by

Nestapa, Budi Santoso, Mantan Pemain Timnas 1960-70an

BEDA Evan Dimas, beda pula Budi Santoso (berkaos kuning). Meski keduanya sama-sama pernah merumput di Persebaya, Surabaya dan tim nasional. Tentu rentang-jarak antara keduanya sangat jauh berbeda.

Saat Budi Santoso merumput, Evan Dimas belum dilahirkan. Bahkan kedua orang tuanya masih menjadi bocah.

Perbedaan keduanya sangat jelas, Budi saat bermain, kondisi jamiman bagi para pemain tidak seperti saat ini. Sepakbola kala itu, hanya menjadi kegemaran saja.
Jadi, belum bisa memberi jaminan kehidupan. Kalau pun ada bonus, jumlahnya ya masih terlalu minim.

Itu sebabnya banyak mantan pemain dan pemain nasional era 1960-akhir 1990an yang hidupnya tak menentu. Bahkan, tidak sedikit pula yang akhirnya meninggal dengan kondisi menyedihkan. Jauh dari puja-puji, bahkan sekedar uluran tangan pun tak mereka peroleh.

Bahu-Membahu

Hari-hari ini, para mantan pemain sedang bahu-membahu. Mereka mencoba bergotong royong, mencari dukungan untuk membantu sesama mereka yang kurang beruntung.

Adalah Heli Maura, mantan pemain nasional PPD 1989 dan beberapa mantan pemain yang lain menjadi motor untuk membantu. “Saya kebetulan tahu kondisi mas Budi Santoso,” katanya pada saya Rabu (8/1/2020) melalui telpon.

“Dia (Budi Santoso) sendiri sesungguhnya tidak meminta-minta. Tapi, saya dan teman-teman yang berinisiatif untuk ikut meringankan bebannya,” lanjut mantan pemain klub Galatama Jaka Utama, Lampung dan Yanita Utama, Bogor.

Heli lalu bertanya, dari mana saya tahu kisah ini? Begini, Rabu malam itu, Menpora Zainudin Amali mengirim WA agak panjang. Intinya ada pihak yang meminta bantuan terkait kondisi Budi Santoso. Seperti biasa, saya melakukan re-chek, maklum zaman seperti sekarang banyak orang menggunakan medsos untuk apa saja, termasuk menipu.

Menpora sangat perihatin dengan kondisi para mantan atlet. Tetapi untuk tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, maka langkahnya sangat ketat sebelum melangkah.

Mantan pemain nasional dan ikon di masanya, Rully Neere, sahabat saya sejak kami sama-sama bermain dalam berbagai turnsmen di tingkat SMA, saya kontak. Rully mengatakan Heli-lah yang jadi motor.

“Pak Ronny Tanuwijaya yang pertama memberikan bantuan dan telah saya sampaikan, ” lanjut Heli. “Awalnya mas Budi menolak. Tapi, saya bilang jangam begitu. Alhamdulillah beliau akhirnya mau juga,” katanya lagi.

Ronny Tanuwijaya adalah seorang pengusaha yang gila bola. Dia sering kali mengumpulkan mantan pemain untuk diajak main. “Mereka kan para bintang, kalau ujug-ujug dikasih duit, bisa tersinggung meskipun sesungguhnya mereka membutuhkan. Ya, saya ajag mainlah biar sama-sama happy,” tutur Rotan, begitu saya menyapanya, saat ditanya apa alasan di balik kegiatannya itu.

Hebatnya, Rotan bukan hanya mengajak main di dalam kota, tapi tidak jarang ke luar kora dan luar negeri.

Sementara Budi Santoso adalah pemain sezaman dengan Waskito, Abdul Kadir, Jacob Sihasale, Sutjipto Suntoro dan lain-lain. Dan bukan hanya Budi Santoso yang mengalami kesulitan, masih banyak lainnya.

Tinggal di gubuk

Saat ini mantan pemain belakang Persebaya itu tinggal sendirian di sebuah rumah petak. “Cuma pake dinding triplek. Ngenes aku,” lanjut Herli.

Masih kata Herli, ukuran rumah atau tepatnya gubuk yang ditempatinya ukurannya 2 x 3 meter saja. Istrinya sudah meninggalkan dia beberapa lebih dulu. Jadi Budi hanya tinggal sendirian di gubuk itu.

Heli, Rully Neere, dan banyak mantan pemain yang hingga hari ini terus bahu-membahu untuk membantu teman-teman mereka yang tidak beruntung. Kabar terakhir, mantan gelandang nasional elegan Junaedi Abdillah dari klub Indonesia Muda itu sedang menderita sakit juga.

Pelajaran

Kisah Budi Santoso dan para mantan pemain masa lalu, hendaknya bisa dijadikan sebagai pelajaran oleh para pemain saat ini. Seperti kita ketahui pemain sekaliber Evan Dimas sudah memiliki penghasilan sangat dahsyat. Tapi, jika tidak mampu mengelolanya, maka bukan tidak mungkin bernasib seperti para seniornya.

Di sini peran APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia) kita butuhkan. Sebagai asosiasi yang berada di bawah FIFPRO, tugas mereka sangat penting untuk pendampingan.
Selain mengawal dan menjamin kontrak para pemain pro terbayarkan dari klub, juga diharapkan agar dapat ikut membantu mengamankan penggunaannya.

Semoga semua yang kita saksikan bisa menjadi pelajaran yang berharga. (*)

Oleh : Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya.

News Feed