by

Hidup Bermakna dan Bahagia di Era Neuro Science

-DENNY JA-50 views

Opiniindonesia.com – Sekitar 800 tahun lalu, Jalaluddin Rumi, penyair dan mistikus itu menulis. “Spirit untuk memenuhi panggilan hidup sudah ditanam di hatimu.”

Tapi, apa yang ditanam di hatimu, di hati manusia, di hati homo sapiens?

Sejak 1950, datanglah ilmu baru yang cepat tumbuh: Neuroscience. Hati itu bahasa penyair dan mistikus. Dalam bahasa neuroscience, hati itu ada di otak manusia.

Tapi apakah yang ditanam di otak manusia, yang menurut Rumi menggerakkan individu memburu panggilan hidup?

Otak organ yang paling kompleks di tubuh manusia. Hadir 100 milyar jaringan syaraf di sana. Terjadi trilyunan koneksi sinapsis yang melahirkan pesan dan informasi.

Di dalam otak itu, ahli neuroscience juga menemukan apa yang disebut hormon bahagia. Happy hormones. (1) Itu adalah Depomine, Serotonin, Oxytocine dan Endorphine. Ini hormon yang jika tumbuh, dan dihidupkan, ia memberikan rasa bahagia, damai, ekstasi, serta rasa mengalami hidup bermakna.

Juga ditemukan di otak manusia, lokasi yang disebut parietal cortex. (2) Ini disebut juga semacam rumah spiritual di otak manusia. Jika aktif di bagian ini, rasa religiusitas, renungan spiritual, “siapakah aku, apakah Tuhan ada, apa itu makna hidup,” dan sebagainya, juga mengaum meminta jawaban.

Tak pula heran, sepanjang hidup Homo Sapiens, selama 200 ribu tahun manusia mencari makna hidup, menciptakan kepercayaan. Tak hanya roti dan daging yang diburu. Dikejar pula makna dan bahagia. Disingkap pula misteri.

Bisa dikatakan karena hadirnya rumah spiritual dan hormon bahagia di otak homo sapiens, manusia adalah hewan yang mencari makna hidup.

Kitapun membaca sejarah. Betapa kesadaran homo sapiens itu tidak sekali tumbuh. Kesadaran itu berevolusi sesuai dengan bertambahnya pengetahuan dan kecerdasan homo sapiens.

Jika sejarah kesadaran manusia itu diletakkan dalam museum, akan tampak dari balik kaca perubahan yang pernah kita sembah. Nenek moyang kita pernah menyembah ular piton, beruang, ikan paus, dewa perang, hingga zat yang maha kuasa bernama Ahura Mazda.

Lalu nama yang maha kuasa berbeda pada komunitas lain. Ia menjadi Elohim, Yahwe, Theos, Kryos, Pater hingga Allah.

Para filsuf, nabi, pemuka agama pun bersiteru berdebat. Lahirlah Animisme, Politeisme, Ateisme, Teisme, Panteisme, Agnotisme, Deisme, Personal God, Impersonal God. Aneka konsep Tuhan bertaburan sepanjang sejarah.

Homo sapiens terus mencari makna hidup selama 200 ribu tahun pencarian. Lahir aneka mitologi, kepercayaan, hingga agama. Di tahun 2020, tercatat 4300 agama yang dianut oleh 7 milyar homo sapiens.

Kini berita gembira bisa dikumandangkan. Pesan bahagia bisa disuarakan, mulai dari kampung di atas bukit hingga pasar di tengah kota.

“Wahai manusia, ilmu pengetahuan sudah menyimpulkan. Apapun warna kulitmu, asal negaramu. Bagaimanapun tingkat pendidikan dan status ekonomimu. Wahai manusia, riset sudah membuktikan lagi dan lagi. Apapun agamamu, etnikmu, kepercayaanmu. Semua kamu bisa hidup bermakna dan bahagia.”

Positive Psychologi dan Neuroscience sudah datang. Dibantu oleh arkeologi dan ilmu sejarah untuk membongkar masa silam. Ditambah kosmologi dan fisika untuk memahami asal usul semesta. Diperkaya oleh ilmu ekonomi, politik dan statistik untuk melengkapi riset.

Paket ilmu pengetahuan di atas sudah menguji melalui ribuan riset berkali- kali. Disimpulkan sejumlah mindset dan habit yang dapat membuat hidup homo sapiens bahagia dan bermakna.

Ini zaman baru. Kemajuan seperti di zaman ini tak pernah terjadi sebelumnya. Tapi zaman baru juga membutuhkan spiritualitas baru.

Ini era ketika Higgs Boson, atau partikel Tuhan ditemukan di tahun 2012. Semakin jelas dan lengkap sudah standard model of particle physics. Ilmu semakin kuat mampu menjelaskan mengapa lahir alam semesta, hadirnya bintang, bulan, dan akhirnya lahir mahluk punya kesadaran: manusia? (3)

Ini zaman ketika CRISPR ditemukan. Manusia sudah mampu mengedit gene DNA. Kini ilmuwan sedang menciptakan jenis kuda baru yang larinya lebih cepat, dan tenaga lebih kuat. Jika tak ada halangan dari komisi etik, bahkan DNA bayi manusia bisa pula dikutak katik agar lahir species baru homo sapiens yang lebih unggul (4)

Ini fajar bagi Face Transplant. Wajah seorang petani berusia tiga puluhan rusak berat karena kecelakaan di Spanyol. Kini wajahnya berhasil diperbaiki. Tak nanggung-nanggung. Orang yang sudah mati yang sempat mendonorkan wajahnya, wajah orang mati itu dipindahkan kepada wajah di petani. (5)

Ke depan, pecinta wajah bintang film, olah ragawan, politisi ulung, sejauh diizinkan, bisa menghidupkan dan memindahkan wajah itu pada wajahnya.

Ini suasana bagi Internet of Everythings (IOE). Segala kejadian dan peristiwa di seluruh dunia, bisa terkoneksi secara real time. Hanya memencet tombol handphone di Jakarta kita bisa menyaksikan Live Noah Yuval Harari sedang memberikan kuliah di satu ruangan di Amerika Serikat. (6)

Ini era ketika artificial inteligence sudah tumbuh sedemikian rupa. Pemain catur paling jenius bisa dikalahkan oleh komputer. Software dan robot dengan artificial inteligence segera pula menggantikan profesional dan analis keuangan. (7)

Para ahli sudah mendiskusikan. Dalam tahun tahun kedepan, mata kuliah accounting dan financial management mungkin hanya perlu diajarkan sekedar. Itu karena pekerjaan keuangan itu akan lebih akurat dan cepat dikerjakan oleh artificial inteligence.

Di atas semua itu, kitapun terperangah. Kita segera menjadi generasi terakhir homo sapiens. Setelah generasi kita, aneka chip komputer, artificial inteligence segera dicangkokan pada tubuh dan otak manusia.

Abrakadabra. Datanglah homo sapiens jenis baru: setengah manusia, setengah artificial inteligence. Setengah daging dan tulang, setengah silikon. (8)

Dalam sejarah sudah kita saksikan. Zaman yang berubah juga membutuhkan spiritualitas yang baru, yang lebih sesuai dengan evolusi kesadarannya.

Apa itu spiritualitas baru abad 21, narasi ilmu pengetahuan? Jelas, Ia bukan agama. Apalagi, ia bukan pula untuk untuk menggantikan agama. Sebaliknya, spiritualitas baru justru dapat memperkuat agama yang ada.

Dalam 200 ribu tahun evolusi kesadaran homo sapiens, kita dapat membaginya dalam tiga gelombang spiritualitas .

Yang kita sebut dengan spiritualitas baru, ia adalah panduan hidup bahagia dan bermakna, yang diseleksi oleh riset ilmu pengetahuan. Darimanapun sumber panduan hidup bermakna itu, ia hanya diterima setelah terbukti dan dikonfirmasi oleh riset berkali- kali, di banyak tempat.

Riset empirik menjadi kata kunci spiritualitas baru ini, spiritualitas gelombang ketiga.

Spiritualitas gelombang satu itu narasi mitologi. Segala penjelasan yang menyangkut pertanyaan eksitensial dijelaskan dengan perpektif mitologi. Ia dinarasikan dengan fantasi mitos oleh seorang shaman, atau tetua suku yang dianggap sakti.

Mitologi kata kunci spiritualitas gelombang satu.

Sedangkan spiritualitas gelombang kedua itu narasi wahyu. Hal ihwal asal usul kehidupan dan akhir zaman, diyakini oleh pemeluknya, dititahkan langsung oleh yang Maha Kuasa, melalui melaikat kepada Nabi.

Wahyu Tuhan menjadi kata kunci spiritualitas gelombang kedua.

Agama yang kini hidup yang berdasarkan narasi wahyu: Islam, Kristen dan Judaisme baru berusia tiga ribu tahun. Sedangkan positive psychologi dan Neuro science baru berusia sekitar 70 tahun.

Dalam rentang 200 ribu tahun perjalanan kesadaran homo sapiens, selama 197 ribu tahun, kita hidup dalam spiritualitas gelombang satu, narasi mitologi. Dengan kata lain, sepanjang 98 persen usia homo sapiens, kita menyembah mulai dari ular piton, beruang, ikan Paus hingga aneka dewa.

Baru selama 3000 tahun, homo sapiens hidup dalam narasi wahyu, dan menyembah yang Maha, yang Satu. Itu artinya baru 1, 5 persen, atau kurang dari dua persen dari sejarah homo sapiens, kita mempraktekkan Monotheisme, seperti yang kita kenal sekarang.

Spiritualitas baru itu baru dirintis sejak 70 tahun lalu. Berarti baru 0,4 persen dari sejarah homo sapiens, kita menjadikan riset ilmu pengetahuan sebagai selektor panduan hidup bermakna dan bahagia.

Saya meringkas panduan spiritualitas baru itu dalam fomula 3P + 2 S. Ini formula hanya untuk mudah diingat saja.

Semua homo sapiens, apapun identitas sosialnya, walau ia terpilah dalam 4300 agama, 195 negara, dan 6500 kelompok bahasa, mereka semua dapat hidup bermakna dan bahagia, sejauh menerapkan mindet dan habit 3P+ 2S.

Itu adalah Personal relationship, Positivity, Passion, Small Wining dan Spiritual Blue Diamonds. Detail mengenai lima prinsip di atas dijelaskan di dalam buku.

Buku ringkas ini intisari 40 tahun perjalanan spiritual dan intelektual saya. Sejak tahun 1980an, di usia mahasiswa, saya menjadi seorang pelancong spiritual. Aneka agama besar: Islam, Kristen, Hindu, Budha, saya pelajari. Ditambah pula dengan Theosophy, Krishnamuri, Perenial Philosophy, Swami Vivakananda, Osho, Subud hingga Ki Ageng Surya Mentaram.

Sejak tahun 2000an, saya menekuni terutama riset positive psychology. Aneka riset mengenai hidup bahagia dan bermakna saya renungkan. Hingga akhirnya disusun World Happiness Index oleh PBB sebagai ukuran kemajuan negara. Negara hanya dianggap maju, jika juga membuat warga negara bahagia.

Sayapun berendam di pertemuan dua samudera: samudera spiritualitas dan samudera ilmu pengetahuan. Saya renungkan dan saya rangkum intisari dan panduan hidup bahagia dan bermakna.

Formula 3P + 2S dikemukakan buku ini panduan mindset dan habit spiritualitas baru, gelombang tiga. Ia sepenuhnya narasi ilmu pengetahuan, untuk hidup bahagia dan bermakna.

S terakhir dari formula 3P + 2S adalah Spiritual Diamonds. Itu tiga berlian biru paling berharga yang ditemukan dalam samudra spiritualitas. Itu istilah orsinal dalam 40 tahun journey spiritual saya.

Banyak agama besar dan Stoic Philosophy menjadi rahim dari tiga berlian biru itu. Berlian biru Kebajikan (Virtue). Berlian biru Power of giving. Dan Berlian biru the Oneness: kesatuan manusia dengan manusia lain, lingkungan hidup dan misteri alam semesta.

Ketika hukum dan dinamikan sosial memilah manusia kedalam aneka identitas sosial, terbelah dalam 195 negara, 4300 agama, dan 6500 kelompok bahasa, Spiritual Blue Diamonds justru mengingatkan kesatuannya:

Satu Bumi, Satu Homo Sapiens, Satu Spiritualitas.

Terhidanglah renungan dalam buku ini. Terhidanglah renungan Rumi: “Mulailah perjalanan panjang masuk ke dalam dirimu sendiri.”

Oleh : Denny JA, konsultan politik dan tokoh media sosial.

News Feed