by

Susahnya Mengubah Mindset

SAYA mengamati terus respon pembaca atas tulisan Anab Afifi yang meramalkan ratusan kampus bakal mati dalam beberapa tahun mendatang karena terlambat shifting menghadapi disrupsi digital. Saya sependapat dengan ramalan itu. Meski banyak yang meragukan. Bahkan membantahnya.

Sebagai praktisi komunikasi, saya sudah melihat tanda-tanda itu sejak tiga tahun lalu. Ketika perusahaan saya baru mulai mengelola jasa webinar sebagai sarana rapat online, mengajar online, seminar online, training online dan assessment online 2 kali setahun sampai 1.300 kali setahun.

Saya sudah bisa membayangkan, lembaga pendidikan yang masih mempertahankan metode belajar offline 100% akan kalah. Lembaga itu bukan kalah karena metode belajar online lebih canggih, melainkan keok karena kalah efisien.

Mari kita bandingkan operational cost dua lembaga ini: Lembaga bimbel offline dan bimbel online. Anggaplah lembaga bimbel itu punya 100 kantor. Sedangkan lembaga bimbel online hanya punya 1 kantor. Keduanya mengajarkan 5 mata pelajaran.

Apa yang Anda lihat?

1/ Lembaga offline harus membayar honor 500 guru. Lembaga online hanya perlu membayar honor 5 guru.

2/ Lembaga offline harus membayar sewa 100 gedung. Lembaga online hanya membayar sewa 1 server.

3/ Lembaga offline harus membayar listrik 100 gedung. Lembaga offline hanya perlu membayar listrik 1 gedung.

4. Lembaga offline harus membayar 400 cleaning service, 200 office boy dan 300 satpam. Lembaga online hanya pertlu membayar 4 cleaning service, 2 office boy dan 3 satpam.

Bila ditulis semua, tentu masih banyak lagi daftarnya. Tapi dari 4 itu saja, sudah bisa dibayangkan betapa mahalnya biaya bimbel offline dan betapa murahnya biaya bimbel online. Padahal, biaya-biaya itu harus dibayar konsumen alias siswa.

Pertanyaanya, alasan apa yang bisa memaksa siswa belajar offiline yang begitu mahal, kalau belajar online begitu murahnya? Di sinilah lembaga bimbel offline kehilangan daya saingnya. Inilah salah satu penyebab kejatuhannya.

Kelak lembaga pendidikan yang tidak mau berubah akan ditinggalkan konsumen. Sekolah-sekolah yang modern pada tahun 60-an, sekarang banyak yang kekurangan murid.

Bukan karena mutunya buruk. Tetapi sarana dan prasarananya sudah ketinggalan zaman. Hebat pada masa lalu, tidak menjadi jaminan sukses di masa depan karena kuncinya ada pada kecepatan beradabtasi pada perubahan. Celakalah, kalau yang tidak mau berubah ternyata kita sendiri.

Oleh : Joko Intarto, Praktisi jasa video conference, berkantor di www.jagaters.id.

News Feed