by

Menghadapi New Normal di Pedesaan, Saat Pandemi Covid-19

Opiniindonesia.com – Segala upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan instansi lainnya untuk memutus rantai penyebaran covid-19 dari mulai PSBB sampai ke pemberian perkuliahan secara daring ternyata kurang berhasil membentengi pandemi berlangsung. Hingga akhirnya Pemerintah menyampaikan akan dimulainya penerapan new normal  yang mana pemerintah mengharapkan new normal dapat memperbaiki kerugian-kerugian negara akibat covid-19.

Dalam fase penerapan new normal mengamankan lingkungan desa agar tetap aman dan nyaman dilakukan melalui kerja sama instansi perangkat desa dengan masyarakat dan kepatuhan masyarakat terhadap instansi desa, serta pola budaya masyarakat desa. Mendapatkan lingkungan yang baik sudah menjadi hak masyarakat yang tercantum  di dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 yang berbunyi “ Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Desa sebagai unit pemerintahan terkecil negara dalam membangun  infrastruktur maupun psikis pemberdayaan masyarakat, sekaligus garda terdepan suatu bangsa. Dengan budaya desa yang kental sampai saat ini adalah budaya gotong royong dan ramah tamah masyarakat desa. Sebab Covid-19, budaya desa ini kian lama makin berubah selama pandemi ini berlangsung seperti hari raya yang membuat kita tidak dapat berkumpul dan terkesan sepi. Oleh karena itu, Desa sebagai pemutus rantai penyakit pandemi covid-19 dalam menghadapi fase new normal.

Dengan kolaborasi perangkat desa dengan instansi pemerintahan lainnya untuk menyalurkan penegakan hukum seperti pembentukan relawan siaga covid-19 dan solusi atas kinerja masing-masing instansi tetapi juga dapat diperkuat dengan gerakan masyarakat untuk berpartisipasi menghadapi pandemi covid-19. Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri tanpa masyarakat, begitu pula pemerintah harus komitmen ,tegas dan bertanggung jawab. Maka dari lingkup kecil inilah kita harus memulai membentengi wilayah termasuk  lingkungan desa, dan pola sesuai protokol kesehatan new normal.

Penerapan protokol new normal harus mengikuti adat istiadat dan kearifan lokal dalam suatu desa dengan prinsip terbuka, sederhana dan jelas, serta partisipatif. Protokol kesehatan new normal desa tidak jauh dari protokol kesehatan sebelumnya ,hanya saja bedanya fase new normal ini masyarakat dapat beraktivitas kembali. Tanggung jawab desa tetap ada yaitu membimbing masyarakat dengan edukasi penanganan siaga covid-19 new normal, dan memfasilitasi pencegahan covid-19 berupa fasilitas tempat cuci tangan air mengalir dengan sabun, fasilitas disinfektan tempat umum, fasilitas kesehatan untuk penanganan warga yang sakit. Dari masyarakat juga harus patuh terhadap protokol kesehatan new normal demi keselamatan bersama. Walaupun merujuk fase new normal bukan berarti masyarakat melunturkan budaya kearifan lokal, kita boleh menjaga jarak tapi beradab. Jaga jarak minimal 1 meter dengan masker bukan menghalangi sosial masyarakat, tetap menyapalah dengan tanpa menyentuh kontak fisik lawan. Menyapa adalah bentuk budaya masyarakat desa , diharapkan tidak luntur dimakan zaman, tidak luput juga budaya lain harus diterapkan yaitu budaya sehat, bersih dan displin. Protokol new normal desa diharapkan memiliki perubahan sikap dan perilaku masyarakat sadar kesehatan dan lingkungan berdampak baik untuk kedepannya.

Oleh : Noviana, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung.

News Feed