by

Agama Itu Candu, Tuhan Tidak Masuk Akal, dan Doktrinasi Muso

Opiniindonesia.com – Semakin menyelami isi buku ini semakin bergidik punggung ini. Tapi, pada saat yang sama semakin terang benderang sejarah ini.

BANJIR DARAH memanglah benar-benar buku yang bercerita kisah-kisah tentang tumpahnya berliter-liter Banjir Darah. Yang menarik, cara melukiskannya. Semua kekejian itu diceritakan dengan bahasa sastra yang sangat sublim.

Keren benar penulis buku ini, Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, yang bisa mengemas sebuah penulisan sejarah yang penuh kekerasan menjadi bacaan yang enak dibaca dan nagih! Kita seperti sedang membaca novel.

Tapi ini bukan novel atau dongeng, ini cerita nyata. Kisah sejarah!

Berdasarkan kesaksian langsung para penyaksi yang masih hidup sampai hari ini, yang menyaksikan betapa banjir darah di berbagai kota itu begitu nyata dan tetap terbayang di penglihatan mereka hingga kini.

Termasuk kesaksian tentang doktrinasi ke kaum abangan oleh Muso dengan pementasan ludruk “Gisti Allah Wis Mati” di berbagai kota. Juga doktrin Agama adalah “Candu, Tuhan itu Tidak Masuk Akal”, yang dengan sangat sukses disebarluaskan Muso untuk menancapkan langsung doktrin yang paling mengerikan dari gurunya, Joseph Stalin itu di otak para pengikutnya.

Muso, yang anak Kiai pesantren besar di Pagu, Kediri itu, memang pernah lama tinggal di Soviet, berinteraksi langsung dengan Stalin, terlibat dalam rapat-rapat internasional PKI, dan ikut menyaksikan langsung bagaimana pola-pola pembantaian yang dilakukan oleh penganut komunis terhadap lawan-lawannya. Bagaimana bentuk-bentuk teror kemanusiaan dilakukan dengan beragam cara.

Ya, Muso adalah anak kandung ideologis langsung dari Stalin. Jadi, wajar pola pikir, aksi, dan kekejamannya tak jauh dari gurunya. Muso adalah Stalinnya Indonesia dengan negaranya Republik Soviet Indonesia yang berbasis lokasinya di Madiun.

Telinganya juga mendengar langsung berkali-kali bagaimana Stalin selalu memberi doktrin tentang revolusi darah: pun tak mengapa dilakukan asal komunisme bisa hidup.

“Tak mengapa 3/4 manusia kita bunuh. Asal 1/4 sisanya yang hidup adalah orang komunis. Tidak mengapa kalau demi tujuan itu harus melangkahi 30 juta mayat dan sungai darah.”

Doktrin itu yang menancap kuat dan akhirnya dipraktikkannya sejak mendirikan Negara Soviet Indonesia pada 18 September 1948 di Madiun dengan mengangkat DN Aidit sebagai Sekjen FDR (Front Demokratik Rakyat).

Njoto adalah tokoh lain, teman dekat Aidit, yang pandai bersastra. Dialah yang menciptakan slogan puisi yang fenemonal yang menjadi sumber penggerak anggota PKI: “pondok bobrok, langgar bubar, santri mati!”

Dengan rima yang ritmis, slogan ini sangat enak didengar telinga dan mendebarkan ketika diteriakkan berulang-ulang. Punya kekuatan yang sangat magis dan powerfull.

Buku yang sangat layak dibaca oleh mereka yang ingin tahu lebih dalam sejarah. Sejarah dibalik sejarah.

Kisah-kisah yang belum terungkapkan sepanjang masa. Buku ini mengungkapnya dengan terang benderang!

Semua santri Pondok Gontor terutama, rasanya wajib membaca buku ini. Karena akan tahu sejarahnya bagaimana Kiai Sahal, Kiai Zarkasi, membawa santri-santri keluar masuk hutan, naik gunung, masuk goa-goa untuk menyelamatkan semua penghuni pondoknya.

Sebuah buku yang fenomenal. Yang mengungkapkan kebenaran dengan cara sastrawi. Siap-siap saja banjir air mata, meski tak melihat langsung banjir darah.

Oleh : Among Kurnia Ebo, Pecinta sastra dan traveller di 6 benua 84 negara

News Feed