by

Ngeri, Disumpah dengan Kitab Suci, Tapi Tak Mau Amalkan Kitab Suci

Opiniindonesia.com – Di negeri tetangga, konon banyak pejabat yang sakti mandraguna. Saat dilantik jadi pejabat, Ia disumpah dengan kitab suci. Namun saat menjabat ia tak mau mengamalkan isi kitab suci. Ujungnya, ada yang masuk bui, ada yang stres, sakit-sakitan, dan hilang kesaktiannya.

Konon jika pejabat sering membaca kitab suci, bisa mengganggu kesaktiannya. Apalagi kalau ia akan mematuhi isi kitab suci, kesaktiannya bisa berkurang. Konon lagi, jika ia mengamalkan isi kitab suci secata total maka kesaktiannya bisa hilang. Akibatnya bisa fatal, Jabatan pun bisa melayang, akan diisi oleh yang sakti lainnya.

Padahal sebelum dilantik jadi pejabat, ia banyak berdoa dan membaca isi kitab suci. Juga berusaha keras mengamalkan isi kitab suci. Setiap panggilan adzan dan ibadah lainnya ia datangi dengan penuh semangat. Baginya adzan adalah pangilan Sang pencipta Tak ada loyalitas lain kecuali segera menghadap. Setiap desah napasnya diiringi dzikir sambil berharap dikabulkan doa-doanya.

Sebelum tidur, ia kembali membaca kitab suci. Diperiksa dengan teliti kalau-kalau ada perintah dalam kitab suci itu yang belum dikerjakan. Ia takut dosa jika ada perintah dalam kitab suci yang tak dikerjakan. Diperiksa pula jika ada larangan dalam kitab suci yang telah ia langgar. Selanjutnya ia kembali berdoa dan mohon ampun atas pelanggaran-pelanggaran yang dibuatnya.

Begitulah perjuangan hidup sebelum jadi pejabat. Bagi kalangan birokrat dijajaran eksekutif dan yudikatif, para ASN (aparatur Sipil Negara) yang masih menjadi staf hanya berharap hidup dari gaji yang pas-pasan. Gaji itulah yang harus dipakai menutupi segala kebutuhan hidupnya, mulai dari sewa rumah, transport, makan, dll.

Begitu beratnya hidup jadi staf dengan gaji minimalis sementara biaya hidup terus meningkat. Hari-hari dilewati dengan kesederhanaan dan penuh doa kepada sang Pencipta. Tak lupa ia meminta Sang isteri di rumah juga turut berdoa agar terjadi perubahan hidup. Capek juga hidup jadi staf.

Sedangkan bagi kalangan calon anggota legislatif, perjuangannya jauh lebih berat lagi. Mereka harus mengeluarkan modal besar untuk mengikuti proses demokrasi. Mulai dari biaya kampanye, biaya transport, poster, spanduk dan alat peraga lainnya.

Oleh karenanya dalam situasi itu ia harus dekat dengan masyarakat. Ia harus dekat dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan para pihak terkait yang bisa mendukungnya. Selain itu ia harus rajin pergi ke rumah ibadah agar dikenal publik sebagai orang sholeh. Ia juga harus sering memberi sumbangan agar dikenal publiksebagai orang dermawan dan baik hati. Dia juga harus banyak berdoa agar bisa sukses mendapat tiket sebagai pejabat negara.

Hari yang dinantikan tiba. Takdir Ilahi berkehendak untuk mengangkat derajat hambanya menjadi orang penting yang punya jabatan. Dengan pakaian jas lengkap yang keren ia menghadiri undangan pelantikan. Ia pun nampak gagah dan berjalan setengah melayang menuju ruangan pelantikan.

Acara pelantikan pun dimulai. Semua prosesi diikuti dengan penuh khusyuk. Bahkan Mungkin lebih khusyuk dari saat dulu ketika berdoa dan berharap mendapat jabatan. Saat itu ia mengikuti bacaan sumpah setiap kata demi kata tanpa salah.

Ketika ia mengucapkan sumpahnya, di atas kepalanya ada kitab suci al Quran. Bagi yang non muslim tentu dengan kitab sucinya masing-masing. Namun Setelah menjabat, hampir semua kata itu tak diingatnya lagi. Satu saja yang ia perlu ingat dan patuhi, yaitu perintah atasan. Jika dulu loyalitas pada Sang Pencipta, kini loyalitas agak geser dikit kepada pimpinannya.

Pelantikan usai sudah. Sang pejabat kini resmi menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai jabatannya. Begitu banyaknya tugas dan tamu yang harus dilayani. Perlahan tapi pasti, ia pun sudah tak sempat lagi mendatangi panggilan adzan seperti dulu. Bahkan untuk sekedar sholat dan berdoa beberapa saat saja sudah sulit mencari waktu yang tenang. Terkadang panggilan adzan itu datang saat ia masih menerima tamu atau bahkan sedang mengikuti rapat penting dengan pimpinan.

Jika sebelum menjadi pejabat ia rajin berdoa dan membaca kitab suci. Kini setelah menjabat, waktu begitu terasa sempit sehingga untuk sekedar membaca kitab suci pun sulit mencari waktu dan kesempatan. Konon lagi sebelum tidur akan membaca ulang untuk memeriksa apakah ada perintah dalam kitab suci yang belum dikerjakan.

Kalaupun ada waktu maka akan digunakan untuk membaca aturan-aturan baru yang terkait dengan tugas dan kewenangannya. Karena Khawatir salah mengambil kebijakan yang tak sesuai aturan terbaru. Dan ternyata aturan-aturan yang dipakai itu diproduksi oleh Legislatif atau aturan dan arahan dari pimpinannya. Dalam hal ini jangankan melaksanakan hukum-hukum yang ada lam kitab suci. Membacanya pun sudah tak sempat lagi.

Walhasil, hari-hari sebagai pejabat dilaluinya dengan berbagai kesibukan yang luar biasa. Seolah waktu begitu sempit untuk sekedar membaca kitab suci pun tak sempat lagi. Apalagi untuk mengkaji dan mengamalkannya.

Boleh jadi itulah awal dicabutnya keberkahan hidup, terutama keberkahan waktu. Akibatnya, hidup terasa sempit dan kehabisan waktu untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Ujungnya, ada yang stress, sakit-sakitan, ada yang mati muda, ada yang masuk Bui, dll. Walaupun ada juga yang menolak jabatan dan mengundurkan diri. Namun jumlahnya sangat sedikit, ini tergolong manusia langka yang hampir punah.

Padahal dengan rajin berdoa dan membaca kitab suci, akan mendatangkan ketenangan diri sehingga jauh dari stres. Apalagi tak sekedar membaca, tapi mengamalkan isi kitab suci itu maka akan dilimpahkannya barokah waktu dan mendapat pertolonganNya. Dengan waktu yang sama, semua tugas ditolong oleh Allah, semua cepat selesai sehingga waktu terasa lapang meski begitu banyak tugas.

Hal paling penting adalah, kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban di dunia dan akhirat. Setelah Pertanggungjawaban di dunia bisa kita selesaikan, tinggal siapkan diri hadapi pertanggungjawaban di akhirat. Bagaimana mungkin ketika menjabat disumpah dengan kitab suci tapi mengapa tidak mau mengamalkan isi kitab suci itu. Dan yang lebih berbahaya adalah ikut menghalangi diamalkannya isi kitab suci itu.

Semoga kita tidak termasuk orang yang disumpah dengan kitab suci tapi menghalangi diamalkannya isi kitab suci. Juga bukan tergolong orang yang termakan sumpah, stres tak bahagia didunia dan tersiksa diakhirat. aamiin.

Oleh : Wahyudi al Maroky, Dir. Pamong Institute