by

Klarifikasi Menag yang Semakin Memancing Reaksi Umat

Opiniindonesia.com “Saya melihat orang, mohon maaf saja, waktu jadi (pasukan) perdamaian di Timur Tengah. Menangis saya, lihat orang berkelahi. Allahu Akbar, Allahu Akbar, bunuh-bunuhan, Allahu Akbar dengan penuh kebencian. Kita (Menag, red) lihat lah itu. Kita (Menag) harapkan jangan ada muncul di Indonesia ini. Untuk itu kita coba tata baik-baik, sama-sama-sama,” [Fachrul Razi, 8/9/2020].

Wajar jika sejumlah pihak mempertanyakan agama menteri agama, Fachrul Razi. Sebab, agak sulit dicari alur logikanya, seorang Menag, beragama Islam, lantas mengajak umat untuk mencurigai Hafidz, yang fasih bahasa Arab dan rajin ke Masjid, sebagai bibit radikalisme.

Boleh lah untuk membela diri, menjelaskan diri lahir dari keluarga perantau Minangkabau yang berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, agar orang mempercayai keislamannya. Boleh juga, menegaskan diri sejak di taruna militer telah aktif berjuang untuk Islam.

Tapi apa maksudnya mengaku melihat bunuh bunuhan di Timur Tengah dengan saling mengucapkan takbir ? Apakah ini bagian dari tuduhan lagi terhadap kalimat takbir ?

Apa urusannya, kalaupun itu terjadi dikaitkan dengan Indonesia ? Apa urusannya, bunuh bunuhan dengan hafidz ? Bunuh bunuhan dengan fasih berbahasa Arab ? Bunuh bunuhan dengan rajin sholat ke masjid ?

News Feed