Keberhasilan David Maulana dan kawan-kawan sungguh telah membentangkan asa yang luar biasa untuk kita.

TERIMA KASIH Fahri Husaini, terima kasih Bagus Kahfi, terima kasih David Maulana, terima kasih untuk semua anggota timnas U19. Hari ini, kalian telah bentangkan harap yang tinggi untuk kami semua.

Ya, tim asuhan Fahri Husaini ini lolos ke putaran final Piala Asia tahun depan di Uzbektistan. Indonesia menjadi juara grup K setelah bermain imbang 1-1 dengan Korea Utara, Ahad (10/11/2019) malam di stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Sebelumnya kita menang 3-1 atas Timor Leste dan 4-0 atas Hongkong.

Ingat Iswadi



Hasil imbang 1-1 vs Korut ini langsung mengingatkan saya pada laga 43 tahun silam, tepatnya 26 Februari 1976. Di tempat yang sama Iswadi Idris, Johanes Auri, Risdianto, Oyong Liza dan kawan-kawan, di hadapan 100 ribu penonton, juga bermain imbang dengan Korut bahkan hingga waktu perpanjangan, angka 1-1.

Saat itu stadion seperti hendak runtuh. Iswadi dkk mampu memperlihatkan permainan yang luar biasa. Wiel Coerver, pelatih asal Feyenord, Belanda, benar-benar mampu menerapkan strategi dengan kondisi pemain.

Namun, kita akhirnya gagal ke Olimpiade Montreal, setelah kalah dalam drama adu penalti, 4-5. Padahal kita sempat unggul 3-2. Tapi, Oyong Liza, gagal pada penalti ke-4. Korut berhasil menyamakan 3-3, bahkan Korut berhasil membalik 4-3.

Risdianto, sayap Warna Agung berhasil menyamakan 4-4. Dalam babak sudden death, Korut kembali unggul 5-4. Sayang Anjas Asmara, pemain muda yang sedang top-topnya gagal menyamakan hingga otomatis Korut keluar sebagai juara final Pra Olimpiade 1976 grup II Zona Asia A itu.

Kalau berhasil maka kita untuk kedua kalinya bisa tampil di olimpiade. Tahun 1956, Ramang cs tampil di Olimpiade Merlbourne, Meski demikian tim asuhan Tony Pogagnic itu hadir berdasarkan undangan dari tuan rumah. Saat itu belum ada putaran penyisihan. Dan kita beruntung di laga pertama menang wo 5-0 atas Vietnam Selatan yang tidak datang. Di laga delapan besar ( saat itu hanya 16 negara yang diundang dan empat dari Asia Tenggara, selain kita dan Vietsel, Malaya dan Thailand ikut serta ), kita bertemu Soviet. Di laga awal (29/11/56) Ramang mampu menahan Soviet 0-0, tapi di laga play off (1/12/56) kita kalah 0-4.

Jadi, dapat saya pahami jika, ratusan ribu penonton tetap memberi apresiasi yang luar biasa. Mereka sadar, gagalnya kita ke Olimpiade Montreal itu semata-mata karena faktor luck. Hingga 30 menit setelah pertarungan usai, mereka masih tetap berdiri dan bersorak.

Harapan

Di Piala Asia U 20 atau dulu dikenal sebagai kejuaraan junior Asia itu, kita pernah sukses menjadi juara bersama Burma (Myanmar) tahun 1961. Tahun sebelumnya kita berada di peringkat 4 setelah kalah dari Jepang 2-3. Lalu pernah juga berada di posisi ke-3 setelah menghajar Malaysua 3-0, tahun 1962.

Dan dua kali menjadi runner up. Tahun 1967 kita kalah 0-3 di final dari Israel. Laga itu juga sempat jadi ribut, karena kita tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel.

Lalu tahun 1970, Bob Hippy dan kawan-kawan kembali mengulang sejarah menjadi runner up setelah kalah juga 0-3 dari Burma.(sumber data Wikipedia AFC U19).

Jadi, muncul di putaran final Kejuaraan Asia junior atau U19, bukan barang baru. Namun keberhasilan David Maulana dan kawan-kawan sungguh telah membentangkan asa yang luar biasa untuk kita.

Ya, maklum sejak 1970 atau 49 tahun alias hampir setengah abad, sepakbola kita tenggelam. Jadi, begitu Bagus Kahfi menggetarkan gawang Korut dari titik penalti, rasa bahagia membuncah di hati saya.

Anak-anak asuhan Fahri Husaini ini bukan hanya berhasil lolos ke Uzbekistan, tapi juga mampu memperlihatkan permainan indah. Mereka seperti sekumpulan pemain yang sudah berkumpul sangat lama. Mereka mampu membuat passing dengan sontekan tumit saat rekannya bergerak dari belakang atau biasa dikenal dengan istilah coming from behind. Cara ini hanya bisa dilakulan dengan kepercayaan tinggi. Dan yang biasa melakukan hal itu adalah pemain-pemain dengan high skill (kemampyan tinggi).

David, Fajar Fathur Rachman, Bagas, dan kawan-kawan dalam tiga laga itu, mampu memperlihatkan semuanya begitu rupa. Jadi, tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa timnas kita kelak akan mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara Asia.
Sungguh tidak berlebihan asa yang kita bentangkan ini.

Meski demikian, kita, bukan hanya orang tua para pemain, klub tempat pemain bernaung, PSSI, KONI, Kemenpora, dan kita semua wajib menjaga mereka. Jangan ada hal-hal buruk yang menyentuhnya.

Saya jadi teringat tim nasional Jepang dan Kosel sebelum mereka seperti sekarang. Semua pihak saling bahu-membahu untuk menjadi para pemain mereka. Jadi, jika Jepang dan Korsel begitu hebat, tak aneh.

Mengapa kita perlu menjaga mereka semua? Jawabnya hanya satu, sepakbolalah yang menyatukan kita. Di sepakbola dan di dunia olahraga kita tak mengenal latar belakang. Ketika atlet kita turun, semua kita memberikan dukungan tanpa bertanya apa dan siapa.
Jadi, sekali lagi, kita bersatu untuk Indonesia yang lebih baik.

Maju terus anak-anak kita…

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Sepakbola Senior]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com