menegakkan risalahnya. Lalai menegakkan tauhid. Lalai menjalankan ajaran-ajarannya.

Maka, ijinkan aku terus beshalawat kapadamu. Seraya menjaga dan meneruskan risalahmu dalam dadaku. Dalam segenap jiwaku. Di setiap perjalanan hidupku.

[Oleh: Anab Afifi. Penulis adalah seorang konsultan komunikasi dan penulis dengan pengalaman 20 tahun]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com