by

BOY BOLANG PUN TERPAKSA TINGGALKAN TANAH AIR

-M. NIGARA-64 views

MATAHARI sudah mulai condong ke Barat, ketika Binter GTO warna hitam milik saya masuk ke sebuah rumah di daerah Roxy, tepatnya di jalan Balik Papan, Jakarta Pusat. Dari dalam rumah, lelaki gempal berkulit putih yang murah senyum itu menyambut saya.

“Eeee Nigara…., masuk Nig, masuk,” katanya sambil menenteng kotak. “Sorry gue lagi ngepak-ngepak,” katanya lagi.

Hari itu sekitar bulan September 1980. Semalam saya dapat tugas dari bos saya, desk Olahraga Harian Kompas, Valens Doy. “Besok Nig tugas ke rumah Boy Bolang ya,” perintahnya. “Kasihan, besok dia dan keluarga harus meninggalkan Indonesia,” lanjut Bang Valens.

Yang Pertama

Ya, lelaki gempal berkulit putih yang murah senyum itu, Boy Bolang namanya. Promotor tinju Indonesia pertama yang bercita-cita memanggungkan petinju Indonesia tampil di kejuaraan dunia. Boy juga promotor Asia pertama yang bisa bekerjasama dengan Don King dan memperoleh hak mementaskan Saoul Mamby, juara dunia kelas super Lightweight (super ringan) versi WBC. Benar Muhammad Ali pernah tampil Jakarta vs Rudi Lubers, 1973 dan Manila melawan Joe Frazier, 1975, tapi kala itu Don Kinglah promotornya.

Jadi, tak heran banyak orang yang suka, tapi lebih banyak orang yang iri. Akibatnya, sejak Boy bertemu dengan Don King dan beritanya dimuat di Kompas, goncangan nyaris tak berhenti menimpanya. Tiba-tiba, bertubi kisah miring mencuat. Kalau menggunakan istilah sekarang, Boy dibuli habis.

Persis seperti Don King, Boy pun menganut paham yang sama. Right or wrong, in news paper maksudnya baik atau buruk yang penting jadi bahan omongan. Dengan begitu, maka pertarungannya membuat rasa penasaran. “Itu modal yang luar biasa,” ujar Boy ketika hal itu saya tanyakan.

Kisruh

Seiring dengan itu, orang-orang tertentu makin jelas merangsek. Mereka malah tak lagi abu-abu. Pekerjaan Boy yang sudah di atas 50 persen harus berpindah tangan. Kebetulan, Boy orang yang sering alpa pada aturan. Bagi dia asal semua bisa jalan, maka persoalan bisa beres.

Itulah peluang masuk bagi pihak lain. Maka mencuatlah soal dugaan penyelewengan anggaran. Dan, Boy tidak bisa mengelak lantaran tak pernah bisa memberikan bukti. Setiap uang yang ia keluarkan, patokannya adalah kepercayaan.

Tarik-menarik terjadi di tanah air. Di Amerika, Don King berulang kali mengontak sambil memberi limitasi. Boy makin terjepit, investor yang awalnya sudah siap menggelontorkan dana, tiba-tiba mundur. Belakangan investor itu bergabung dengan promotor yang menjadi pengganti. Di sisi lain, tunggakan makin membesar dan para penagih sudah menggunakan cara-cara primitif.

Dalam posisi terjepit, Boy terus berkomunikasi dengan trio sahabatnya di Kompas. Bang Valens, Mas Sumohadi, dan Mas Sunito. Dari ketiganya juga Boy disarankan menyerah. “Semua untuk keselamatan,” saran ketiga senior saya itu.

Ya, projek Americo sudah bergeser dari sekedar kejuaraan dunia tinju ke politik praktis. Malah secara terang-terangan Americo akan dijadikan PR bagi bangsa. Ya, lagi-lagi terkait Timor Timur. Sebelumnya PSSI Binatama yang berlatih ke Brazil, telah dijadikan alat untuk memperlihatkan bahwa kita dengan Portugal tidak ada apa-apa. Brazil satu dari empat negara yang menggunakan bahasa Portugis.

Jadi, semua tekanan pada Boy jelas muaranya. Americo harus sukses menjadi juara dunia, tapi bukan Boy yang jadi pahlawan.

Boy akhirnya benar-benar menyerah. Tapi, tidak cukup dengan itu. Boy pun diancam dan terancam. Pilihan satu-satunya adalah hengkang.

Ya, sore itulah saya datang untuk menyaksikan kepedihan hati dari seorang Boy Bolang dan keluarga. Anak-anaknya masih kecil-kecil, istrinya hanya seorang ibu rumah tangga. Dan Boy Bolanglah yang memprakarsai semua kehebatan. Tapi, ketamakan menghancurkan segalanya.

Americo bukan hanya gagal merebut gelar juara dunia kelas super ringan versi WBC dari Mamby, tapi pertarungannya sendiri tidak sukses. Dan, kekisruhan selepas pertarungan terjadi lebih seru dibanding kisruh saat Boy masih ada. Bahkan King sendiri mencabut lisensi kepromotoran sang promotor. Hebatnya, King mengembalikannya kepada Boy Bolang.

Boy sendiri akhirnya sukses membuat Elly Pical juara dunia kelas terbang IBF setelah menang TKO-8 atas Yudo Chun, juara bertahan dari Kprea Selatan 3 Mei 1985. Ya, meski empat tahun sebelumnya saya menyaksikan linangan air matanya saat dipaksa hengkang dari rumahnya, ternyata Tuhan mengaturnya dengan indah. Boy tersenyum lebar saat mengantar Elly menghadap Presiden Soeharto sambil menenteng sabuk juara dunia.

Saya jadi teringat kata bijak Jim Morrison: Tersenyumlah, meskipun itu senyum sedih, karena hal lebih sedih daripada senyum sedih adalah kesedihan karena tidak tahu bagaimana cara tersenyum.

Semoga Bang Boy Bolang yang saat ini telah berpulang, masih bisa tersenyum…

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Olahraga Senior]

News Feed