Duta Besar RI, Sinyo Harry Sarundajang.

BANYAK event dan multi event olahraga internasional yang saya liput sejak 1982. Banyak pengalaman dan kenangan yang menempel di kepala saya. Tapi, kenangan dan pengalaman khusus di Sea Games ke-30, Manila 2019, rasanya akan menjadi yang terbaik.

Bukan soal gamenya. Bukan juga soal pencapaian medali yang nyaris 100 persen dari perolehan di Seag-29, Kuala Lumpur. Bukan soal-soal teknis. Tapi ini soal yang berbeda sama sekali.

Adalah Duta Besar RI, Sinyo Harry Sarundajang, ya ini soal beliau. Sejak pertama bertemu di Bandara internasional Ninoy Aquiono, Manila, Filiphina, Sabtu dinihari (1/12/19), ada yang berbeda.



Meski sudah dinihari dan sudah agak lanjut usia (maaf Oom), senyum beliau terlihat sangat tulus, sangat bersahabat saat menyambut Menpora Zainudin Amali. Ya, senyum yang tidak dibuat-buat.

Maaf, banyak senyum yang selama ini diumbar saat menyambut tamu, gesturnya tidak tulus.

Kesan pertama saya langsung dijejali oleh sikap yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sekali lagi, banyak -event_ dan multi event internasional yang saya liput, suasananya sangat berbeda. Pak Dubes, masih menyempatkan duduk sebentar sebelum meninggalkan hotel Diamond, Manila. Saat itu jam sudah menunjukkan 01.30.

Jujur, saya terkejut ketika muncul ke direstoran untuk sarapan pagi, Pak Dubes sudah di sana. Bahkan menurut salah satu stafnya Abun (Agus Buana), Pak Dubes sudah 30 menit.

Tepat jam 10.oo, Menpora Zainudin Amali, menuju dapur atlet. Pak Dubes ternyata ikut bersama menpora. Di dalam mobil Dubes, keduanya terlihat bercengkrama. Sejak itu, keduanya: Menpora dan Dubes nyaris tak terpisahkan.

Usut-punya-usut, keduanya ternyata bersahabat. Keduanya dari Sulawesi Utara, Menpora dari Gorontalo, Dubes dari Minahasa. Keduanya seperti seorang senior dan yunior, seperti adik-kakak.

Sikap ramah Dubes, ternyata juga bukan hanya ke Menpora saja. Kepada siapa pun ia bersikap demikian. Bahkan berulang kali, ketika ada orang yang meminta swafoto bersama, Dubes selalu mengajak Menpora, begitu pun sebaliknya. Keduanya seperti bintang yang selalu jadi objek foto bersama.

Seandainya semua dubes kita seperti Sinyo, mungkin rasa aman dan nyaman warga negara kita yang ada di wilayahnya, akan tumbuh besar. Dubes adalah orang tua bagi warga negara kita yang ada di wayahnya.

Ya, Sinyo juga dikenal berani dalam membela WNI. Bahkan beliau dalam catatan juga disebut beberapa kali ikut langsung membebaskan WNI dari tangan penculik.

Modalnya untuk jadi demikian hebat dimulai saat ia diberi kepercayaan untuk menyelesaikan kasus Obet (Robert) dan Acang (Achmad) sebutan saat kisruh ‘ribut’ antara warga Maluku yang beragama Kristen dan warga Maluku yang beragama Islam.

Sinyo dipilih karena tokoh beragama kristen tapi banyak bersekolah di sekolah islam.

Itu juga yang membuat saya kagum, saat mengucapkan salam, langgamnya kental sekali. Bahkan kabarnya ia juga dapat membaca Quran dengan baik. Jadi, dengan kondisi itu Sinyo dapat diterima oleh kedua belah pihak hingga perdamaian bisa terjadi hingga hari ini.

Suatu siang, saat di hotel Diamond, tepatnya saat Menpora dan PSSI menunggu kedatangan Menko PMK, Muhadjir Effendy, Sinyo berkisah tentang Duterte, ya Rodrigo Duterte, Presiden Filiphina. “Kami bersahabat sejak masih muda. Waktu itu Diterte Walikota Davao, saya Walikota Bitung,” katanya.

Menurut Dubes, dia dan Duterte bukan hanya saling kunjung, tapi beberapa kali jalan hanya berdua. “Saat berdua itu Duterte bertanya, mengapa saya paham betul islam,” lanjut Sinyo.

Ia lalu menceritakan kisah sekolah di tempat-tempat islam. “Islam itu agama yang _rahmatan lilalaamiin-,” tukas.

Dari sanalah kabarnya Duterte mulai mencerna tentang islam. Duterte makin cinta karena nenek dan ibunya yang berasal dari Mindanao, juga beragama islam.

Kembali ke Seag-30, sungguh saya angkat topi tinggi-tinggi untuk Pak Duta Besar yang senang disapa Oom, luar biasa.
Malam setelah timnas sepakbola kita kalah dari Vietnam di laga final, Oom Sinyo saya perlihatkan video saya saat manggung di tvone sebagai komentator tinju. Wajahnya sangat serius, lalu ia menolah ke saya yang ada di kirinya. Wajahnya begitu serius, dan tiba-tiba: “Ngana memang bajingan!” katanya serius.

“Maksudnya kamu hebat!” tiba-tiba Menpira Zainudin Amali menyela. “Di kampung kami ungkapan Pak Dubes itu biasa dan bermakna pujian. Bahasa gaul deh!” lanjut Menpora agar saya tak salah tangkap, hehehe..

Saya paham betul karena banyak sahabat saya berasal dari sana, Eddy Lahengko dan Wailan Walalangi ada represtantif dari sana. Jadi, saya paham betul dengan ungkapan itu.

Ya, apa pun juga saya kagum dan berterima kasih untuk beberapa hari menimba ilmu dari Duta Besar RI untuk Filiphina, Dr. Drs. Sinyo Harry Sarundajang. Terima kasih Oom Sinyo..

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Olahraga Senior]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com