by

Perangai Pongah Warga Menteng, yang Waras Mengalah

Opiniindonesia.com – Menteng dikenal sebagai lokasi paling elit di Jakarta. Harga tanah/rumah di Menteng dikenal tertinggi, begitu juga PBBnya. Sejarahnya, penghuni kawasan Menteng diawali oleh elit Belanda, elit Jepang, lalu elit Republik khususnya para perintis kemerdekaan dan pejuang angkatan 1945 baik tokoh politik sipil maupun militer.

Wapres Bung Hatta, Perdana Menteri Sutan Syahrir, Wapres Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Wapres Adam Malik, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, Waperdam Chairul Saleh, KH Idham Chalid, KH Subhan ZE dan ratusan lainnya tinggal di Menteng.

Dari kalangan militer ada Jenderal AH Nasution, Jenderal Soeharto, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal M. Yusuf, Wapres Jenderal Umar Wirahadikusumah, Jenderal M Panggabean, Jenderal Surono, Jenderal Amir Mahmud dan banyak lainnya.

Menurut ceritanya, walaupun penghuninya elit tapi suasananya (dulu) penuh keakraban. Zaman berganti. Penghuni lama wafat, ahli warisnya tidak mampu bayar pajak PBB atau ingin berbagi waris sehingga menjual rumahnya.

Penghuni Menteng mulai berganti dari tokoh dan pejuang ‘45 yang berwibawa dan kharismatik kini berangsur pindah tangan ke kelompok pengusaha yang sebagiannya pernah bermasalah hukum dan dibui, dan sebagian yang lain pongah karena berduit dan merasa duit bisa mengatur segalanya. Perubahan penghuni membawa banyak perubahan yang lain termasuk perubahan suasana dan “wajah” Menteng.

Penulis yang warga Menteng mengamati perubahan2 ganjil yang terjadi.
Pertama, penghuni baru yang berinisiatip menutup jalan umum disekitarnya, dengan menggunakan portal dan penjaganya. Rupanya penghuni baru ini ingin membawa tradisi di komplek hunian lamanya yang untuk keluar masuk kompleknya berportal yang selalu dijaga security.

Mereka selalu menggunakan alasan demi keamanan, padahal banyak rumah di Menteng di jaga Satpam, CCTV, ada patroli keliling dari kedutaan asing, polisi khusus dengan mobil ber tuliskan Object Vital Protection Service yang standby 24 jam dan cukup banyak pos polisi. Sejujurnya portal dan penjaganya itu mengganggu mobilitas kendaraan yang lewat karena sejatinya itu jalan umum.

Banyak pengguna jalan yang terpaksa harus berputar putar karena penutupan jalan itu. Tidak terkecuali yang akan sholat ke masjid. Sekurangnya merepotkan dan menjadi tidak nyaman sebab tiap kali lewat harus berputar atau minta dibukakan portalnya.

Kedua, banyak penghuni yang menguasai trotoar jalan di depan rumahnya sehingga para pejalan kaki terpaksa harus turun ke jalan kendaraan bermotor. Ada yang menempatkan pot pot besar di trotoarnya, membuat taman sendiri atau menjorokkan pot keluar dari pagarnya sedemikan rupa sehingga trotoarnya tidak bisa di lalui pejalan kaki.

Ketiga, memanfaatkan trotoar untuk rumah pos penjaga rumahnya.

Keempat, ada yang mengambil trotoar dan bodi jalan umum untuk parkir.

Kelima, ada penghuni yang memasang sendiri rambu rambu lalulintas disekitar rumahnya. Rambu liar. Dan meskipun tidak ada larangan stop atau parkir di jalan umum didepan rumahnya, si penghuni dengan pongahnya melarang mobil atau taksi yang berhenti atau parkir.

Keenam, ada pula yang membuat pagar rumahnya tertutup dan tinggi sekali laksana benteng. Dan kepongahan sebagian penghuni Menteng ini terus berjalan, entah karena luput dari pandangan dinas DKI dan polisi atau karena sejujurnya sulit menghadapi orang ber duit dan orang2 kuat.

Perilaku pongah diatas sebenarnya mengganggu penghuni yang lain maupun non-penghuni yang lewat. Tapi saya yang mendengar keluhan2 tsb menasihati santai dengan mengatakan zaman selalu berubah, yang sabar dan waras lebih baik mengalah.

Oleh : Fuad Bawazier, seorang politikus

News Feed