by

Kegiatan Memburu Dukun Santet Adalah Suatu Fenomena Politik?

Opiniindonesia.com – Hari-hari ini pencermatan saya tertuju pada akun-akun youtube pemburu dukun santet. Ada Ustadz Ujang Bustomi di Cirebon. Ada juga Gus Idris di Malang.

Mereka berdua setiap hari live streaming youtube, mempertontonkan penggerebekan terhadap dukun-dukun ilmu hitam.

Gus Idris membuka praktek pengobatan kepada masyarakat yang diduga terkena ilmu hitam, di ponpesnya di Malang. Dalam pengobatan itu kemudian dilakukan “interogasi secara spiritual”. Dari proses itu kemudian diketahui motif pengirim santet, siapa penyewa jasa dukun santet, berapa tarifnya dan siapa dukun santetnya beserta domisilinya.

Kemanusiaan, tampaknya sebagai motif perburuan dukun-dukun santet itu.

“Sudah membunuh berapa orang?”, Tanya Gus Idris. “Banyak”, jawab si dukun. “Tobat ya”, pinta Gus Idris. “Ndak bisa, ini kerjaan saya”, jawab si dukun.

Kemudian Gus Idris menanyakan para viewer yang menonton acara live itu. “Bagaimana ini pemirsa. Sering menyusahkan. Sudah banyak membunuh orang. Tapi kalau di bawa ke polisi ndak ada bukti”, tanya Gus Idris ke para viewer. “Sikat Gus”, itulah jawaban dari para viewer.

Gus Idris kembali ke si dukun. “Kalau begitu saya cabut ilmumu ya Mbah…”, kata Gus Idris.

Kemudian dilanjut sesi duel yang menegangkan. Ada yang disahadatkan lagi, ada yang diajak ke pesantren. Itulah ilustrasi perburuan dukun santet itu.

Apa hubungannya dengan politik?

Pada level ideal, politik adalah seni memperjuangkan idealisme untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Hanya saja politik identik dengan kekuasaan.

Pragmatisme sering mengemuka dalam berpolitik. Maka politik berubah bentuknya menjadi aksi berebut kuasa semata.

Tentu saja proses perebutan kuasa itu banyak praktik yang tidak sehat. Bisa dalam bentuk money politik, penggalangan massa secara kasar, black campaign, dan semacamnya. Itu terjadi di semua level. Pemilihan Kepala Desa, Kepala Daerah maupun Anggota Legislatif, sampai pilpres.

Apa kaitannya dengan dukun?

Hanya orang-orang yang memahami perdukunan tentunya yang bisa menjawabnya. Bisa jadi dibalik hiruk pikuk perpolitkan modern yang mempertontonkan rasionalitas, ada praktek-praktek perdukunan untuk kegiatan politik.

Seperti mempengarui massa pemilih melalui ilmu hitam, maupun menciderai lawan-lawan politik melalui para dukun santet. Ketika rasionalitas dan gagasan sudah tidak dianggap perlu, maka main kasar mencederai lawan melalui ilmu hitam menjadi pilihan sejumlah oknum. Bisa saja hal-hal begitu terjadi.

Bisa saja perlawanan Ustadz Ujang Bustomi dan Gus Idris kepada para dukun santet, pada awalnya hanya motif kemanusiaan. Membela orang-orang yang dicederai para dukun itu, agar para dukun ilmu hitam tidak mampu lagi berbuat jahat kepada sesama manusia.

Akan tetapi perlawanan itu bisa memiliki dampak dalam dunia politik. Perdukunan dalam kontestasi politik dengan menggunakan black magic, akan terkurangi akibat bertumbangannya para dukun santet. Kalau benar ada kaitan, tentu ini menceriakan dunia perpolitikan bangsa.

Adakah itu semua (perburuan dukun santet) akan benar-benar membawa iklim perpolitikan di tanah air menjadi semakin rasional?. Kita hanya bisa mencermatinya.

Harus jujur, atmosphere perpolitikan bangsa kita masih terjebak sinkretisme. Dibalik gemuruh perpolitikan modern yang mempersyaratkan rasionalitas, ada perilaku-perilaku yang kadang irasional dan susah dijangkau nalar. Termasuk melibatkan dukun.

Oleh : Abdul Rahman Sukardi