Pertandingan Timnas U-19 Indonesia vs Hong Kong berakhir dengan skor 4-0 di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Jumat (8/11/19) malam.

BANGGA. Itu yang meluncur dari hati saya ketika melihat gol indah sang kapten timnas U 19, David Maulana. Bukan hanya menambah jumlah gol kemenangan, tapi tendangan bebas yang dilesakkannya luar biasa. Ya, Indonesia menang 4-0 atas Hongkong dalam laga penyisihan Piala Asia di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Jumat (8/11/19) malam.

Ini kemenangan kedua tim asuhan Fahri Khusaini itu. Rabu (6/11/2019) di tempat yang sama Garuda muda kita menggasak Timor Leste 3-1. Dan laga terakhir Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa akan menghadapi Korea Utara. Tetap terus jagalah semangat dan momentum ini agar mimpi tentang timnas kita menapak di Piala Dunia U20 dua tahun mendatang tetap menyala.

Jujur, tim ini memang punya materi yang baik. Punya harapan yang gemilang. Beberapa pemain bahkan telah memperlihatkan kelasnya berada di atas rata-rata. Sebut saja: David Maulana, Bagus Kahfi, Fajar Fathur Rachman, dan beberapa lainnya. Jika tak salah jalan, saya yakin anak-anak kita ini akan menjadi pemain-pemain yang membanggakan.



Jangan Marah

Fahri Khusaini, pelatih timnas U19 yang juga mantan pemain timnas kita, melontarkan kemarahannya pada para suporter. “Marah pada federasi itu soal lain, tapi ini anak-anak 17 tahunan. Mereka butuh dukungan!” katanya seusai laga melawan Hongkong.

Ungkapan mantan gelandang timnas 1980-90 itu wajar dan lumrah. Tapi, sebagai saudara, ya hubungan Fahri dengan saya wartawan Kompas/BOLA, sangat dekat sejak ia pertama merumput di Bea Cukai Jakarta, Persija Timur, dan Timnas, saya bersama beberapa sahabat wartawan sepakbola saat itu (alm. Riang Panjaitan dari Sinar Pagi, Eddy Lahengko dari Sinar Harapan/Suara Pembaruan, Bambang Kendro dari Berita Buana, dan Munajad Cader alm dari Berita Yudha) menjadi saksi perjalan Fahri berharap agar Fahri tidak terpancing. Ungkapan itu sudah cukup. Amarahmu justru akan mengganggu.

Sekadar mengingatkan, di eramu dulu, juga tak banyak suporter. Bahwa prestasi timnas kita saat itu juga kurang bagus, itu soal lain. Tapi, Fahri tetap jadi pemain yang mampu memperlihatkan kelasnya. Tularkan itu. Tularkan pada adik-adik atau anak-anakmu itu. Tanpa pekik berlebih, anak-anak tetap bisa tampil maksimal. Saya percaya Fahri mampu mengatasi itu, sama seperti keyakinan saya bahwa David Maulana dkk bisa jadi pemain besar.

Kita juga tidak perlu meratap-ratap agar para suporter mau datang. Kita berharap saja ada suporter yang mampu memisahkan dua persoalan yang berbeda.

Pertama terkait Federasi dalam hal ini pemilihan ketua umum, wakil ketum, dan para exco itu adalah persoalan yang sangat mirip dengan pilpres. Tidak semua pihak bersepakat dengan yang terpilih, tapi kongresnya telah usai. FIFA, AFC, dan pemerintah telah merestuinya, jadi tak perlu lagi dipermasalahkan. Sama seperti pilpres, presidennya telah terpilih dan pemerintahan telah terbentuk, memilih atau tidak memilih persoalan sudah selesai.

Jika kita permadalahkan proses dan caranya, itu sudah relefan lagi. Kasat mata semua proses pemilihan yang melibatkan banyak pihak, ya seperti itu. Bahasa terangnya, gak ada kejujuran 100 persen dan tidak akan pernah menyenangkan semua pihak.

Kedua, tim nasional adalah produk dari semua itu. Jika kita ingin tim nasional berprestasi, ya berilah dukungan yang tulus. Jika ingin anak-anak kita memenuhi impian kita, maka dukunglah. David dan kawan-kawan bukanlah ketum, waketum, dan exco PSSI. Jadi salah alamat jika mereka yang mengaku para suporter memboikotnya.

Pemilih para pemain tidak melalui kotak suara, tapi melalui perjalanan pencarian bakat.

Jadi, Fahri, David, Bagus, Fajar dan suelruh anggota tim, jaga terus asa ini. Jaga terus momen ini. Semoga selalu memperoleh kemudahan, aamiin….

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Sepakbola Senior Anggota KBP PSSI]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com