by

“Potong, Sumbang”

Opiniindonesia.com – LAMBAT dan terlalu santai merupakan tanggapan Indonesia pada awal kemunculan Covid-19. Remeh dan menganggap virus ini tidak akan menyebar sampai daratan Indonesia pada akhir tahun 2019 dipatahkan dengan adanya 2 kasus pertama pada 2 Maret 2020 di Jakarta (kompas.com).

Hingga saat ini DKI Jakarta menjadi episentrum adanay endemi covid-19. Dibicarakan secara luas juga bahwa kasus ini terinfeksi dari seorang WNA Jepang yang sedang berkunjung di Indonesia. Paparan data tersebut menunjukan bagaimana respon pemerintah yang sangat lambat terhadap penyebaran covid-19.

Akses keluar masuk batas wilayah negara tidak diperketat dari awal kemunculan virus ini yang sangat cepat dan mudah sekali menyebar. Terlihat saat ini imbasnya begitu luar biasa pada masyarakat khususnya termasuk perekonomian yang menjadi perhatian utama sejak awal kemunculan virus ini. Masyarakat Indonesia secara luas seolah ditempatkan pada posisi kedua setelah sistem perekonomian luar negeri sejak adanya virus covid – 19.

Hanya membutuhkan kurang lebih satu bulan pandemi global ini mampu menginfeksi 2.738 orang per 7 April 2020. Bukan hanya DKI Jakarta sebagai episentrum namun seluruh wilayah di Indonesia sudah terinfeksi pandemic covid-19 ini.

Pemerintah secara langsung dan tegas mengeluarkan banyak anjuran salah satunya yang utama yakni social distancing atau saat ini physical distancing dalam artian adanya pembatasan kontak sosial dan fisik antara satu ornag dengan orang lain. Berbagai kalangan dari berbagai macam aspek mengutarakan pendapatnya terhadap anjuran pembatasan ini. Adanya pembatasan kontak sosial ini secara drastic langsung sangat terlihat di ruang terbuka atau jalanan terlebih sejak digemborkannya tagar #dirumahaja.

Tagar yang sangat meluas ini sangat terlihat jelas bagaimana dampaknya terhadap para pekerja yang mengandalkan lapaknya di jalanan. Tanpa adanya orang atau pembeli di jalanan para pengais uang di jalanan jelas sangat terdampak dengan adanya anjuran tersebut. Perekonomian kelas mengenah kebawah seketika berantakan dan kondisi masyarakat bawah menjadi imbasnya. Apabila melihat pandangan luas mengenai lockdown secara tegas maka bagaimanapun masyarakat kelas bawah tidak terbayang bagaimana kondisinya. Mereka yang mendapat penghasilan harian jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan selama dilakukan lockdown. Masih pada tahap social distancing saja mereka sangat terasa dampaknya apalagi secara tegas menutup akses.

Pada kali ini terdapat ide atau usulan yang mungkin bisa dipertimbangkan pemerintah dalam melaksanakan penutupan akses adalah dengan subsidi bagi mereka yang benar – benar membutuhkan.

Namun dana yang digelontorkan untuk menangani virus ini terfokus pada aspek kesehatan. Hal ini tidak masalah mengingat medis menjadi garda terdepan dalam penanganan.

Oleh karena itu tidak salah nya untuk mengajak masyarakat Indonesia yang menengah ke atas untuk mendonasikan berapa persen untuk donasi masyarakat terdampak.

Fokuskan pada usulan kali ini yakni bagi mereka para pekerja pemerintahan dan kenegaraan, PNS, pengusaha kelas atas, influencer, enterntament dan para pekerja dengan penghasilan besar.

Pemerintah dirasa mempunyai data yang valid dalam masalah pajak penghasilan masyarakatnya. Memang saat ini sudah banyak open donation dari berbagai kalangan.

Akan tetapi dirasa belum merata dan kurang tepat sasaran. Jika dilakukan secara tegas dan terkodinir oleh pemerintah maka kondisi masyarakat kelas bawah terselamatkan. Cara kerja yang diusulkan bisa berupa pemotongan pajak yang telah dibayarkan setiap warga negara pada setiap daerah.

Ide seperti ini bisa direalisasikan dengan membutuhkan kerjasama antara badan keuangan daerah, dinas sosial, pemerintahan kecamatan dan desa setiap daerah kabupaten serta gugus depan di setiap desa.

Kemudian setelah bantuan dana terkumpul bisa di alokasikan sesuai dengan data masyarakat miskin di setiap desa menyesuaikan data dari pemerintahan masing – masing desa. Dana yang terkumpul bisa di alokasikan untuk membeli barang kebutuhan pokok dan uang tunai untuk kebutuhan mendesak lainnya.

Saat ini tindakan secara konkrit dalam jangka pendek sangat dibutuhkan karena nyawa dan kondisi masyarakat lebih penting dari apapun. Pembagian sembaki yang sudah banyak dilakukan di setiap daerah terlihat masing ngambang dan serawutan dalam proses pembagiannya sehingga tidak maksimal.

Melihat berlangsungnya pandemik Covid-19 ini tidak bisa diprediksi akan sampai kapan berakhir karena mengingat cara pencegahan di negara kita masih belum maksimal. Oleh karenanya dengan adanya donasi seperti ini mampu menolong mereka yang tidak bisa menopang kebutuhan hidup jika harus dilakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) atau bahkan lockdown.

Oleh : Hasna Fauziah Noorsy, Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Malang

News Feed